Tuesday, December 28, 2004

Just think...



Indonesia hari-hari ini berduka... hanya dalam waktu singkat ribuan jiwa melayang di Aceh. Kalau sudah begini kita baru sadar kita ini bukan siapa-siapa, jiwa kita hanya di ujung tanduk. Begitu mudah nyawa kita melayang jika Ia menghendaki.
Lalu apa yang bisa kita sombongkan....

Tuesday, December 21, 2004

Kotak

Rasanya saya harus berterimakasih pada seseorang, terhadap apa yang ia perbuat pada saya hari ini. Sebenarnya ia tidak melakukan sesuatu yang berdampak seperti apa yang ia inginkan, tapi itulah hikmah yang saya dapat. Tadi sore seperti biasa Adi selalu meninggalkan Yahoo messenger-nya dalam keadaan menyala, sebenarnya ini kurang baik juga karena teman saya yang ini mejanya terletak dijalan umum yang sering dipakai pegawai lain lalu-lalang. Lalu -entah bagaimana- awalnya ada yang mulai iseng, menjawab YM-nya si Adi tadi dan mulai ada yang tertawa karena si "teman chat-nya" marah, saya tidak tahu duduk perkara itu yang jelas ketika saya duduk di kursi dekat meja Adi ada message bertanya... kamu siapa? muncul rasa iseng juga, sudah jelas-jelas lagi chat dengan Adi masih nanya. Saya tanya balik "kamu siapa?" terus begitu tapi ia sendiri tidak mengenalkan dirinya, jelas saja saya pun tidak mengenalkan diri.... tiba-tiba keluarlah "nasihat-nasihat" bahwa begini akan dihitung amalnya oleh Allah walaupun hanya sebesar zarah... dan sebagainya. Kemudian saya jadi bingung kok begitu jadinya? dan terus begitu hingga salah seorang rekan saya mengambil alih, ada perasaan tidak suka timbul dihati. Kenapa begitu... mengapa terlalu serius menanggapai sesuatu dan menilainya dalam perspektif hitam-putih.

Saya bahkan sempat bilang "Saya tidak suka sikap seperti ini, dia pasti akan sulit diterima dimasyarakat. Kasihan karena masyarakat akan selalu curiga pada orang seperti ini." Suatu pendapat yang saya pikir wajar, karena dalam frame yang dibentuk oleh media saat ini sikap-sikap tidak bersahabat seperti itu akan memicu perasaan curiga dan menyangka kita sebagai islam fundamentalis dan maaf kasarnya teroris. Tapi kemudian jauh setelah itu saya menjadi tersadar... bahwa dengan pikiran saya yang seperti itu sebenarnya saya tidak berbeda dengan dia, perbedaannya hanya kita berada dalam dua titik ekstrim. Ya dua titik ekstrim...

Kehidupan saya akhir-akhir ini membuat saya menjadi lebih moderat. Saya bisa menerima perbedaan seperti apapun dalam beragama ,asalkan ia tidak mempermasalahkan saya duluan. Toh memang islam itu warna-warni. Ada banyak variasi dalam islam dan memang jika hal itu tidak mengganggu akidah hal itu tidak perlu diperdebatkan, kita bisa jalan masing-masing dengan saling menghormati. Namun batasan-batasan seperti itu yang terasa makin kabur dalam fikiran saya, dan saya pribadi mulai menganggap diri berbeda karena merasa lebih moderat. Justru disinilah masalahnya saya mulai membangun sebuah kotak disekeliling saya, berusaha melindungi diri dari pengaruh luar. Sesuatu yang berusaha saya tentang dan lawan... sebuah kotak!
Sebenarnya kotak dan pengkotak-kotakan itu sudah menjadi fitrah setiap manusia yang kemudian menjadi awam dikenal di marketing sebagai segmentasi, fragmentasi bahkan clusterisasi. Kita mencoba selalu untuk membentuk sebuah kotak dan memandang dengan rasa takut untuk keluar dari kotak yang kita buat, kotak yang memenjarakan otak dan fikiran kita. Padahal Allah dengan sengaja menciptakan kotak-kotak dan perbedaan-perbedaan itu untuk membuat kita terdorong untuk saling mengenal, sehingga kita dapat menjadi lebih arif dalam hidup. Mengapa?
Karena kita tidaklah istimewa
sebab kita semua sama,
sama-sama unik dan berbeda.

Tuesday, December 14, 2004

Seputar marah



Apa sih sebenarnya yang membuat kita marah? Ada yang pernah bilang
kalau ia dimarahin orang didepan umum, ada juga yang jika sesuatu
yang nggak pada tempatnya mampu memancing kemarahannya dan juga
beberapa alasan lain yang mungkin juga sering kita rasakan.

Untuk itu hari minggu, 12 Desember lalu Psikopop membahas tentang
hal-hal penyebab kemarahan kita. Pertemuan kali ini ini dipandu
seorang psikolog -Mbak Hesti namanya-, dalam dialog Mbak Hesti
menyimpulkan bahwa segala hal yang memancing perasaan marah kita
berakar pada tidak tercapainya harapan-harapan kita. Seringkali
tidak tercapainya harapan-harapan ini menimbulkan reaksi negatif
seperti perasaan kesal, berkata kasar, bad mood hingga -kasarnya-
ngamuk.

Nah dari sinilah kita tahu bahwa ada sejenis "energi" yang apabila
kita dapat alihkan maka ia menjadi semacam energi positif yang
bersifat konstruktif, seperti adjie yang kalau kesal terkadang
memilih untuk bersih-bersih kamar atau Ana yang menyimpan perasaan
kesal terhadap seseorang dan mengubahnya menjadi energi untuk
mengubah dirinya menjadi lebih baik lagi. Selain pengalihan kita
juga bisa mengupayakan mengatasi rasa marah dengan mengenali sumber
kemarahan dan berupaya meredamnya, misalkan jika kita memiliki
harapan yang terlalu tinggi kita bisa mengatasinya dengan mengurangi
harapan tersebut.
Upaya mengatasi rasa marah pada intinya terpulang pada diri kita,
bagaimana kita mau untuk mengubah "mindset" atau cara pandang kita
terhadap suatu masalah.