Saturday, December 17, 2005

man of mistery

Image hosted by Photobucket.com
ini foto gw difoto pake timer, biasa... iseng dikantor :D

Friday, December 16, 2005

Quotes of The Day

"...karena template seperti pelacur, mereka dirancang untuk dipakai berkali-kali. Terkadang template dipakai secara kasar bahkan tanpa seni sama sekali..."

Thursday, December 15, 2005

Thursday, December 08, 2005

SOP

Siang tadi Pak Ijal tanya, "sudah bikin SOP belum?"
"belum" jawab Sony, seorang desainer muda yang beranjak dewasa.
"belum? katanya mau bikin advertising yang bener? kemarin alasannya sibuk ngurusin milad, ngurusin kios internet lah... sekarang alasannya apalagi?"
"Ya saat ini kita sedang ngegarap beberapa produk, dan saat ini kita coba menerapkan advertising yang bener itu disini"
"Seperti apa itu?"
"Ya kita buat prosesnya dalam penggarapan kreatifnya"
"Terus..." sambung Pak Ijal sambil mengoret-oret white board.
"Kita coba mengumpulkan data meliputi konsumen, histori perusahaan, produk dan kompetitor"
"hmmm..."
"Kemudian kita coba mencari insight dari konsumen, setelah ketemu kita coba proses branding dan menemukan missing link dari proses komunikasi antara merek dan konsumen, dan itu adalah bahasa yang kita gunakan. Biasanya bahasa itu berupa value proposition"
Teman-teman kelas hari itu tertawa, Pak Ijal tersenyum... sambil tetap meneruskan coret-coretnya di white board. Bukan apa-apa Sony jarang berpenampilan dan mengeluarkan kalimat seserius tadi... biasanya hanya joke-joke yang -kata teman-temanya- "dry banget".
"kamu tahu? ya itulah SOP!"
Nampaklah skema di white board, urut-urutan proses yang baru saja dikatakan Sony. Rupanya Pak Ijal menerjemahkan kata-kata Sony menjadi sebuah SOP.
"Ohhh SOP itu, yang kayak gitu ya...." sambung Sony polos sambil mengangguk-angguk.
"SOP itu bukan hal yang rumit, apa yang biasa kita lakukan sebenarnya itulah SOP, ketika kita bangun kemudian disambung mengambil koran dan menyuruput secangkir kopi itulah SOP!" Pak Ijal kemudian menjelaskan.
"Ah saya kira SOP jauh lebih rumit dari itu, harus betul-betul detail langkah perlangkah"
Satu ilmu lagi yang saya dapat hari ini, ternyata menganggap satu pekerjaan sulit kemudian menunda-nundanya justru tidak menghasilkan apa-apa. Jalan saja, seperti apa kata Michael Jordan dalam bukunya "Boleh gagal, tapi jangan takut mencoba". Kegagalan itu pasti, tapi biasanya keberhasilan akan hadir setelah kegagalan, seperti firman Allah bahwa dibalik kesukaran pasti ada kemudahan...
Dan kalau tidak berani mencoba? Kita tidak akan pernah tahu akhirnya dan hanya akan berhenti sampai disini...
begitu batin Sony.

Thursday, October 27, 2005

Belajar bersyukur

Assalaamu'alaykum wR.wB.

Halo semuanya... Gimana nih, kabar shaumnya? Awalnya
aku janji ama Adjie und aHend mo nyeritain suasana
Ramadhan disini lewat blog. Tapi nyaan, aku lagi
bener2 gak ada inspirasi buat nulis. Belum lagi tugas2
dari tempat les, dan sekarang ujiannya tiap pekan
sekali :( Kalo nulis sepulang sekolah, waktu buat
nyiapin ifthar berkurang. Ntar laki gue gak bisa
langsung makan :)) Karunya, pan?

Hmm, mulai dari mana yaa? Gimana rasanya Ramadhan di
sini? Oke, aku coba jawab...
Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan pertamaku menjadi
seorang istri dan juga pengalaman pertamaku shaum di
luar negeri. Yang dulunya aku gak pernah ikut nyiapin
sahur ato ikutan masak buat ifthar, maka mulai tahun
ini dan seterusnya insyaAllah, aku mesti nyiapin sahur
ama iftharnya :). Yang dulu gak bingung masalah
makanan, sekarang mesti mikirin menunya juga. Mo masak
apa hari ini, berikut mo bikin apa buat ta'jilnya ..

Alhamdulillah dari mulai awal Ramadhan sampe saat ini,
aku gak terlalu susah untuk beradaptasi masalah fisik.
Rasa lapar dan haus lebih gak berasa dibanding kalo
shaum di Indo. Meski banyak sekali orang yang makan
minum di depan kami, tapi Alhamdulillah teu kabita2
acan. Apalagi dengan waktu shaum yang gak terlalu
panjang.. Mungkin malah normal seperti waktu Indo...
Awal Ramadhan shubuh sekitar jam 5.48, maghrib sekitar
jam 19.00, sedangkan hari ini shubuh sekitar jam 6.17,
maghrib jam 18.22.
Tapi masalahnya adalah di suasana. Rasa khusyu'-nya
yang aku gak dapet. Kalo di Indo, atmosfer Ramadhan
begitu kental terasa. Sementara disini , menjalankan
Ramadhan rasanya seperti shaum sunnah. Buatku kurang
gregetan.. Baru berasa Ramadhan-nya kalo ngumpul
bareng orang2 Indonesia lainnya di Frankfurt setiap
hari Sabtu ama Minggu. Di sana kami tadarus bersama,
dengerin ceramah 2 bahasa -Jerman ama Indonesia-
(karena ada juga muslim Jerman yang ikut gabung bareng
kami), ifthar bersama, sampe tarawih jama'ah.
Terkadang ada rasa sedih yang bergelayut di hati.
Ramadhanku tahun ini serasa hilang makna... gak bisa
tarawih jama'ah setiap hari di masjid, ibadah berasa
kurang khusyu', hafalan ayat2-Nya gak bertambah tambah
aja.. Akankah aku mendapat rahmat dan maghfirah-Nya?
Akankah aku dapat kembali fithrah? Akankah aku bertemu
dengan bulan mulia ini lagi?
Jauh dari keluarga.. jauh dari kerabat.. jauh dari
sahabat2 terdekatku.. Meski aku tau benar bahwa ini
adalah konsekuensi yang harus aku jalani. Sekarang
keluargaku adalah disini.. dengan suamiku. Tapi
rasanya wajar dan manusiawi kalo aku berkeinginan
untuk berkumpul dengan keluarga besarku..

Tapi hari ini aku menemukan sesuatu yang menarik.
Temenku, gadis Katholik asal Peru, cerita bahwa hari
Sabtu lalu dia coba untuk ikut menjalankan puasa.
Seharian gak makan, awalnya mo ngebatalin.. tapi dia
pikir sayang, dan mencoba untuk bertahan, Akhirnya
sukses, dia bisa puasa dari waktu subuh sampe waktu
maghrib. Dia bilang hari terakhir Ramadhan dia akan
coba untuk puasa lagi :) Dan pas sepulang sekolah
tadi, dia bilang, " Diana.. saya percaya akan adanya
Tuhan. Tapi saya ingin tau agama lain itu seperti apa.
Saya ingin tau tentang Islam. Saya pikir ini
menarik.."
SubhanaLlah.. Aku agak tertegun juga.. Soalnya dia
pernah cerita bahwa dia berasal dari lingkungan
Katholik yang taat. Masalah hidayah memang urusan
4JJI, tapi kan jadi kewajiban kita untuk menyampaikan
ajaran Islam. Maka aku berencana untuk ngajak dia ke
Masjid arab hari Sabtu ini. Disana insyaAllah ada
acara akikahnya orang Palestina. Aku ingin dia liat
gimana muslim itu sebenarnya.. Aku juga ingin ngajak
dia ke acara di Frankfurt, tapi sayangnya malem2..
Takutnya dia gak boleh keluar ama keluarganya kalo
malem2 gitu (mengingat biasanya aku kalo pulang dari
Frankfurt, sampe rumah jam 11 malem). Mungkin saat
Halal bil halal ato pengajian rutin seperti biasanya
yang waktunya siang2.
Sambil jalan pulang ke rumah aku berpikir.. Gimana
caranya menyampaikan Islam secara baik, benar, dan
gamblang dengan bahasa Jermanku yang masih minim ini?
Dan toh kalo seandainya aku sudah menguasai bahasa
Jerman pun, pertanyaannya berubah menjadi apakah aku
telah memahami Islam secara sempurna? Apakah aku telah
berusaha untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran2
Islam secara kaaffah?

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami
condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk
kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari
sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha
Pemberi (Karunia)."

===================
Diana R. Sabirin
Neckarstr. 22, App. 45
64283 Darmstadt
Germany
===================
Ini email dari seorang teman yang memulai ramadhan kali ini dinegri orang, nggak kebayang kalo gw yang harus bingung sendirian karena diantara orang kebanyakan gw lah yang paling aneh. Nggak ada apa-apa tapi nggak mau makan sementara orang lain nggak ada yang tahu bahwa di bulan ramadhan semua muslim harus berpuasa. Ada juga teman di KL yang kalau mau sholat tarawih terpaksa naik taksi karena masjid terdekat terletak dekat Petronas dan kalau dia mau nekat jalan ya... nggak bakalan keburu. Masjid-masjid di KL jauh-jauh katanya walau dia menyambung dengan ya... sebenarnya kurang niat aja hehehe... Bagaimanapun ramadhan dan pada akhirnya lebaran di negeri sendiri khususnya lagi kampung sendiri lebih menyenangkan. Terbayang keriangan dan kegembiraan yang selalu kita dapat, bisa pergi bareng sholat tarawih dengan keluarga atau teman di masjid kampung terdekat, ramai-ramai keliling kampung untuk membangunkan orang sahur, sholat subuh berjamaah yang pada bulan ramadhan masjidnya ramai. Jarang terjadi di hari-hari yang lain.

Di sebuah distro saya sempat ngobrol dengan seorang kru-nya dia bilang sedih ramadhan hampir selesai, dia merasa ada suasana berbeda yang ia rasakan saat ramadhan terutama bisa makan teraturnya.
Ramadhan mempunyai jejak yang berbeda pada setiap orang tidak perduli siapa dan dimana ia. Makanya gw jadi bersyukur banget tahun ini bisa menikmati ramadhan, nggak perlu panik ngejar-ngejar deadline sampai harus ngelembur dikantor seperti tahun-tahun sebelumnya, nggak perlu pergi-pergi bantuin event hingga ibadah terganggu. Saat ini bahkan di 10 hari terakhir kami diberi waktu khusus untuk memperbanyak ibadah dikantor yang pada tahun ini Allah berikan tempat baru yang nyaman dibawah manajemen baru. Kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki hari ini, karena dengan itu hidup terasa lebih ringan.

Friday, September 30, 2005

Bukan orang biasa

Rencana mau ikutan klab desain, apa daya nggak ada yang datang :)
Tapi nggak sia-sia banget kedatangan gw, setidaknya gw bisa menikmati pameran fotonya OQ dengan lebih leluasa... yups! Pas gw datang pamerannya udah tutup karena hanya dari jam 11:00-18:00, tapi karena kenal dengan mbak tarlen dan kebetulan pintunya nggak dikunci ya gw bisa masuk (^_^)v

Image hosted by Photobucket.com
Cuma ada sekitar 15-an foto, difoto dengan kamera Haselblad (makanya fotonya bujursangkar) semua hitam putih dan dengan teknik yang rada aneh, rata-rata foto yang ditampilkan blur. Tapi uniknya efek blur yang dihasilkan asik banget! Asli bukan foto salon, OQ juga nggak "ber-gimmick ria" mengumbar teknik. Setiap foto yang saya lihat -entah kenapa- terasa kuat, aura yang tertangkap rada gloomy. Kalau bisa dibandingkan dengan musik mungkin seperti radiohead, lain band ataupun the milo. Lagipula OQ juga mengangkat sisi-sisi manusia yang sanggup bertahan dalam himpitan perubahan jaman yang serba cepat. OQ menamakan orang-orang tersebut "bukan orang biasa" yang menjadi tajuk dalam pameran perdananya ini.

Dalam obrolan dengan Mas Heru yang kebetulan ada disana, karya OQ ini hanya bisa terasa sulit bagi orang yang memahami fotografi. Sebagian pengunjung meremehkan foto yang menurut mereka dihasilkan dengan manipulasi digital, tapi nggak kata Mas Heru. Foto-foto itu dihasilkan dengan teknik manual, bahkan cetaknya -yang saya kira semula cetak digital- ternyata cetak manual disatu tempat cetak foto BW di daerah Kemang Jakarta. Saya malah sempat berfikir bagaimana ada orang yang bisa begitu merendahkan, kalau pernah belajar foto pasti tahu untuk mendapatkan satu foto biasa yang tajam saja sulitnya minta ampun. Apalagi blur yang asik! Itu perlu pengetahuan teknik, pengenalan kamera juga faktor "luck".
BTW salut banget buat OQ yang berdedikasi penuh sampai-sampai dia rela menjual salah satu lensanya buat membiayai pamerannya ini. Kalau ada yang ingin lihat pamerannya masih kok:
BUKAN ORANG BIASA
karya OQ
27 Sept-10 Okt 2005
11:00-18:00
common room
kyai gede utama 8 bandung

Sunday, September 25, 2005

Mystical Bride

Image hosted by Photobucket.com

Chip Foto-Video edisi Agustus/September 2005, satu dari tiga Photo OF The Month Contest.
Alhamdulillah...

Wednesday, September 21, 2005

Dari Hati

CLUBEIGHTIES

andai engkau tahu
bila menjadi aku
sejuta rasa dihati
lama tlah kupendam
tapi akan kucoba mengatakan

reff:
ku ingin kau menjadi milikku
entah bagaimana caranya
lihatlah mataku untuk memintamu
ku ingin jalani bersamamu
coba dengan sepenuh hati
ku ingin jujur apa adanya
dari hati

kini engkau tahu
aku menginginkanmu
tapi takkan kupaksakan
dan kupastikan
kau belahan hati bila milikku
reff

menarilah bersamaku dengan bintang-bintang
sambutlah diriku untuk memelukmu
reff:
------------------------------------------------------------------------------------
Selain lagu-lagu soundtrack-nya janji Joni dan Ten2Five sekarang lagu ini lagi jadi fave buat didengerin di kantor.

Tuesday, September 20, 2005

Quotes of the day

"Jodoh itu kayak rejeki, nggak bakalan datang kalau nggak dijemput. Tapi kalau memang sudah saatnya datang ya datang."
dialog cheung_abdurahman dengan abanggeh disuatu ketika di dunia cyber

Sunday, September 18, 2005

Kemilau nusantara

"Ji di Pusdai lg ada acara kemilau nusantara edan rame bgt kontingen semua propinsi ada. lu bs foto2 ji. skrg sih masih persiapan pd latihan. eddy."

Image hosted by Photobucket.com
Sms Abang pagi-pagi membangunkan saya yang sedang tidur nyenyak, hehehe gw lagi kumat tidur malemnya (dan otomatis bangun siangnya). Males-malesan saya bales dengan pesan singkat "ntar dah rada siangan gw mau nerusin tidur", namun dua telepon berturut-turut dari Abang mau nggak mau memaksa saya berfikir "seheboh apa sih acaranya". Dengan bergegas, persiapan pagi sekadarnya saya berangkat dengan membawa Camedia C-150.

Sesampainya disana... edan! Gw nyesel nggak persiapan lebih serius, momentnya nggak bisa dikejar dengan kamera pocket gw. Apalagi kesenian dari Jawa Barat... sangat dinamis banget dan cepat, mungkin kalau bawa K1000 gw masih bisa ngejar tapi sayangnya gw cuma bawa pocket Olympus. Ya sudah, gw harus berfikir dua kali lebih keras dari orang lain dengan peralatan lengkap. Jadi saya lebih mengamati detail kostum, perlengkapan dan sejenisnya daripada berusaha setengah mati ngejar moment.
Kebetulan pas gw datang, kontingen yang tersisa terbanyak dari Jawa Barat ya udah gw keliling aja. Kostumnya unik-unik dan kaya warna, merah, biru, kuning dan beberapa warna terang lainnya, buat saya yang terbiasa dengan warna-warna tua khas Jawa serta motif-motif geometrik khas Lampung, pernak-pernik ini sangat menarik. Ada kostum penari yang terdiri dari 2 warna utama biru dan pink -sayang banget nggak bisa motretnya- detil bordir dan batiknya asik banget, entah kesenian dari mana gw lupa.
Juga tadi sempat kaget juga ngeliat ada motif awan dari kesenian Cirebon, yang saya tahu persis itu motif awan Cina. Mungkin juga kebudayaan sini terpengaruh oleh budaya dan senirupa Cina dimasa lalu dan menurut Taryan motif awan seperti itu juga ada di Ciamis. Saya pikir mungkin juga motif ini berpengaruh luas di daerah-daerah lain di Jawa Barat soalnya Logo Jawa Barat pun mengikuti patern dari motif Cirebon ini.

Banyak hal-hal lain yang didapat dari acara ini, dan gw beruntung banget bisa menyaksikan dan memotret meskipun nggak banyak. Kebetulan juga kok yang gw dapet kebanyakan kesenian Jawa Barat... apakah.... (nah gw kumat lagi jawanya). Mungkin karena orang jawa serba teratur kali ya, sampai-sampai orang Jawa menetapkan (atau tepatnya menemukan) keteraturan kosmologis alam. Sampai-sampai suatu peristiwa -tidak bisa tidak- akan selalu ada tanda-tanda yang menyertainya. Contoh paling otentik adalah Astrologi Jawa yang lebih dikenal dengan Pranoto Mongso, dan contoh yang paling gamblang adalah pratanda... semua peristiwa selalu dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Jadi ingin tahu apakah di kebudayaan sunda ada juga sejenis itu, yang saya tahu sampai hari ini orang sunda hidup dengan menjaga keharmonian dengan alam. Wallahu'alam rasanya ini jadi PR pribadi nih, dan mungkin sebagai langkah awal gw harus baca buku "Era Baru" yang karangan orang Jepang di rumah buku.

*kok endingnya jadi nyasar gini sih :)

Saturday, September 17, 2005

Teawalk @ Setiabudhi

Gw teawalk malam ini, bukannya teawalk dalam artian umum yaitu jalan-jalan diperkebunan teh di Ciater atau Ciwidey. Gw cuma jalan disepanjang jalan Setiabudhi sambil minum teh kotak, tepatnya dari Borma sampai ke gerlong. Nggak terlalu jauh sih, ya lumayanlah kalau sekedar ngeluarin keringat mah :) Jalan kayak gini sebenarnya sudah menjadi semacam tradisi buat gw kalau lagi bete atau lagi "blank" kebetulan hari-hari terakhir ini gw bete, ya udah gw jalan aja.

Ngomong-ngomong soal jalan disepanjang jalan Setiabudhi gw jadi inget waktu-waktu pertama gw kenal Tobucil, komunitas art dan buku di kota Bandung ini... ya dari jalan disepanjang Setiabudhi ini. Sewaktu pertama di Bandung gw denger majalah desain dan art (yang terakhir gw baru tahu kalau lebih tepat disebut Lifestyle) yaitu Troley magz. Nah dari informasi yang gw dapet ada beberapa spot tempat troley ini bisa didapat, ada sekitar 2 (atau 3) spot di setiabudhi yaitu Monik dan warnet biru, dan karena gw belum tau daerah sini gw sengaja jalan dari gerlong dan dapet-dapetnya ternyata di warnet biru. Warnet biru ini letaknya cukup jauh... di seberang McDonald Setiabudhi atau seratusan meter lagi dari Cihampelas!

Image hosted by Photobucket.com
Tapi gw nggak kecewa, Troley dengan cover ilustrasi tokoh komik buatan Indonesia "Caroq" dengan gaya Marvel akhirnya berada ditangan. Dan dari majalah itulah gw kenal Trimatra, Pasarbuku Bandung (sekarang Tobucil), Gustaf, Tarlen, komunitas art, film dan buku. Sampai hari ini gw masih tetap menjalin persahabatan dengan mereka atau mungkin sekitar empat tahun ya, hampir setua persahabatan gw dengan orang-orang DT dan MQ. Mungkin disinilah alasannya kenapa gw agak berbeda dengan orang-orang yang disini :)
Ya semua orang berubah, berkait dengan kesempatan dan pilihan yang ia pilih. Gw memilih seperti ini dan inilah konsekuensi dari pilihan gw... dan terkadang gw ngerasa saat-saat terakhir ini adalah satu titik nadir dalam kehidupan gw. Bisa lebih baik atau lebih buruk tergantung pada bagaimana gw bersikap terhadap masalah ini.

Thursday, September 15, 2005

Pilihan dan kesempatan

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
Itulah kesempatan.

Ketika engkau bertemu dengan seseorang yang
membuatmu tertarik,
Itu bukan pilihan, itu kesempatan.

Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan
Itu pun adalah kesempatan

Bila engkau memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya,
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika engkau memilih bersama dengan seseorang
Walau apapun yang terjadi
Itu adalah pilihan

Bahkan ketika kau menyadari
Bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik,
pandai, dan kaya daripada pasanganmu
Dan engkau tetap memilih untuk mencintainya,
Itulah pilihan

Perasaan cinta, simpatik, tertarik
Datang bagai kesempatan pada kita
Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.
------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini dikirimkan oleh seorang teman, karena saya anggap menarik maka ditampilkan di blog. Agak mengena juga saat awal-awal baca, mungkin karena hal seperti ini begitu dekat dengan keseharian kita. Terkadang kita menyia-nyiakan begitu banyak kesempatan karena kita sudah merasa memiliki pilihan, tanpa sadar sebuah pilihan itu ternyata juga hanyalah satu kesempatan.

Atau mungkin juga kita takut menghadapi kemungkinan yang ada di depan, karena seperti layaknya kesempatan adalah pintu menuju masa depan dan dunia yang berbeda. Sehingga kita mencoba mencari jalan yang aman-aman saja dan bisa kita perkirakan saat ini, namun siapa yang bisa memprediksi masa depan? Mr. Sayling Wen berkata kita tidak bisa memprediksi masa depan hanya bisa bersiap-siap menghadapai segala kemungkinan yang mungkin akan ada di depan.

Lalu? Justru saat ini saya baru sadar apa maksud dari hadist tentang 4 kriteria memilih calon pendamping, "Pilihlah wanita karena 4 perkara yaitu hartanya, kecantikannya, keturunannya atau agamanya. Namun pilihlah agamanya..." (saya agak lupa redaksionalnya, tapi intinya seperti itu). Tiga yang pertama adalah semacam jaminan untuk menghadapi masa depan, namun tiga hal itu tidak akan abadi. Justru kriteria yang terakhir yang punya potensi untuk lebih abadi, karena lebih menunjuk kepada sikap dan pandangan hidup atau dengan kata lain mentalitas. Mentalitas-lah yang membuat orang mampu menghadapi masa depan yang tidak dapat diduga. Jika orang kaya jatuh miskin, mentalitas entrepreneur-lah akan membuat dia bangkit kembali.
Kembali kepada kesempatan dan masa depan yang tidak dapat diduga, buang jauh-jauh ketakutan-ketakutan yang menghantui fikiran. Pertimbangkan resiko seperlunya dan berjalanlah!

Wednesday, September 07, 2005

Donor darah dong!

Image hosted by Photobucket.com
Hari ini saya jadi semakin tahu arti pentingnya setetes darah bagi manusia lain. Ini gara-gara ada adik salah satu orang kantor yang mengalami pendarahan saat bersalin, karena darah Abang O dan yang dibutuhkan kebetulan sama, maka Abang segera pergi ke kantor PMI. Saya kebetulan ikut, sekedar menemani dan untuk memotret... ya paling nggak buat stok foto redaksi.

Pak Levy sudah menunggu di kantor PMI di jalan Aceh, dan nampak sumringah ketika kami tiba (mungkin terbayang stok darah yang banyak ketika melihat badan Abang yang tidak langsing hehehe...). Sepeminum teh kemudian Abang pun sudah antri untuk diperiksa golongan darahnya dan tak lama antri juga untuk diambil darahnya. Disela-sela itulah saya dan Pak Levy berbicara banyak tentang susahnya mencari darah untuk adiknya, salah satu sebabnya ternyata adalah semua RS di Bandung mengambil darah di kantor PMI ini. Bahkan hingga RS di Ujung Berung pun jika mengambil darah harus kesini, belum lagi kalau persediaan darah sedang kosong. Harus dicari dulu, kemudian diseleksi dan terakhir harus diolah lagi agar steril. Jika pendonor datang jam 8 pagi untuk diambil darahnya, maka paling tidak jam satu siang baru darah tersebut bisa diambil. Kelambanan ini yang terkadang menjadi sebab pasien demam berdarah tidak tertolong jika wabah sedang berjangkit. Miris memang, entah kenapa RS-RS besar di Bandung tidak memiliki fasilitas pengolahan darah sehingga semua harus mengambil kesini. Apakah karena biaya investasi yang tinggi? Wallahu'alam tapi sejak hari ini pak Levy bertekad untuk teratur mendonorkan darahnya.

Dan saya sendiri? Ironis memang, ketika saya sudah tahu betapa pentingnya donor darah, tempat dan prosedurnya, kesaksian teman-teman yang mengatakan hanya sebentar dan tidak sakit... saya masih tetap takut dengan jarum! Padahal jarum ditancapkan hanya untuk lima menit, sementara jarum infus pernah menancap dipergelangan selama 4 hari, 24 jam nonstop! Jadi ketika ada permintaan darah golongan A datang sore ini untuk seorang santri MQ Guest House yang mengalami pendarahan di gusi... saya memilih untuk jadi orang yang terakhir :)

*PS:Ketakutan-ketakutan seperti ini yang selalu menghantui, padahal ini hanya ada difikiran saja. Jika kita berani mencoba dan memikirkan resiko seperlunya saya rasa kita akan bisa. Itu hikmah yang saya dapat hari ini :)

Tuesday, September 06, 2005

Andy Warhol quotes

"The most exciting thing is not doing it. If you fall in love with someone and never do it, it's much more exciting."
Andy Warhol

Dapet quotes yang lucu dari Andy Warhol... buat fun aja selebihnya bisa dibaca disini

Saturday, September 03, 2005

4 jam di Tasik

Image hosted by Photobucket.com
Bangun pagi dengan perasaan aneh, terus cabut aja ke Tasik. Rada sadar pas di bis, eh ngapain gw ke Tasik? Padahal sejauh-sejauhnya pergi cuma ke Singaparna itupun karena undangan nikah dari Pak Dudung dan Pak Ali.
4 jam diperjalanan akhirnya sampai juga di Tasik, sholat Jum'at dulu di masjid dekat terminal Cilembang lalu dimulailah petualangan di kota Tasik. Sempat khawatir juga kalau-kalau bakal tersesat di sana, tapi setelah sampai rasanya nggak juga. Kotanya kecil juga kalah ramai dengan Bandar Lampung, tapi kira-kira beginilah BL waktu saya SMP-SMA, nggak pernah macet, masih banyak pohon dan menyenangkan.
Oh iya ada yang juga hampir sama dengan BL, bakso! Disini banyak kedai bakso ketimbang restoran cepat saji, mungkin masyarakat sini juga suka makan bakso kali ya? Sempat juga mencoba bakso disini yang kata Didie enak banget (tapi rasanya nggak lebih enak dari bakso buatannya Mas Yanto di depan kantor DPU) mungkin gw salah tempat makan kali :)

Berputar-putar nggak tentu arah akhirnya bisa menemukan juga masjid agung Tasik, yang kata Kang Hendra sih masjidnya bagus. Dan ketika saya sampai disana... ya memang bagus! Arsitekturnya unik, ada beberapa bagian yang mengingatkan pada masjid Baiturrahman di Aceh selebihnya dengan 4 menara mengingatkan pada Hagia Sophia di Turki, tapi atap limasnya rasanya lebih modern. Mungkin perpaduan antara klasik dan modern, Wallahua'alam. Tapi yang jelas gw jadi banyak bergerak buat motret dan yang dipajang disini salah satunya, rada dramatis karena sedang agak mendung. Meski tujuan utama tidak terpenuhi tapi rasanya nggak rugi sudah berada disini, setidaknya wawasan gw saat ini bertambah dengan satu kota lagi.

Thursday, September 01, 2005

Cracking adjie's code

Ternyata adjie's code terlalu mudah dipecahkan, ada petunjuk-petunjuk yang katanya sangat gamblang dan mudah ditebak. Yang utama ada pada kata "dititipkan" yang menurut seorang teman merupakan kebiasaan orangtua daerah asal-nya, dan karena didalam geng-nya hanya dia yang berasal dari sana maka terurailah teka-teki yang saya susun. Rasanya bete ketika tiba-tiba ada seorang teman yang bertanya tentang berita di cyberMQ, pratanda dan uro-uro (istilah temuan Abang seputar pratanda) dan pertanyaan seputar orang yang dimaksud (yang sebenarnya sudah nggak perlu dijawab lagi).
Ternyata blog itu luar biasa, hanya sekedar menulis rutin di blog, kemudian terbaca redaksi dan kemudian ditulis ulang jadilah efeknya seperti sekarang. Bingung? Ya... gw sudah nggak bisa jaim lagi (^_^#)

Tuesday, August 30, 2005

Perang!

Image hosted by Photobucket.com
Lebih baik berperang dan kalah, daripada mati penasaran...

Saturday, August 27, 2005

Hari pertama...

Hari pertama bimbingan pranikah, yang lagi-lagi isinya motivasi dan motivasi. Saya mendapatkan sebuah kenyataan di kalangan muslim kontemporer dan keindahan dari Islam. Hal ini bisa saya dapatkan dari uraian-uraian pemateri yang pada akhirnya juga mengungkap kenyataan yang ada di kalangan muslim saat ini. Contohnya saja Ust. Darlis Fajar yang mngungkap pergeseran makna taaruf dari perkenalan biasa menjadi pacaran, ataupun ada kasus tentang 3 orang akhwat yang mengadu ke salah satu pemateri karena tiga-tiganya dijanjikan akan dikitbah oleh seorang ikhwan yang sama. Playboy? bisa jadi, cuma kostumnya aja beda :) Disini bisa terlihat betapa sesungguhnya aturan Islam yang indah diambil simbol-simbolnya, dikaburkan maknanya dan kemudian dipopulerkan ke masyarakat. Kita bisa melihat disini sudah mulai masuk proses komodifikasi seperti yang juga terjadi pada simbol-simbol kiri (seperti ikon Che Guevara). Kalau saya pribadi sih kalo jalan bareng dengan seorang wanita akan lebih nyaman bilang "pacaran" daripada "ta'aruf"... yah setidaknya nggak bohong lah :)

Tapi disinilah hubungan tanpa status yang jelas kembali mewujud dalam istilah yang baru, dan si pelaku terkadang merasa aman berlindung di balik istilah tersebut. Contohnya saja ada ikhwan yang menjanjikan kitbah untuk empat tahun kedepan, coba dipikir... untuk apa? Mungkin buat laki-laki dalam masa empat tahun itu ia bebas melakukan apa saja, bahkan mungkin dia akan bertemu perempuan lain dan berubah pikiran. Tapi bagaimana perempuannya? Apalagi yang tipikal keislamannya cukup baik, setahu saya perempuan akan benar-benar menunggu dalam masa itu. Jadi apabila dibatalkan tentunya akan terasa sakit banget buat si perempuan. Memang itu sifat laki-laki kali ya? Sama seperti tingkah laku para "pejantan" lain, coba perhatikan kucing. Kalau datang di suatu tempat pasti akan di endus-endus dan kemudian dikencingi sebagai tanda wilayah miliknya. Padahal siapa yang punya? di kosan Riyanto sampai misuh-misuh karena roda motornya bau pesing hehehe...
Dominasi itu karakter pria, ia cenderung ingin mengklaim sesuatu itu miliknya dan diakui walau terkadang tidak melalui prosedur yang benar. Seperti contoh di atas, ikhwan tadi ingin "memiliki" dan diakui hak miliknya (artinya= jangan diganggu itu punya gue!) tapi ia sendiri tidak mau terikat penuh. Mungkin janji itu hanya sebatas "pengaman" bagi hak dia tanpa memikirkan hak orang lain, jadi jika ia ingin berpindah kelain hati ia bisa segera melepas "pengaman" itu tanpa merasa berat... toh hanya buat jaga-jaga kalau nggak dapat yang lain!

Disini kelebihan Islam yang mengatur agar yang seperti itu tidak terjadi, ada koridor yang mengatur sampai batas taaruf yang diperbolehkan. Ambil saja makna katanya yang artinya berkenalan, boleh aja berkenalan dan berteman dengan siapapun... namun kalau ingin hubungan yang lebih serius jalurnya pernikahan dan gerbangnya kitbah. Lalu bagaimana prosedur kitbah? Ya setidaknya datang bersilaturahmi ke rumah orang tuanya bertemu dan meminta kesediaan si perempuan. Jika sudah bersedia tentu ada rentang waktu antara kitbah dan nikah, ya bisa sehari sampai beberapa bulan (tentu saja disarankan untuk tidak terlalu lama). Nah pada masa ini kedua orang tadi harus saling menjaga, jadi nggak sembarangan! Terlihat kan kedua belah pihak diakomodir secara baik? Yang pria bisa meneruskan kebiasaannya mengklaim sesuatu "miliknya" tapi si wanita nggak di "ambangin".

Yang lain tentunya ada, cuma sayangnya hanya sedikit yang saya ingat, kebanyakan hanya kata-kata berkesan seperti ceritanya Teh Mimin yang menjelaskan pengalaman saya yaitu "Kalau kita sudah punya keinginan dan niat baik jangan takut, maju saja karena Allah pasti akan turun tangan untuk membantu kita", yang menjadi hambatan bagi kita untuk berbuat biasanya ada di awal... rasanya berat banget. Tapi kalau kita sudah mulai satu langkah saja maka sisanya akan menjadi mudah. Wallahu'alam bishawab.

Wednesday, August 24, 2005

Sekarang giliran gue?

Akhir-akhir ini terlalu banyak kebetulan yang terjadi, seolah-olah saya sedang diarahkan kepada sesuatu... menikah! Ya, setelah pernikahan kakak bulan Juni lalu pandangan orang tua selanjutnya tertuju ke saya sebagai anak laki-laki kedua. Tidak terlalu cepat? Rasanya nggak, selisih usia kakak dengan saya hanya terpaut satu tahun. Oleh karena itu menjadi satu hal yang biasa buat saya kalau saya selalu mengalami apa yang didapat kakak saya satu tahun sebelumnya. Contoh masuk sekolah pertama (buat anak-anak peristiwa besar loh!), masuk smp, sma, kuliah bahkan sampai ke lungsuran buku dan pakaian-pakaian kakak... yah kami bukan keluarga yang tergolong berlebih jadi hal yang seperti ini sering terjadi. Ada untungnya juga jadi seperti ini, saya bisa mengamati dan mengantisipasi segala permasalahan yang mungkin akan terjadi (soalnya sudah ada contohnya hehehe...). Mungkin ini juga yang jadi sebab saya menjadi manusia pembelajar tipe ke tiga, yang belajar dari mencontoh orang lain... Wallahu'alam.

Kembali ke masalah awal, saat ini setelah pernikahan kakak perusahaan diambil alih dari corporate ke anak perusahaan lain. Dan ternyata hal ini membawa konsekuensi kepada kenaikan gaji yang signifikan, kepindahan yang harus dari kosan karena akan direnovasi, teman-teman yang ujug-ujug menyarankan menikah (padahal terkadang nggak nyambung dengan topik obrolan kami) dan terakhir didaftarkan perusahaan untuk ikut bimbingan pranikah tanggal 27 besok. Padahal yang lebih perlu seperti Pak Lee masih ada... kok saya yang dipilih! Mungkin mudah saja semua hal itu dianggap sebagai pertanda suatu keharusan, tapi pertanyaannya dengan siapa? Teman-teman wanita mungkin banyak tapi nggak ada satupun yang benar-benar dekat, beberapa kebetulan lagi-lagi terjadi. Seperti telepon dari Mbak Erlin ke kantor yang nggak tau sebabnya tiba-tiba membicarakan tentang dia, dia yang katanya dititipkan orang tuanya ke Mbak Erlin untuk dijaga... dan "mungkin" kata Mbak Erlin sekarang giliran saya untuk menjaganya. Juga kabar dari Pak Karim yang aneh disuatu pagi yang mengisukan saya akan menikah (bingung kan? padahal baru aja niat kok sudah ada yang mengkonfirmasi) dan kata Pak Karim lagi kabar itu datangnya dari dia. Serba kebetulan memang, meskipun sebagai muslim saya sangat percaya dan pasrah pada takdir, sebagai orang Jawa saya juga agak percaya pada pratanda. Apalagi sebuah kebetulan lagi terjadi, kantornya yang sebelumnya dipindahkan ke Jakarta tahun ini kembali lagi ke Bandung.
Bimbang... karena meskipun saya percaya pada takdir dan pratanda tapi saya tetap tidak bisa melangkahi takdir. Oleh karena itu saya minta kepada Allah dalam doa-doa saya untuk mendekatkan dan memudahkan apabila memang itu yang menjadi keputusan-Nya dan memohon kelapangan hati apabila bukan ia yang menjadi ketentuan-Nya. (meski ditambah juga kalimat ...sesungguhnya Engkau Maha Tahu apa yang aku inginkan ya Allah... hehehe doanya gitu banget ya!)

Sekarang jadi bingung lagi, sudah lama kosan itu dianggap "keramat" karena jika ada dua orang sekamar maka salah satu akan keluar karena sudah menikah. Contoh Kang Ali dan temannya, nggak berapa lama temannya dapat jodoh dan menikah, terus saya datang dan nggak lama Kang Ali dapat jodoh dan menikah, terus Yoyon dapat Mbak Erlin terus nikah. Nah kan tinggal saya tuh yang belum juga, dan sekarang ada teman dari Jogja sedang tes di Pikiran Rakyat. Katanya besok wawancara terakhir dan kalau keterima ya resmi sudah jadi orang Bandung... artinya tu kamar ada pendatang baru... artinya... apa sekarang giliran gue?!!! Dan jika iya apa dengan dia... si upik dalam buaian.
Meskipun saya pernah menulis saya menginginkan yang terbaik buat dia, namun ada perasaan nggak rela (hehehe namanya juga manusia biasa...)

I do, I do, I do, Ido I do love you
I do, I do, I do, Ido I do need you
I do, I do, I do, Ido I do think about you
Theres nothing more that i want but you

Sunday, August 21, 2005

Festival jajanan bandung

Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
Hari ini festival jajanan bandung di Gasibu, ada sekitar 200-an pedagang jajanan khas disegala penjuru Bandung dikumpulkan pada hari minggu ini. Kecap cap Bango yang punya gawe', para pedagang itu diseleksi dengan parameter pengguna kecap cap bango... sponsor banget ya? Tapi walau begitu lumayan banget buat saya untuk tahu dan mengenal beberapa jajanan khas yang ada di Bandung ini seperti Sate Kardjan, Bubur Ayam Mang Oyok, Cendol Elizabeth dan Es Goyobod (yang dua terakhir gw bingung... dimana kecap cap bango-nya hehehe).

Karena perut dan uang terbatas saya sama Puji jadi harus milih-milih banget apa yang paling pengen dimakan. Muter-muter sampai bingung tapi nggak bisa milih asli bingung! Yang terkenal enak... habis, yang aneh... antrinya panjang, yang sepi... habis dan yang paling parah pas mau makan ternyata harus pake kupon yang bisa dibeli distand informasi, dan antriannya.... duh panjaaaaang banget! Bela-belain ngantri cuma buat beli kupon 5ribuan 4 biji, habis dapet bingung juga, udah nggak selera makan karena capek desak-desakan. Ujung-ujungnya kita balik ke bubur ayam kopo... ke si Teteh yang nawarin ke kita pas awal-awal banget (yang kita tolak dengan ucapan sok halus "terimakasih" karena kita nggak mau jauh2 cuma makan bubur ayam). Ternyata enak juga dan taunya pedagangnya "ikhwan" dia juga bisa nebak kita dari DT padahal kita udah nyamar loh, suerrr!

Sempat juga ketemu dengan Neng Mpi sama teh Umaya dan temennya, mereka lagi makan di kupat tahu... (naon gituh gw lupa!) tapi mereka juga kaget kalo makan ternyata harus pakai kupon, soalnya mereka tadi bayarnya cash. Saat itulah saya baru tau kalau ternyata tempat kita makan tadi orang-orangnya soleh plus jujur pisan... soalnya mereka hanya mau nerima kupon yang jadi aturan main disini.
Pulangnya kita sempat beli es goyobod yang rasanya kalah jauh dari tempat aslinya, mungkin ngeramunya buru-buru jadi nggak se-OK kalau beli ditempat. Maklum banyak peminat dan acara ini dipanteng sampai jam lima sore' jadi persediaan dan kecepatan kudu lebih.
Well hari ini asik tapi cape' banget dan terus terang saya masih lapar hehehe...

Saturday, August 20, 2005

Spot yang lebih jujur di Ciwalk

Image hosted by Photobucket.com
Pernah ke Ciwalk? Ciwalk atau Cihampelas Walk adalah mall dengan konsep baru di Bandung, open air mall kalau nggak salah. Jadi Ciwalk adalah mall yang didesain khusus agar memiliki ruang-ruang yang terbuka sehingga pengunjung akan merasa tidak berada didalam sebuah mall tapi seperti berada dikompleks pertokoan yang ditata lengkap dengan taman-tamannya. Sounds good? belum! Kalau kita kesana Ciwalk tidak benar-benar terbuka, kita masih berada dalam sebuah lingkungan yang sangat berbeda dengan keadaan sebenarnya, atmosfer buatan sebagai ciri khas mall masih terasa. Terus terang saya merasa bukan berada di Indonesia saat jalan di Ciwalk, ambil contoh nama jalan yang digunakan selalu menggunakan imbuhan belakang street dan bukan jl. didepannya (eg. young street etc) bahkan ada satu restoran bergaya Italia yang menyediakan satu tempat parkir khusus bagi pengguna Harley.

Kerasa rada Fake ya? Kalau ingin menikmati satu spot yang lebih jujur tentang Bandung -masih di area Ciwalk- cobalah keluar ke area parkir terutama dikala sore menjelang malam. Disana kita akan bisa melihat dua ikon bandung dari dua masa yang berbeda yaitu jalan layang Cikapayang dengan tiang penyangganya yang khas dan satu lagi adalah kolam pemandian Tjihampelas. Cikapayang yang mewakili Bandung modern dibangun dan selesai saat peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika yang lalu, sementara pemandian Tjihampelas adalah satu dari beberapa pemandian yang dibangun pada masa kolonial yang masih ada.
Pada masa keemasannya -menurut buku Bandoeng Tempo Doeloe- pemandian Tjihampelas masih suka dikunjungi oleh ular dan kodok dari sekitar pemandian. Sungai didekatnya pun masih ada, walau kini disisinya dibatasi oleh perumahan penduduk yang padat dan juga tidak bisa dikatakan mewah. Namun justru saat malam telah turun lampu-lampu dari perumahan ini membuat pemandangan jadi lebih indah, lepas mata memandang lampu-lampu ini bertaburan sementara langit biru tua diatasnya ditambah dengan udara dingin Bandung dan suara air sungai mengalir.

Rasanya sulit diungkap dengan kata-kata, saat itu hanya rasa yang bicara... tadi juga ada seseorang yang duduk disana dengan secangkir kopi, cuek aja seolah nggak ada orang lain didunia ini...
Mungkin bagus juga untuk duduk disana dengan segelas moccacino ditemani satu dua teman akrab, ngobrol sambil menunggu sunset dan hari berganti malam.

Agustusan di MQ

Tim MQ Multimedia... berjuang dan kalah, yang penting gaya!
Image hosted by Photobucket.com
Aa Gym dalam pertandingan Futsal
Image hosted by Photobucket.com

Hari ini termasuk sejarah bagi MQ Multimedia, yang ikut kebersamaan banyak banget hampir full team! (biasanya juga beberapa gelintir... udah itu cuma datang dan chatting di kantor hehehe)
Semua antusias ikut perlombaan dan hampir semuanya kalah! Mulai dari DragonFight, lomba pecah balon, estafet pingpong cuma lomba bakiak yang kita bisa jadi juara 3(hampir bisa menang hanya kesandung konblok disaat-saat akhir).

Setelah itu kita rame-rame pakai bandana hitam dan semuanya tumplek mendukung Pak Edi yang ikutan tarik tambang. Pakaian hitam-hitam duduk disamping Tim Pak Edi yang sedang berlaga sambil meneriakkan yel-yel yang bikin Bang Zakaria Goro gondok... "Hei Zakaria Goro... Zakaria Goro Heeee..." (hihihi apa hubungannya coba).

Agak siangan Aa Gym datang ke lapangan dan langsung didaulat untuk main futsal, Futsalnya nggak biasa tapi semua peserta wajib pakai topeng kerucut yang hanya disisakan lubang kecil untuk melihat. Kebayang gimana kacaunya pertandingan, ada yang nendang dulu baru topengnya dipake lagi, sementara Aa sendiri topengnya dipendekin terus biar lubangnya besar. Nggak inget berapa-berapa skornya tapi yang penting asik aja :)
Bagaimanapun menang atau kalah kita tetap happy (^___^)V

Friday, August 19, 2005

Sputnik n' earth*

Hari ini jadi keingetan cerita "Sputnik n Earth"-nya Manik Laluna, Sputnik yang hanya bisa memandang Earth dari kejauhan. Begitu dekat tapi rasanya begitu jauh, hanya transmisi radio sesekali dari Earth yang menghubungkan mereka, dan ketika itu terjadi... it's can change everything.
Hari ini ketika earth sedang berada dekat, sputnik berputar-putar sibuk disekitar earth. Dan ketika sebuah transmisi pendek akhirnya datang dari earth, sputnik terdiam... membalas pendek, kemudian berpura-pura sibuk lagi berputar-putar pada orbitnya...

©Sputnik N' Earth karakter rekaan Manik Laluna

Sunday, August 14, 2005

Perayaan sensasi visual

Kali ini Klab Desain tidak dikunjungi seramai biasanya, mungkin kesimpangsiuran berita di milis adalah salah satu penyebabnya. Tapi bagaimanapun pembicaraan malam itu masih tetap hangat karena selain Host-nya hadir, Om Gustaff sempat juga nimbrung untuk ngobrol bareng. Obrolannya sendiri terbagi dalam dua topik, yang pertama adalah tentang RFID yang kamis kemarin sempat diisukan akan dipresentasikan oleh Rob salah seorang peserta Art Camp dari Belanda, namun pada akhirnya batal karena yang bersangkutan sakit. RFID atau Radio Frequency Identification adalah semacam data yang tersimpan dalam sebuah chip kecil yang ia akan memancarkan sejenis gelombang yang akan ditangkap oleh readernya. Benda kecil ini saat ini sudah mulai digunakan untuk keperluan komersial seperti alat pembayaran saat akan naik subway di Korea (bukan pengganti mata uang tapi ada sistem penagihan ke orang yang bersangkutan), atau kartu untuk survei konsumen saat memasuki area pameran, bahkan hingga tingkat yang paling ekstrim di Jepang yaitu Billboard yang bisa menyapa pemegang RFID disekitar billboard. Namun selain sisi positif tentu saja ada pro dan kontra diseputar teknologi ini, karena tidak semua orang suka privasinya terganggu ekstrimnya semua orang punya sesuatu untuk dirahasiakan. Sehingga pada akhirnya ada tindakan-tindakan tertentu untuk merusak atau menggangu sinyal radio RFID seperti penggunaan "Jammer". Namun siap atau tidak, suka atau benci teknologi ini tetap akan datang dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Selanjutnya yang kedua, Om Benben membawa kita kepada tulisannya di milis tentang Local Clothing. Sebenarnya tulisan itu merupakan hasil diskusi saat acara C on C di CCF antara Dendi Darman (347), Chandra (Jeune magz) dan Bang Ucok (seniman dan dosen ITB). Isi selengkapnya bisa dibaca di milis namun saya hanya akan membahas sebagian saja yang menarik buat saya yaitu tentang "perayaan sensasi pencitraan". Istilah ini dicetuskan Bang Ucok saat mengomentari desain-desain distro, yang dimaksudkan adalah saat ini desain-desain distro hanya menekankan aspek visualnya saja tanpa memahami akar budayanya. Beberapa contoh yang ditampilkan seperti gambar tipikal distro yang dipadu dengan tulisan "Globalisation kills the roots of our tribes", tulisannya sendiri tidak mendukung desainnya justru mendangkalkannya, sebagian peserta malah berseloroh justru itulah contohnya :)

Saya bertanya-tanya apakah ini memang konsekuensi generasi MTV ketika generasi saat ini dicekoki dengan segala sesuatu yang bersifat instan. Atau ini merupakan suatu hasil akhir dari kapitalisme yang akhirnya membuat semua hal menjadi komersial tanpa banyak memikirkan efek sampingnya. Lihat saja ikon Che Guevara yang banyak dikenakan anak muda sekarang, gambar Che seolah tanpa makna padahal ia adalah ikon perjuangan rakyat Bolivia (atau Kuba?) berbeda dari artis-artis F4. Seingat saya hal seperti ini diistilahkan dengan komodifikasi, ketika simbol-simbol diambil, dilemahkan dan dilempar kembali ke masyarakat. Bisa dikatakan hampir mirip dengan cara kerja serum atau vaksin.

Beberapa waktu lalu saya juga sempat hadir dalam sebuah acara komunitas indie, selain band performance acaranya adalah pemutaran video klip buatan peserta workshop. Saat diputar saya amati klipnya semuanya absurd hampir tidak ada kaitan antara lagu dengan tampilan visualnya, dari beberapa selentingan yang saya dengar... mereka (klip makernya) mengatakan bahwa saat ini sudah bukan zamannya lagi klip harus sesuai dengan lagunya, jadi gambar bisa apa saja bahkan sama sekali tidak ada kaitannya. Mungkin ini mempertegas pendapat Bang Ucok, suatu perayaan sensasi visual yang tanpa makna... begitu juga kata Dendi 347, saya nggak mikir apa-apa... apa yang saya pikir langsung saya tuangkan...
lagi-lagi apakah ini karena zaman semakin instan dan prosesor semakin cepat... duh pusing! Mending baca aja tulisannya Om Benben di milis

Friday, August 12, 2005

Afternoon tea

Image hosted by Photobucket.com

Kalau kantor dekat dengan cafe lalu mati lampu, inilah jadinya :)

Wednesday, August 10, 2005

Satu pekerjaan selesai...

Image hosted by Photobucket.com
Akhirnya selesai juga desain buat website Hotel Geulis, klien suka... itu rasanya sudah cukup. Sebenarnya nggak ada yang aneh dari desain webnya cuma pengerjaanya aja yang menggunakan software-software sederhana, bisa dikatakan kelas dua-lah, seperti untuk animasi menggunakan Swish bukannya Flash terus untuk layout web-nya hanya pakai software WebPageManager yang sangat..sangat sederhana dibandingkan dengan Dreamweaver.
Namun pada prinsipnya kita mencoba memaksimalkan karya dengan apa yang ada, memang untuk beberapa hal software-software unggulan seperti Dreamweaver dan Soundforge harus digunakan karena fungsi-fungsi yang nggak tergantikan. Contohnya untuk mengubah scroll agar berwarna sama dengan warna dominan harus ada tag yang di otak-atik (itu sih kerjaannya Adi hehehe...)
Anyway satu kerjaan sudah selesai, sementara pekerjaan lain masih banyak menumpuk.
Sambil pulang dari Geulis -dan setelah keliling-keliling nyari klien bareng Kang Edi- ditengah-tengah macetnya jalan Cipaganti dan panasnya udara kota Bandung siang ini kita mampir dulu di halaman masjid Cipaganti, cuma untuk menikmati es cendol yang mangkal disana. Dingin dan segar, dan kita dengan cueknya minum dipinggiran jalan walau banyak mata penumpang angkot yang menatap sirik ke kita :)

Monday, August 01, 2005

Batagor Riri

Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
Akhirnya bisa juga ke batagor Riri di Burangrang, banyak yang bilang kalau nyari batagor yang enak di Bandung ya disini. Nggak direncanain sebelumnya sih, hanya karena Om Indra, Tante dan Hana datang berkunjung ke Bandung dan menginap di dekat batagor Riri aja makanya nyoba juga kesana.
Dari situs batagor.com saya baru tahu ternyata Batagor Riri adalah "penemu" batagor pertama di Bandung (sekitar tahun 1985-an) dan memang sebagai layaknya pioner pelanggannya sangat banyak dari mulai orang biasa sampai artis dan pejabat. Kemarin pas makan pun Oscar Matuloh yang kurator foto Antara juga ada, sempet nyuri-nyuri motret tapi karena jauh ya nggak dapet. Kalau minta foto bareng malah saya yang bakalan malu, lha wong bukan artis hehehe...

Saturday, July 30, 2005

Klab desain nonton dan curhat :)

Image hosted by Photobucket.com
Kali ini klab desain meniru kegiatan klab nonton di tobucil, kita kususkan pertemuan kali ini dengan menonton. Tapi tentu saja yang kita tonton bukannya film atau sejenisnya tapi justru rekaman acara televisi luar yang membahas desain sebagai pemecahan masalah. Acaranya sendiri ada dua sesi masing-masing dibagi berdasarkan rekaman yang ditonton, yang pertama kita disuguhkan design makes better yang mencoba memecahkan tantangan troly di Sainsburry (sebuah supermarket di Inggris). Disana tim desain mencoba menemukan troly yang lebih baik dalam hal pengendalian. Kita bisa saksikan betapa seriusnya tim desain merancang, mencoba, mengevaluasi, kemudian merancang kembali dan akhirnya memproduksi model untuk dipresentasikan ke klien.

Dari sini dialog bergulir, kita semua melihat betapa seriusnya tim desain dalam memecahkan masalah. Pemecahan masalah bahkan membawa tim desain untuk mencoba mobil sport dan kemudian menerapkan hasilnya untuk pergerakan troly rancangan mereka. Hampir semua desainer yang hadir merasa hal seperti itu di Indonesia jarang ditemukan. Seringkali malah tidak ada waktu yang cukup untuk merancang sampai final, desainer di Indonesia masih "client driven" terserah apa kata klien. Parahnya terkadang keputusan klien justru terpengaruh oleh orang yang terkadang kurang berkepentingan seperti istri atau saudara.
Belum lagi masalah-masalah klasik internal seperti hubungan desainer dengan marketing ataupun desainer dan produksi yang bak musuh bebuyutan. Ataupun hubungan majikan dan desainer yang bekerja dibawahnya mengenai side job juga sempat dikemukakan oleh Kang Jammy yang juga seorang pemilik perusahaan desain di Bandung.

Permasalahan-permasalahan seperti inilah yang justru tergali dalam diskusi kali ini, mungkin karena sebagian besar yang hadir adalah mereka yang berprofesi desainer dan sebagian lagi bussiness owner. Jadinya pertemuan kali ini malahan menjadi seperti ajang curhat. Namun justru hal-hal seperti ini positif bagi yang hadir, kita bisa belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain, pengalaman-pengalaman yang tidak bisa kita dapatkan di bangku kuliah.

Ekspresi itu sangat personal!

Berawal disela-sela kegiatan klab desain, saya ijin untuk kebelakang untuk memenuhi panggilan alam. Karena satu-satunya pintu kebelakang terletak dekat dengan TV dan ada kekhawatiran mengganggu konsentrasi teman-teman menonton saya memilih jalan memutar lewat toko buku, dan untuk itu tidak bisa tidak saya harus melewati meja kebesaran Mbak Tarlen. Setelah memenuhi panggilan alam tentu saya harus sekali lagi "mengganggu" mbak Tarlen dengan lewat meja kerjanya dan merusak konsentrasinya. Karena nggak enak iseng aja untuk "say hi" dan berbasa-basi bertanya tentang hal yang sedang dikerjakannya saat itu. Lalu entah bagaimana obrolan melebar sampai ke lomography dan kamera lomo itu sendiri, baik dari jenis-jenisnya, hasil yang didapat dari kamera miliknya sampai keinginan untuk membentuk klub.
Pembicaraan jadi tambah ramai setelah Ratih gabung, rupanya keduanya sudah kenal lama dan menyukai lomography. Sementara saya hanya terbengong-bengong karena tidak begitu faham, saya mengerti arti lomography bagi mereka yaitu ekspresi beda dalam berkarya. Hal ini dimungkinkan karena hasil dari kamera lomo sendiri selalu tidak bisa ditebak, mungkin sang fotografer sama sekali tidak bisa menebak hasilnya saat membidik melewati viewfinder yang sangat sederhana (cuma sekedar bingkai kotak bayangin!) sangat berbeda dengan teknologi digital saat ini yang maunya WYSIWYG. Hasil tak diduga itu melanggar semua pakem-pakem fotografi yang saya kenal sampai hari ini dan hasilnya kebebasan absolut dalam berekspresi.

Agak berbeda dari saya yang memilih fotografi bukan sebagai media ekspresi tapi terapi... terapi buat kepercayaan diri! Mungkin sama juga dengan media tulis yang mulai saya sukai akhir-akhir ini, menulis adalah terapi terutama tulisan yang banyak menggunakan sudut pandang orang pertama dan menggunakan kata ganti "saya". Agak narsis ya? Tapi menurut Mas Hari hal ini diperlukan untuk melatih kita memfokuskan pikiran agar tidak meloncat-loncat, memang ada teori berfikir divergen untuk keperluan berfikir kreatif namun akan sangat mengganggu jika kita terus menerus berfikir divergen. Dengan menulis saya mulai menjelajah diri saya sendiri, fikiran, perasaan dan hal-hal yang terkadang tidak bisa diungkap seperti kegelisahan tanpa sebab atau perasaan "gloomy" yang kadang datang tiba-tiba. Dalam satu sesi psikopop, dijelaskan bagaimana kadang perasaan "BT" tanpa sebab ternyata adalah salah satu ekspresi marah. Dan marah seringkali muncul karena espektasi kita yang terlalu tinggi sementara kenyataan dilapangan sangat jauh berbeda. Hal-hal seperti ini yang selalu menjadi misteri bagi saya yang harus diungkap, dituangkan sehingga tidak mengendap di kepala dan hati. Oleh karena itu saat ini keberadaan komputer, internet dan kamera digital menjadi semacam kebutuhan bagi saya. Saya nggak pernah tahu kapan "kegelisahan" itu akan datang, dan saya nggak tahu harus dengan terapi apa "kegelisahan" itu akan hilang.
Media ekspresi bagi tiap orang berbeda-beda, mengutip perkataan Mbak Tarlen tadi, "Nggak bisa dong dibandingkan antara spagheti dengan rendang padang!" ya, masing-masing punya ciri khas dan masing-masing tergantung selera kita.
Ekspresi itu sangat bergantung pada selera dan kebutuhan masing-masing, tidak tergantung mode ataupun ruang waktu.

Sunday, July 24, 2005

Bandung dari atas

Image hosted by Photobucket.com

Nggak tau kenapa, tiba-tiba setelah ikutan MPI langsung cabut aja downtown ke alun-alun. Berkeliling dari mulai cari buku-buku bekas di kalapa, ngeliat-liat pakaian apa yang lagi banyak disana (tren maksudnya- gila loh harganya murah-murah pisan!), menjelajah di kepatihan dan berkelana didunia dvd bajakan (pasar kembang) terus kepikiran buat motret Bandung dari atas menara masjid agung. Nggak terlalu sulit untuk kesana, cukup bayar 2 ribu perak buat naik ke menara setinggi 19 lantai itu. Dari sana kita bisa lepas melihat kawasan kota lama Bandung, mulai dari alun-alun, kepatihan, jalan abc, asia afrika, cikapundung dll (yah sejauh mata memandanglah!). Tapi jangan terlalu kaget betapa semrawutnya kota Bandung sekarang, inipun masih mendingan karena sempat dirapikan menjelang konferensi asia-afrika beberapa waktu yang lalu termasuk juga pedagang-pedagang seputar alun-alun, coba kalau nggak.... tapi mungkin karena ekses penataan saya lihat para pedagang memanfaatkan gang-gang kecil diseputaran kepatihan buat membuka lapak. Mungkin logikanya hanya dijalan besar yang nggak boleh jualan :)

Saturday, July 23, 2005

Aspek hukum dalam desain

Image hosted by Photobucket.com

Kemarin klab desain membahas kaitan antara desain dengan hukum, saya nggak nyambung-nyambung amat sama materi ini bahkan -mengutip kata-kata Kang Benben- hampir 90 persen sama sekali baru. Hanya ada beberapa hal yang saya garisbawahi karena saya anggap penting, pertama seorang desainer in house meskipun terkait dengan perusahaan tempatnya bekerja tidak dapat lolos dari tuntutan apabila perusahaan yang bersangkutan melakukan pelanggaran hak cipta. Bahkan untuk beberapa kasus ia bisa dikambinghitamkan oleh perusahaan tersebut, oleh karena itu jika desainer merasa dipaksa untuk melakukan plagiasi maka ia bisa mengajukan disclaimer.

Kedua bentuk badan usaha bagi perusahaan desain sebaiknya firma, karena perusahaan desain menyediakan jasa konsultasi (desain) kemudian ia lebih baik dari CV tapi lebih mudah dari PT selain itu juga -menurut pembicaranya mah- 3 orang bawa modal masing-masing 200 ribu juga sudah bisa bikin firma. Dari beberapa alasan tersebut terasa mudah untuk merintis usaha sendiri dibidang desain, namun untuk beberapa hal di Indonesia penggunaan firma bagi perusahaan desain masih jarang. Satu memang belum tahu kedua masalah "gengsi" karena bentuk PT dianggap lebih bergengsi, berbeda dengan di luar negeri rata-rata perusahaan desain berbentuk firma. Hal ini bisa dilihat dari ciri khas firma yaitu nama perusahaannya adalah nama pendirinya misalkan Wolf Ollins, Landor atau perusahaan iklan misal Ogilvy and Matter, FCB dan sebagainya. Tapi bisa juga karena hal lain seperti undangan pitching, seringkali mensyaratkan PT bagi calon peserta pitching, kedua alasan kultur. Kalau bentuk PT sebuah perusahaan desain bisa dikasih nama yang keren-keren misal Cabe Rawit Komunika, Jejak, Pike dan lain-lain kalau firma pastilah nama pendiri. Dan sudah menjadi rahasia umum orang Indonesia tidak suka terlihat berbeda dari kelompoknya ia akan merasa nyaman apabila ia dihadapkan pada paradigma "we" (kami) ketimbang "me" (saya), sebagai contoh terkadang kalau kita membuat surat resmi atau memberi kata sambutan kita sering memakai kata "kami" sebagai ganti "saya". Contoh ini seringkali saya temukan dimasyarakat Jawa entah dengan masyarakat suku lainnya.

Ketiga masalah copyright, ternyata yang dilindungi tidak hanya warna atau bentuk saja sehingga kita bisa "mencuri" dan melakukan perubahan seperlunya. Tapi image dari produk kita, misalkan jika kita membuat peniruan terhadap suatu produk dan sudah kita ubah baik warna ataupun bahannya tetapi image produk yang kita tiru masih terasa, kita bisa dituntut. Bahkan produk-produk plesetan Dagadu kalau dinilai merugikan kita bisa dituntut oleh perusahan yang bersangkutan.
...wah masih banyak yang terlewat dan belum bisa dituliskan, mungkin bisa dilengkapi dari milis.

Tjikapayang

Image hosted by Photobucket.com

Jalan layang Tjikapayang dikala malam, kemarin habis pulang dari klab desain nyempetin motret sebentar disana kira-kira jam 10 malam-an. Mungkin lebih bagus kalau lebih sore dan dari atas kali ya? Cuma siap-siap aja ketabrak :)

Wednesday, July 20, 2005

Geulis!

Image hosted by Photobucket.com

hmmm... akhir-akhir ini konsentrasi ke hotel Geulis, jadi nggak sempat nge-update blog. Tapi setidaknya ada yang bisa dinikmatin di proyek ini, liat aja foto diatas! Foto itu diambil di lobi hotel sembari aja sebelum pulang... hotel geulis memang benar-benar cantik dalam artian sesungguhnya!

Saturday, July 09, 2005

Pengaruh Film Dalam Tren

Ada yang terlupa nih! Kemarin juga pembicaraan sempat melebar ke bagaimana suatu tren bisa ditularkan, salah satunya adalah dengan agenda setting. Nah selain itu film ternyata juga merupakan senjata yang ampuh untuk mencapai tujuan tersebut. Karena film selain memiliki kelebihan audio-visual juga mempunyai alur cerita yang kuat, promosi disekitar film berupa iklan dan publisitas (termasuk didalamnya word of mouth), properti yang digunakan didalam film, dan para pemeran film itu sendiri. Bahkan sebuah film sekaliber starwars bisa meraup untung besar dalam menjual merchendise. Sebuah contoh yang kemudian ditiru oleh film-film Indonesia, katakanlah novel "Eifel I'm in Love", AADC yang sempat membuat buku "Aku" beredar kembali, novel dan komik "mengejar matahari", juga novel-novel dari film Indonesia yang lain. Dengan keberadaan VCD, buku dan merchendise-merchendise lain maka pengaruh sebuah film akan lebih sempurna.

Saya jadi teringat sebuah episode film Southpark yang berjudul Chinpokomon. Disana digambarkan suatu strategi baru Jepang dalam mengalahkan Amerika, yaitu dengan meracuni fikiran anak-anak Amerika dengan film Chinpokomon. Di film itu digambarkan betapa anak-anak Amerika menjadi sangat gandrung akan film tersebut, bahkan mereka mengalami cuci otak dengan slogan "to fight the evil power" hanya dalam Chinpokomon anak-anak tidak diperlihatkan secara gamblang siapa "the evil power" itu. Tak lama merchendise Chinpokomon keluar dan ternyata pesan-pesan terselubung disusupkan dalam mainan-mainan itu. Katakanlah game yang ternyata mengajak anak-anak Amerika untuk membom "the evil power" di Pearl Harbor (pangkalan Amerika di Hawaii yang menjadi korban serangan udara Jepang) juga action figure yang bisa bicara dan salah satu kata-katanya adalah ajakan untuk menghancurkan Amerika. Pada puncaknya ada semacam camp bagi penggemar Chinpokomon diseluruh Amerika, dan disanalah anak-anak tadi dibrainwash kemudian digiring ke pangkalan udara Jepang untuk mengendarai pesawat dan membom sasaran-sasaran di Amerika.

Image hosted by Photobucket.com

Meskipun singkat film itu bisa dijadikan gambaran bagaimana menggunakan media -dan film khususnya- untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dalam hal ini adalah menciptakan suatu tren. Oleh karena itu dalam diskusi kali ini juga Shaffiq memaparkan kemungkinan tren kedepan setelah melihat film Gie, Hotel Rwanda dan sejenisnya yang akan dan sedang tayang saat ini. Bisa jadi -dengan nada berseloroh- tren kedepan adalah demo, jadi nggak keren kalo nggak demo. Tapi yang jelas desain-desain seperti grafis dalam film Gie saat ini sudah sering digunakan dalam desain cover buku-buku terbitan Insist, desain destruktif yang mengandung spirit rebel.

Friday, July 08, 2005

Klab desain ngomongin tren

Hari ini pertama gw ikutan klab desain di Tobuci, pindah ke lain hati? nggak juga... gue masih pengen ngelanjutin Psikopop karena psikopop ngebangun banget. Ikutan klab desain hanya karena gue udah pengen banget ketemu dengan satu komunitas seprofesi dan disana kita bisa saling share tentang apa aja dari mulai seluk beluk profesi sampai ke detail tekhnik penggunaan software.

Seperti hari ini aja, obrolan jadi asik banget dan melebar sampai jauh melewati waktu yang ditentukan (jam 9 malam), obrolan lagi seru-serunya ngebahas soal trend, tentang bagaimana trend bisa bekerja, bagaimana industri dan media bisa mengubah masyarakat dan menggunakan media setting untuk melakukan "pekerjaan" itu. Bahkan kata Shaffiq (scriptwriter JWT Adforce) sampai-sampai di Jepang minister industri-nya membuat rapat tiap tahun dengan orang-orang industrinya yang jaringannya sudah mengglobal khusus untuk membicarakan trend apa yang akan kita buat tahun depan. Sebagai contoh lain Hollywood juga membuat semacam "kesepakatan" untuk trend film yang akan dikeluarkan sehingga pasar tidak terbagi-bagi dan semua mendapat bagian yang cukup besar.

Hal-hal seperti inilah yang pada akhirnya melahirkan suatu kalangan minor yang membuat alternatif dari produk produksi major label. Namun sudah hukum alam juga yang minor pun pada akhirnya akan menjadi major, hal ini bisa kita lihat pada industri clothing (dalam hal ini distro) yang saat ini menjamur. Bisa kita lihat di Jakarta yang namanya distro tidak melulu sebuah toko yang kecil dan "nyempil" tapi sekarang sudah menjadi sebuah toko besar dan sudah mulai juga masuk mall.
Pada akhirnya bisalah diambil kesimpulan bahwa saat ini sudah bukan jamannya lagi kita bergerak mengikuti tren, yang harus kita lakukan adalah satu langkah didepannya yaitu kita harus mampu memprediksi tren.

Thursday, July 07, 2005

Gw hari ini...

Cuaca di Bandung memang tidak bisa disepelekan saat ini, hanya berkeliaran sebentar dengan perut kosong kemarin malam bisa membuat saya nggak bisa bangun dari pagi sampai siang. Mungkin masuk angin lagi, tapi masuk angin agak aneh ya... jadi sakit perut banget. Beberapa teman juga ada yang mengalami gejala yang sama, mungkin tergantung kondisi stamina juga yang menentukan tumbang atau tidaknya kita. Setidaknya walaupun hari ini resminya izin sakit tapi sempat terlibat sedikit dalam penyelesaian "wajah baru" cybermq.com. Saat ini cybermq memang sedang berbenah dari mulai sistem, perwajahan, engine sampai pemasaran... Alhamdulillah saat ini pembenahan itu sudah sebagian besar selesai. Mungkin bisa sedikit tidak memalukan dihadapan para juri Bubu Award nantinya... amiennn.

Selain itu ternyata anak-anak event lagi datang, Kang Idris, Defi bahkan Pak Budi juga ada. Sempat ngobrol juga dengan Kang Idris tentang desain juga share soal Tobucil dan kegiatannya... hmmm memang kemarin sempat kangen juga dengan baraya MQC dan mereka adalah bagian dari alm. MQC hehehe.
Hari ini juga kacamata sudah jadi, juga ketemu rahasia mengganti skin blog yang selama ini dicari-cari. Ternyata sudah ada orang yang membuat template blog dan bisa di copy paste ke template blogs. Yah memang baru sampai disini kemampuan tapi Insya Allah akan dikembangkan lagi nih... rasanya memang harus belajar HTML (pffffuuu....i)
Image hosted by Photobucket.com

Friday, June 24, 2005

Bandung di Bulan Juni

Bandung lagi dingin akhir-akhir ini, memang gitu sih kondisi bandung setiap bulan Juni-Juli dingin membeku... brrr! Tadinya senang-senang aja soalnya sebelumnya suhu udara di Bandung selalu panas, padahal dari dulu yang namunya Bandung terkenal dengan udaranya yang sejuk. Ini juga yang menjadi salah satu alasan kenapa Belanda sempat berfikir untuk memindahkan ibukota Hindia Belanda kesini.

Tapi seiring dengan perjalanan waktu penduduk Bandung semakin bertambah, iklimnya yang nyaman telah mengundang banyak pendatang termasuk saya untuk datang, mencari penghidupan dan tinggal disini. Akibatnya penghuni semakin bertambah, dan ini membawa konsekuensi pada pembukaan lahan untuk tempat tinggal, bertambahnya jumlah kendaran bermotor dan hasil buangan para penguhinya yang termasuk konsumtif. Ditambah lagi saat ini setelah dibukanya jalur tol Cipularang, jangan harap deh yang tinggal di Bandung bisa menikmati weekend yang tenang. Hampir seluruh jalan di atau menuju tempat wisata macet total sebagai akibat melubernya mobil-mobil berpelat B. Tapi mau bagaimana lagi mereka-mereka juga yang membuat perputaran uang di Bandung semakin cepat, dan walhasil membuka lapangan-lapangan kerja baru buat orang-orang Bandung sendiri. Dalam hal ini seorang teman pernah bilang rata-rata transaksi perorang di Bandung mengalami peningkatan saat weekend. Itu bisa sampai dua kali lipat dari hari-hari biasa, kesimpulan itu diambil sekitar 2 atau 3 tahun lalu ketika jalur Cipularang belum dibuka, entah sekarang bisa jadi menjadi jauh lebih besar.

Kembali ke masalah iklim, segala permasalahan tadi ternyata juga terkait dengan kondisi geografis kota Bandung itu sendiri yang berupa cekungan. Kata sorang teman yang jebolan Geologi ITB-nih bentuk cekungan menyebabkan panas tidak bisa keluar hingga ia terkumpul dan membuat makhluk-makhluk di dalam cekungan kegerahan, namun kalau malam tiba barulah udara panas itu bisa keluar. Makanya meskipun siang harinya panas, malam tetap dingin di Bandung. Tapi khusus bulan Juni dan Juli udara di Bandung menjadi lebih dingin lagi entah kenapa, apakah terkait dengan iklim global atau pergerakan bumi. Tapi yang jelas saat ini yang namanya angin atau flu mulai rajin berkunjung, mungkin hal ini turut diundang oleh hujan yang kerap turun di sore hari. Entahlah yang jelas udara seperti ini mengingatkan saya ketika hari-hari pertama menginjakan kaki di stasiun Bandung sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu, yang saya ingat saat itu udara juga lagi dingin...

Friday, June 17, 2005

Ngisengin Aa lagi!

Ngisengin gambar Aa lagi, kali ini Aa dibuat menyerupai lambangnya Perancis. Silhouete anak diganti Aa, slogan Freternite, Egalite, Liberte diganti dengan dzikir, fikir, ikhtiar cuma didandanin rada-rada mirip tulisan Perancis (tapi diledek Abang jadinya malah kelihatan Jawa banget!) terus tulisan Manajemen Qolbu yang bertahta dibawah. Jadinya kalau dibaca... Aa membawa revolusi akhlak dengan slogan dzikir, fikir dan ikhtiar hingga mewujud menjadi konsep manajemen qolbu... kitu ceunah alasanna nu dicari-cari ku urang hehehe...

Image hosted by Photobucket.com

Wednesday, May 18, 2005

Cherry Bombshell

Sabtu besok (21/5/05) bakalan launching album ketiganya Cherry Bombshell, jadi inget dulu pernah motret CB waktu acara Sound Delicious di AACC. Itu juga pertama gw nonton performance-nya CB, niatnya sih cuman pengen nonton Mocca tapi ternyata CB juga OK banget! Sampai-sampai lupa nyisain film buat motret Mocca :) BTW nggak nyesel kok di Dago Festival akhirnya juga bisa motret Mocca. Ini satu foto yang gue ambil waktu AACC pas si Esti masih hamil loh jadi ada untungnya juga soalnya jadi nggak banyak gerak :)

Image hosted by Photobucket.com

Tuesday, May 17, 2005

Nyoba

lagi nyoba hal yang baru buat gue, sekedar iseng
Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com

Thursday, May 12, 2005

Goarmy.com

Situs ini makin hari makin oke aja, situs buat rekruitment tentara tapi ngepop banget. Dari logonya yang mirip-mirip logo converse, permainan flashnya yang OK, bahkan bisa download game "American Army" full version gratis! Gila, memang Amerika buat ngerayu warganya untuk mati nggak main-main!

Image hosted by Photobucket.com

Think Different

Dia yang selalu ngingetin buat berfikir beda di desktop gue sekarang (^_^)V

Image hosted by Photobucket.com

Wednesday, May 11, 2005

Woa... Empire Strikes Back

Ternyata Empire Strike back punya beragam versi poster film, mulai dari yang katro sampai yang sekarang (tahun 1997-an) yang game juga ada lho buat yang versi atari (dulu belum ada PS2 hehehe)

Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com
yang sekarang neeh!

Image hosted by Photobucket.com
Game atari, udah langka lho!

Wednesday, April 13, 2005

Don't Sweat a Small Stuff! It's a small thing anyway :)

Hari ini ke acaranya MQTV... Semalam Bersama Rasul, buat bantu-bantu ngebagiin brosur. Rencana semula sih mau motret buat liputan tapi karena nggak dapat pinjeman kamera digital ya nggak jadi. Sempet kaget juga waktu ketemu Mas Novi, ternyata biar MQC, Event MQ ataupun MQTV kalau bikin event ya pake dia juga hehehe... jadi ya sama aja!
Pas ditengah acara seperti biasa gue gloomy lagi, rasanya gue belum bisa bikin sesuatu yang besar seperti itu... "orang udah bisa bikin kayak gini ari urang kapan?" gitu kira-kira. Pas ngobrol dengan Kang Hendra, ia ngingetin bahwa jauh sebelum MQTV kita pernah bikin acara yang besar seperti ini waktu jamannya MQC. Cuma Kang Hendra mengibaratkannya kalau dulu MQC saat masa perintisan atau seperti Indonesia tahun 1945, sementara MQTV saat jaya-jayanya Indonesia di tahun 1980-an. BTW bagaimanapun saya tetapa harus bersyukur walau saat ini kami jauh dari popularitas dan tidak dalam lingkar orang-orang yang "terpandang" disini. Tapi setidaknya saya harus bangga karena saya termasuk dalam lingkarannya orang yang merintis... dan saat ini alangkah tidak baik menyesali hari ini atas kondisi yang Allah karuniakan saat ini. Tapi sudah selayaknya saya terus maju dan terus berkarya tanpa memikirkan hal-hal kecil yang mengganggu. Don't Sweat a Small Stuff! It's a small thing anyway :)

Monday, April 11, 2005

Opa Michael S. Sanggurdi

Image hosted by Photobucket.com

Hari ini kami bertujuh, juga Luki dan 2 temennya datang ke seminar HP "Digital Life" yang bagi saya jauh lebih menarik dilihat dari sisi bisnisnya ketimbang materi yang disampaikannya, soalnya... jualan abis! Saya amati dari sisi materi, bentuk dan jalannya acara berikut pengisi acara (yang dalam banyak hal saya yakin Michael Sanggurdi yang mengisi semuanya) saya yakin EO itu hanya butuh lima orang saja untuk menjalankan acara, karena acaranya begitu sederhana dan melimpah sponsor! Jadinya peserta pulang dengan perut kenyang serta mendapat banyak item untuk dibawa pulang. Semua orang diuntungkan... HP diuntungkan karena alatnya diekploitasi habis jadi bikin kita.... kepengen hehehe. Terus peserta dengan Rp 40.000,- sudah dapat makan enak, materi bagus dan dapat sertifikat dari HP sementara EO-nya jelas untung karena sponsor tunggal HP pasti bayar mahal karena pesertanya adalah "Heavy User" , sebut aja diantara kami bertujuh Adi, Taryan dan Agus jelas akan menaruh minat pada programming, server serta solusi jaringan yang ditawarkan HP, Gue tertarik pada kamera serta printernya yang ok punya, sementara Kang Indra bisa jadi tertarik pada Ipaq yang bisa membantu mobilitas redaksi, Kang Edy punya bahan untuk ngobrol dengan klien jika yang bersangkutan bertanya tentang IT... Kang Dony? sisi bisnis dari inves peralatan dong! BTW semua diuntungkan, sedikit pengeluaran dengan efektivitas promosi (lewat milis bayangin!) juga hemat Sumber Daya Manusia... sepertinya kekuatannya ada pada lobi Opa Michael S. Sanggurdi, ini yang harus dipelajari...

Tuesday, April 05, 2005

Bumi Dipijak, Langit Dijunjung

Pagi-pagi anak-anak kosan udah ngamuk... bisalah pemicunya penghuni kamar 7. Dia kali ini berulah lagi, kalau kemarin-kemarin jemuran anak-anak yang kebetulan masuk wilayahnya disiram air, dilempar ke tanah, atau diinjak-injak kali ini jemuran Kang Wawan dikasih kotoran (yup that's a real shit!). Kang Muslimin sebagai orang yang dipercaya mati-matian menenangkan anak-anak agar nggak main kekerasan. Tapi bagaimanapun emosi anak-anak sudah terlanjur naik, semua (sepertinya begitu...) udah sepakat untuk ngusir. Sebenarnya masalahnya kecil ya? Hanya nggak mau bergaul dan nggak mau berinteraksi dengan tetangga tapi ternyata efeknya besar. Benar kata pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung... kita disini sudah seperti keluarga, tapi anehnya ada satu orang datang dan ingin menerapkan peraturannya sendiri... dia membuat garis batas yang tidak boleh dilanggar, membuat peraturan dan etika sendiri bahkan menetapkan jenis hukuman yang pantas bagi pelanggarnya. Dia tidak berhitung bahwa ia adalah orang baru dan ketika ia masuk dalam komunitas maka ia harus mematuhi peraturan dan etika dikomunitas tersebut. Tidak mengindahkan atau menghina aturan yang ada membuat kita akan di "hukum" oleh komunitas tersebut.
Kasus ini adalah pelajaran berharga, buat penghuni kamar ke tujuh, anak-anak dan gue sendiri... pelajaran untuk bersosialisasi dan bertetangga.

Saturday, March 26, 2005

Bintang di Langit dan Rumput Tetangga (?)

Serba kebetulan rasanya, berawal dari invite-nya Mike di Friendster trus berlanjut berturut-turut teman-teman SMA masuk kembali dalam hidup, beberapa saat kuliah pernah ketemu sebagian besar lagi tidak. Contohlah seperti Ruri, Danan, Haris dan beberapa teman-teman lain... kehilangan? Pasti, perasaan kehilangan itu pasti ada bahkan terkadang kalau sedang kumat "gloomy-nya" bisa merasa benar-benar sendirian... seolah didunia tidak ada orang lain bahkan seolah adapun mereka tidak peduli.
Dan momentum kedatangannya pun pas banget, akhir-akhir ini saya merasa kehilangan passion dalam bekerja. Tantangan seolah telah lama pergi atau paling tidak, adapun sama sekali tidak membawa kesenangan, rasanya jenuh banget.
Yah mungkin salah satunya nggak ada mitra atau rival dalam kerja jadi nggak ada dialog dalam pekerjaan... nggak ada debat semua lempeng-lempeng aja. Ada tugas... dikerjain lalu kalau sudah ya selesai. Kalau terus-terusan bisa berakibat kurang baik buat saya sendiri, paling tidak saya nggak akan berkembang dan berhenti sampai disini.

Image hosted by Photobucket.com

Saat browsing teman-teman di Friendster lalu baca biodata mereka, rasanya sangat impresif banget.
Ada yang sudah jadi staff khusus di DPR, ada juga yang saat ini tinggal di Singapura dan Perth, juga ada yang kerja di Jepang bahkan Danan pun yang baru saja chating dengan saya hari ini sudah lebih dulu jago dengan Flash, sementara saya baru saja mulai belajar. Soal film juga ternyata Danan pernah dapat tentor Nia Dinata untuk penggarapan film dalam Close Up Movie Contest 2004... saya ketinggalan jauh serasa saya bukan siapa-siapa dihadapan mereka. memang ada nada-nada menghibur dari mereka seperti "memang rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri" ataupun "kerja di Aa Gym juga hebat kok" tapi saya merasa ada yang kurang dalam hidup. Seperti ada yang masih digapai... seperti masih ada bintang di langit yang masih harus saya raih. Inilah passion yang sudah sekian lama hilang...
Terimakasih kepada teman-teman yang telah memberi inspirasi...
juga kepada Friendster...
juga kepada Allah yang telah menciptakan segalanya ada...

Wednesday, February 23, 2005

Antara Film Dakwah dan Dakwah Lewat Film

Jika anda termasuk orang yang cukup beruntung, cobalah untuk mengarahkan chanel televisi anda ke Sundance Channel. Pada hari ini (18/02/05) di Sundance Channel akan diputar tiga buah masterpiece dari tiga orang sutradara Muslim yaitu “Osama” karya sutradara Afganistan Siddiq Barmak, “Our Father” atau “Abouna” sebuah film dari Chad karya Mahamat-Saleh Haroun serta “Marathon” karya Amir Naderi seorang sutradara kampiun Iran.

Adalah sesuatu hal yang menarik jika tiga film ini masuk dalam daftar screening di Sundance Channel, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa Sundance Channel identik dengan Sundance Institute, sebuah lembaga yang didirikan oleh Robert Redford pada tahun 1981 di Utah, Amerika Serikat. Lembaga ini sejak didirikan telah didedikasikan bagi para sineas indipenden yang berkarya diluar Hollywood. Bahkan sekarang Sundance Institute dengan Sundance Film Festival-nya yang digelar setiap bulan Januari di kota Utah menjadi suatu barometer perfilman independen di seluruh dunia.

Ketiga film itu bergenre Feature dan mengangkat tema tentang manusia, kehidupannya serta segala permasalahan yang dihadapi. Seperti “Osama” yang menceritakan perjuangan tiga wanita untuk bertahan hidup dalam masa pemerintahan rezim Taliban, atau kisah mengenai misteri kehidupan yaitu cinta dan kematian dalam “Our Father” atau arti sebuah kemenangan dalam “Marathon”. Ketiga film itu secara cerdas menyentil kehidupan kita sehari-hari, sesuatu yang berada dibalik layar suatu peristiwa atau hal-hal kecil yang terkadang kita kurang perhatikan.


Osama
Film Osama mengambil setting masa-masa awal pemerintahan rezim Taliban pada akhir perang Afgan 2001. Pada masa itu Taliban memberlakukan hukum Islam yang keras dan cukup ketat, diantaranya adalah adanya larangan bagi wanita untuk keluar rumah tanpa didampingi suami atau muhrimnya. Disinilah masalah bergulir, tersebutlah tiga wanita Afgan yaitu Marina, ibu serta neneknya yang hidup tanpa didampingi pria seorangpun. Kehidupan menjadi sulit karena tidak ada satupun dari mereka yang bisa keluar rumah untuk mencari nafkah. Akhirnya Marina harus menyamar sebagai anak laki-laki agar dapat bekerja disebuah toko susu milik sahabat ibunya.
Namun masalah muncul ketika oleh taliban semua anak laki-laki diwajibkan untuk bersekolah di madrasah. Disini identitasnya beberapa kali nyaris terungkap seperti ketika ia harus memanjat pohon dan takut untuk turun, saat itulah seorang teman datang dan membantu. Dari teman itulah nama samaran Osama muncul, sebuah nama yang diharapkan akan memancing rasa segan teman-teman sebayanya.
Suatu saat kebohongannya terungkap, Osama tidak dapat mengelak ketika ia mendapat haid pertama disekolah. Karena itu kemudian ia ditangkap serta dibawa kepengadilan.

Our Father
Our Father bercerita tentang dua bersaudara Tahir dan Amine yang ditinggalkan oleh ayah mereka disuatu pagi, mereka tidak tahu apa yang menjadi alasan kepergian Ayah mereka. Padahal pada hari itu ayah mereka akan menjadi wasit pada pertandingan sepakbola anak-anak antar tetangga. Kemudia mereka berdua pergi untuk mencari ayah mereka di seluruh penjuru kota. Setelah mencari ketempat-tempat yang biasa ayah mereka kunjungi, mereka akhirnya kecewa karena ayah mereka tak juga mereka temukan. Alih-alih bersekolah mereka lebih memilih meneruskan mencari ayah mereka sepanjang hari itu. Pengembaraan mereka akhirnya membawa mereka kesebuah arena layar tancap, dan saat itulah mereka mengira menemukan ayah mereka dalam film yang sedang diputar, hingga membuat mereka nekat mencuri film tersebut. Singkat kata mereka kemudian ditangkap dan dikirimkan ke sebuah pesantren oleh ibu mereka.

Marathon
Film ini berkisah tentang Grechen (Sara Paul) yang terobsesi untuk memecahkan rekor bagi dirinya sendiri untuk menyelesaikan 77 teka-teki silang dalam 24 jam.
Uniknya ia justru dapat berkonsentrasi ketika ia dalam kerumunan manusia dan suara riuh, oleh karena itulah ia memilih untuk mengerjakan teka-teki silangnya selagi menumpang bis atau kereta bawah tanah New York. Film ini sangat sepi bahkan minimalis, ini merupakan karya Amir Naderi yang menangkap kota New York dari satu sudut pandang yang berbeda, serta arti kata “kemenangan” yang berbeda bagi tiap-tiap orang.

Melihat serta membandingkan tiga karya tersebut antara karya dan orang yang membuatnya, ada satu tanda tanya besar dan membuat saya teringat kembali pada diskusi saat Jiffest Goes To Pesantren tahun 2004 lalu. Pertanyaan itu adalah, “Apakah film dakwah itu?”
Sulit mencari definisi yang paling tepat dari “film dakwah” itu, apakah film yang menampilkan simbol-simbol keislaman seperti yang dimunculkan dari figur para mulah dan prajurit Taliban yang bersurban dalam Osama atau film yang bebas, yang universal tanpa simbol-simbol keislaman namun didalamnya terkandung nilai-nilai moral universal. Bisa jadi nilai-nilai moral kehidupan ini yang dicoba diangkat oleh dua sutradara terakhir yaitu Mahamat-Saleh Haroun dan Ahmad Saderi, nilai-nilai tentang misteri dari kehidupan berupa kematian dan cinta serta arti kemenangan bagi seseorang menjadi semacam penyadaran bagi kita... orang-orang yang saat ini sedang sibuk dalam alam dunianya masing-masing.

Mungkin kita akan tertawa atau mungkin kesal akan tingkah seorang gadis yang seharian bertualang di jalan-jalan kota New York hanya karena ingin memecahkan record yang berarti buat dirinya sendiri... mengerjakan 77 teka-teki silang! Namun bisa jadi disisi yang lain kita menjadi tersadar bahwa kita sedang disindir, ya tanpa sadar kita melakukan hal yang tak kalah konyolnya seperti ngebut dijalan raya padahal kita tidak sedang bertanding dengan siapapun ataupun merasa hebat saat memakai sepatu merek tertentu. Disini kita memperoleh semacam kesadaran oleh film-film yang bahkan tidak memunculkan atribut atau simbol-simbol keislaman, justru Osama yang sarat dengan simbol-simbol itu terkesan mendiskreditkan Islam. Tapi apa yang ditampilkan Osama sebenarnya suatu “sindiran” akan aturan Islam yang diterapkan secara tidak bijaksana dan kaku.
Kemudian kita kembali ke pertanyaan, “Apa film dakwah itu?” Dari sekelumit uraian diatas kita dapat mencoba menarik suatu kesimpulan, bahwa film dakwah ataupun dakwah melalui film tidak melulu harus menonjolkan atribut ataupun simbol-simbol Islam. Namun bisa juga disampaikan melalui kebenaran universal, ia akan berefek langsung ke dalam relung kesadaran setelah penonton mampu mengambil hikmah dari film tersebut.

(dimuat di CyberMQ.com di rubrik artikel 18 Februari 2005)

Saturday, February 19, 2005

Upik Dalam Buaian (tentang saya dan perempuan)

Rasanya lucu, saat usia saya yang sudah seperempat abad ini masih belum bisa memahami wanita, baik karakter maupun apa yang ia inginkan. Padahal saya punya ibu, punya dua adik perempuan dan juga teman-teman perempuan tapi tetap saja itu bukan menjadi jaminan buat saya. Kalau dipikir-pikir Sigmund Freud sang Bapak Psikoanalisis saja yang sudah melalui 32 tahun masa studi tentang wanita tetap tidak bisa memahami wanita... apalagi saya? Memang sih ada satu sebab juga yang sering saya jadikan alasan, saya terlalu dini ikut gerakan dakwah... dulu sewaktu awal-awal masa SMA saya sudah bersentuhan dengan ROHIS. Dan salah satu yang menjadi penekanan dikalangan aktivisnya adalah pacaran itu haram! Tapi saya kira tidak perlulah mencari-cari alasan toh kesalahan itu ada disini, dalam diri saya pribadi... saya terlalu pemalu khususnya terhadap wanita. Tidak pernah ada dalam sejarah saya sampai saat ini menyatakan perasaan saya terhadap seorang wanita, tapi ada kelebihannya sih... jadi saya nggak pernah ngerasain bagaimana rasanya ditolak (he..he..).
Namun seiring bertambahnya usia saya harus berfikir ulang tentang episode kehidupan saya selanjutnya, suatu saat saya akan jauh dari keluarga saya saat ini dan mulai membangun suatu keluarga baru. Dan saat itulah saya akan perlu satu anggota tim untuk melengkapi, dan tidak bisa tidak anggota tim itu adalah wanita.
Dari sini saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang wanita, tentang dunianya, fikiran dan perasaannya... dan memang seperti apa yang ditemukan Pak Freud, saya tidak menemukan apa-apa! Tapi tentu saja tidak seekstrim itu, kalau dipikir-pikir saya masih menemukan sesuatu tentang apa yang diinginkan seorang wanita.
Apa yang diinginkan seorang wanita itu sebenarnya sederhana, begitu sederhananya sampai-sampai membuat pria tidak percaya. Keinginan itu adalah wanita hanya ingin dicintai dan dengan itu ia akan merasa aman dan nyaman bersama seorang pria. Aneh ya? Kata-kata itu saya dapat dalam film La Brassiere (kalau nggak salah eja), cerita tentang dua orang desainer pria yang ditantang merancang sebuah bra tanpa tanding. Ternyata proyek itu tidak hanya membuka pengetahuan mereka terhadap suatu produk tapi juga membuka pemahaman mereka terhadap wanita.
.............
Rasanya ingin juga pada suatu malam saat saya terbangun ada seseorang terlelap disamping saya, saya pun terdiam... tertegun memandang wajah cantiknya dalam keremangan malam. Ada banyak cerita yang saya dengar tentang kecantikan seorang wanita yang justru semakin terlihat ketika ia sedang tertidur, mungkin juga ilham dongeng "Sleeping Beauty" lahirnya dari sini.
Saya sendiri punya satu pengalaman tentang itu, tanpa sengaja saya pernah melihatnya tidur kelelahan dalam mobil yang mengantar kami pulang. Saat itu hanya ada keremangan lampu jalanan Cipaganti yang jatuh menerangi wajahnya yang terlelap bagai upik dalam buaian... cantik... hanya itu yang bisa saya katakan.

Thursday, February 17, 2005

Tentang Seseorang...

Sudah terlalu malam sih tapi rasanya ingin sekali menuliskan ini...
Waktu itu malam hari di Kaliurang, kita sedang kumpul bareng mengelilingi api unggun. Hari itu makrab saya ingat sekali karena saya termasuk satu dari angkatan 97 yang datang... maklumlah baru kali inilah kita jadi "kakak". Hari –teman saya sejak SMA- ada di situ juga, namun walau begitu disini secara formal ya... saya tetap kakak kelasnya. Kami ngobrol biasa sih sebagai teman, ngobrol ngalor-ngidul tentang pengalaman masing-masing selama setahun kita nggak pernah ketemu juga tentang teman-teman Hari yang baru. Di saat itulah Hari mengenalkan saya pada seseorang... orang yang menurut saya ramah dan manis. Hanya sampai disitu sih, saya tidak bisa melangkah lebih jauh lagi karena selain memang saya tidak pernah melakukannya saat itu juga saya masih terikat dengan norma di DKM kampus. Ya saat itu saya masih aktif terjun dibidang dakwah kampus.

Tiga tahun setelah itu hampir saya tidak pernah mendengar kabar tentang dia, hingga suatu saat tanpa sengaja di tahun 2001 kami ujian TA bareng dan lulus ditahun itu juga. Saya ingat kata-kata dia terakhir saat akan ujian TA, saat-saat ketika kami menunggu untuk dipanggil dosen penguji. Waktu itu kami mengobrol soal materi branding yang saya tulis saat itu dan mimpi-mimpi saya untuk mewujudkan branding, tidak hanya sebatas teori tapi menjadi kenyataan. Saat itu ia support banget dan ia bilang agar saya berani menunjukannya didunia nyata, alasan-alasan yang ia kemukakan logis dan masuk akal. Itulah salah satu alasan mengapa saat ini branding menjadi semacam obsesi saya sampai saat ini.

Lalu tidak lama kitapun lulus bareng dan malam saat acara pelepasan wisudawan saya berpikir rasanya nggak mungkin kita bisa ketemu lagi... rasanya saat itulah saya bisa melihatnya untuk terakhir kali. Namun kemudian rasa itu tertutup oleh eforia sebagai wisudawan baru.
Lama setelah itu ternyata saya diterima untuk magang di MQS, itulah awal saya mengenal DT dan Aa Gym lebih dekat. Saat itu saya hanya sebagai penjaga counter MQS dan tanpa sengaja saya bertemu dengan Mbak Erlin -senior saya di kampus- saat saya sedang bertugas, ia bilang tentang kemungkinan saya bisa ikut sebagai visualizer ditempatnya bekerja. Dan itulah awal pertemuan kami kembali. Tidak lama saya ditarik Pak Dudung yang baru keluar dari MQS untuk berwiraswasta... dan pada saat berbarengan Aa ingin mendirikan sebuah corporation dan kemudian masuklah Mbak Erlin dan timnya untuk mendirikan agency di MQ. Banyak kejadian kebetulan yang saling kait-mengait... termasuk ia yang berada di tim itu.
Semenjak itu barulah saya benar-benar bisa mengenal dia, dia nggak banyak berubah kala terakhir kami bertemu. Namun ia menjadi jauh berbeda ketika seseorang masuk dan mengubah keadaan. Saat itupun perusahaan mulai menjadi terbagi dalam dua kelompok, ada dua kekuatan yang berpengaruh di kantor. Saya tidak ingin terjebak saya berusaha netral meskipun kecondongan saya tetap menekankan kesederhanaan bersikap, maklumlah hasil didikan Jogja. Tapi ia berubah... seolah Jogja tidak pernah hadir dalam hidupnya.

Akhirnya perbedaan memuncak, hingga pada akhirnya Aa membagi perusahaan menjadi dua dan dimulailah babak baru. Selama dalam perusahaan berbeda saya banyak mendengar kabar kurang baik tentang dia, agak sedih memang namun saya pernah mendapat keterangan dari Aris yang merupakan teman sekolahnya waktu SMA. Aris bilang ia tergantung pada orang yang ia ikuti, kalau orangnya baik maka ia bisa menjadi baik, dan itulah yang saya yakini hingga kini. Sampai disini saya masih menyangkal ada "sesuatu" dalam diri, bahkan pada saat saya sedang akrab-akrabnya dengan Dewi sampai digosipin macam-macam yang saya ingat pertama saat pulang justru bukan Dewi... tapi dia.

Saat bete juga dia bisa membantu menghilangkan perasaan itu dan bisa menularkan aura cerianya... tapi terkadang bisa juga berlaku sebaliknya he..he..he...
Bagaimanapun saat terakhir bertemu lagi dengan dia anehnya ada perasaan... sayang, seperti sayangnya kakak ke adik. Rasanya bukan “nafs”, memang sih dia cantik tapi bukan ketertarikan seperti itu. Terkadang saya malah sebel dengan sikap dan tingkah lakunya, sampai-sampai di friendster saya tulis kalau dia adalah temen yang kalau jauh bikin kangen tapi kalau deket bikin sebel. he..he..he
Karena itu saya sampai rela malam-malam ke Ultimus untuk cari buku buat dia, hanya karena saya jadi terpaksa janji dengan dia. Aneh ya? seseorang bisa begitu mempengaruhi kita dan mengubah hidup kita. Tapi apakah saya bisa mengubah arah hidup dia? Entahlah itu masih menjadi tanda tanya besar buat saya hingga kini. Namun jika seseorang yang nyata tidak bisa mengubahnya bisakah seseorang yang tak nyata mengubahnya... seperti apa yang dilakukan seorang Minke kepada saya. Minke adalah tokoh imajinatif yang diangkat oleh Pramoedya dari kisah nyata seorang Raden Mas Tirto Adisuryo, jejak-jejaknya dalam empat buku yang mengurai kebangkitannya menjadi seorang manusia dewasa dan gagah telah menginspirasi banyak orang. Jika memang benar teorinya Hernowo bahwa buku atau teks adalah makanan jiwa dan penggerak bagi pikiran kita, saya harap “Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran” adalah awal...
...dan jika saatnya tiba saya harap dia akan menemukan yang terbaik bagi dirinya siapapun itu, meskipun orang itu bukan saya...

Saturday, February 12, 2005

Let Me Begin... a little story about The Milo

Gue ama Luky nonton band lagi di CCF, yang main Georgeous Smile, Homogenic, The Milo sama satu lagi aku lupa. Yang mau aku tulis sebenarnya tentang The Milo... khususnya motor mereka Adjie. Bukan hanya karena namanya yang sama tapi apa yang bisa saya ambil dari hidupnya.
Adjie pada awalnya gitaris Cherry Bombshell, band indie Bandung yang cukup beken pada masanya. Namun si Adjie ternyata kemudian memilih keluar dari band bukan karena konflik atau ketidakcocokan, tapi karena ia hanya ingin bermain musik yang sering ia dengarkan... musik-musik gloomy. Sekeluarnya ia dari Cherry Bombshell ia pun kemudian membentuk The Milo. Kalau dipikir-pikir apa nggak sayang ya? Sudah bagus di Cherry Bombshell, ini malah keluar dan membentuk band baru dengan aliran musik "galau" yang belum tentu ada yang mau dengar. Lagi pula musik "galau" yang mereka usung ini aneh dan cenderung berat.
Tapi satu yang bisa saya fahami, keputusannya untuk keluar dan membentuk band sendiri lebih kepada keinginannya untuk bermain dalam irama sendiri. Karena bermain dengan irama sendiri membuat perasaan kita lebih ringan dan bisa menikmati. Disana akan tercipta kepuasan meski untuk itu kita akan menjadi berbeda dimata orang lain. Namun hasilnya? Saat ini kala Cherry Bombshell kurang terdengar lagi gaungnya The Milo justru melejit! Publik ternyata bisa menerima jenis musik mereka, MTV pernah mereka sambangi bahkan beberapa karyanya sempat memenangkan penghargaan.
Ternyata memang lebih baik untuk memilih menjadi diri sendiri meskipun untuk itu tantangannya sangat berat, beberapa ada yang berhasil namun ada juga yang tidak. Namun ketika kita berusaha menjadi diri sendiri dan tetap konsisten, maka akan muncul hasilnya meski itu hanyalah kepuasan batin karena kita telah melakukan apa yang ingin kita lakukan.
So, let me begin... as myself!

Friday, January 28, 2005

Yang Terbaik Bagimu

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Reff :
Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

by Ada Band feat. Gita Gutawa

Friday, January 21, 2005

Idul Adha

Hari ini hari Idul Adha menurut pemerintah, di wisma suni kita melanjutkan tradisi yang diwariskan Mas Imron. Kita ngumpul bareng, bakar sate, trus dilanjutin dengan makan bareng, akrab banget. Akhir-akhir ini semenjak hampir separuh kosan eksodus setelah lebaran dan mulai disi oleh penghuni-penghuni baru kita jarang bisa ngumpul seperti ini. Dulu sering banget, Mas Imron yang mengajari kita untuk selalu kumpul untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan, walau cuma sekedar kongkow dan ngobrol ngalor-ngidul. Tapi itu efektif untuk menumbuhkan rasa saling memiliki diantara kami (terbukti seringnya sendal jepit ngilang karena dipinjam tanpa bilang he..he..). Setidaknya antar tetangga cukup peduli, rasa yang dua hari lalu saat kami penghuni lama ngobrol dikamar Mas Puji prihatinkan.
Tapi semangat itu saya harap akan kembali tumbuh, karena walau bagaimanapun kami tinggal dalam tempat yang sama, kami tetangga, teman dan keluarga bagi jiwa-jiwa perantau yang kesepian di tanah orang.
Sekarang saya mengerti kata-kata Mas Imron dulu yang selalu mendorong kebersamaan dikosan ini. Saya masih ingat beberapa tahun lalu ketika Mas Imron masih jadi tetangga kamar saya, sering mampir hanya sekedar untuk ngobrol. Sepele memang tapi memang itu adalah salah satu cara menjalin silaturahmi dengan tetangga, dengan saling mengunjungi agar kita merasa dekat.
Lucu, saat ini setelah dua pekan tsunami dan Mas Imron belum ada kabarnya di Aceh saya jadi ingat dia, hanya karena kami makan bareng...
Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima segala amalnya.

Thursday, January 20, 2005

Personal Branding

Sejak akhir masa magang saya di PIKE Surabaya, saya mulai terobsesi dengan branding. Brand dan branding menjadi satu jawaban bagi saya atas kesimpangsiuran dalam materi-materi periklanan di kampus waktu itu. Brand adalah jawaban mengapa harus ada positioning, brand juga menjawab kenapa diferensiasi muncul. Karena semua itu butuh pelaku atau alasan hal ikhwal itu kenapa harus ada. Ya kesemuanya itu bermuara pada brand dan branding adalah prosesnya.

Saya belajar bahwa brand juga punya kepribadian, ia juga "berpakaian" dan bersikap yang sesuai dengan kepribadiannya... yah seperti oranglah! Tapi juga ada tingkatan dimana brand menjadi semacam religi, sekedar simbol dan wakil dari komunitas, bahkan buat saya brand menjadi semakin "human".
Lalu tentu saja saya berusaha menerapkan pengetahuan ini dalam profesi saya sebagai desainer, beberapa kali saya membuat logo beserta manual guide-nya. Saya kira saya sudah membuat brand, karena pada tahapan manual guide, saya menciptakan suatu lingkungan yang mewakili logo dan kepribadiannya. Saat ini saya akui bahwa saya salah! Saya tidak membuat brand, hanya logo... meski cara kerja saya aneh yaitu dengan berusaha menangkap "aura" dari klien-klien yang saya tangani, tidak berarti logo yang saya buat memiliki "jiwa" yang mewakili brand... tidak! Ia hanya visualisasi dari "aura" yang saya tangkap itu tidak lebih!

Pembangunan merek lebih rumit dari sekedar membuat logo, kita harus menciptakan satu pribadi utuh. Dan untuk lebih menjiwainya, saya kira saya harus menjadi pribadi yang utuh terlebih dahulu! Mengapa?Karena untuk mencoba brand dalam tataran yang paling sederhana dan murah adalah mencobanya pada diri sendiri. Bagaimana mungkin saya bisa menangani suatu brand kalau ternyata mem-branding-kan diri sendiri saja belum mampu. Saya sudah coba sedikit demi sedikit seperti kredibilitas dan beberapa hal remeh lainnya, namun ternyata kunci membrandingkan diri itu adalah dengan menjadi diri sendiri! Saya selalu tergoda untuk "menjadi" orang lain, mungkin itu sudah bawaan dari orang berkarakter lemah seperti saya. Tapi tidak berarti takdir itu tidak bisa dirubah, itu sudah janji Allah bagi setiap orang yang mau berusaha. Dengan tekad kuat untuk menjadi diri sendiri, saya yakin semua orang bisa berubah. Namun tidak hanya itu, brand dan branding tidak lepas dari komunikasi, karena tanpa adanya komunikasi orang tidak akan pernah tahu suatu brand-kan? Dari sinilah proses berkembang bahkan Hermawan Kartajaya membuat buku berkaitan dengan personal branding ini, dan dia dalam bukunya hanya menerapkan 9 tahapan kerangka kerja Markplus dalam rangka "menjual diri".
Apa yang dirangkum Hermawan memang benar namun saya menyederhanakan kunci dari personal branding menjadi hanya dua hal, yaitu menjadi diri sendiri dan komunikasi.

Wallahu'alam bisahawab