Adalah sesuatu hal yang menarik jika tiga film ini masuk dalam daftar screening di Sundance Channel, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa Sundance Channel identik dengan Sundance Institute, sebuah lembaga yang didirikan oleh Robert Redford pada tahun 1981 di Utah, Amerika Serikat. Lembaga ini sejak didirikan telah didedikasikan bagi para sineas indipenden yang berkarya diluar Hollywood. Bahkan sekarang Sundance Institute dengan Sundance Film Festival-nya yang digelar setiap bulan Januari di kota Utah menjadi suatu barometer perfilman independen di seluruh dunia.
Ketiga film itu bergenre Feature dan mengangkat tema tentang manusia, kehidupannya serta segala permasalahan yang dihadapi. Seperti “Osama” yang menceritakan perjuangan tiga wanita untuk bertahan hidup dalam masa pemerintahan rezim Taliban, atau kisah mengenai misteri kehidupan yaitu cinta dan kematian dalam “Our Father” atau arti sebuah kemenangan dalam “Marathon”. Ketiga film itu secara cerdas menyentil kehidupan kita sehari-hari, sesuatu yang berada dibalik layar suatu peristiwa atau hal-hal kecil yang terkadang kita kurang perhatikan.

Osama
Film Osama mengambil setting masa-masa awal pemerintahan rezim Taliban pada akhir perang Afgan 2001. Pada masa itu Taliban memberlakukan hukum Islam yang keras dan cukup ketat, diantaranya adalah adanya larangan bagi wanita untuk keluar rumah tanpa didampingi suami atau muhrimnya. Disinilah masalah bergulir, tersebutlah tiga wanita Afgan yaitu Marina, ibu serta neneknya yang hidup tanpa didampingi pria seorangpun. Kehidupan menjadi sulit karena tidak ada satupun dari mereka yang bisa keluar rumah untuk mencari nafkah. Akhirnya Marina harus menyamar sebagai anak laki-laki agar dapat bekerja disebuah toko susu milik sahabat ibunya.
Namun masalah muncul ketika oleh taliban semua anak laki-laki diwajibkan untuk bersekolah di madrasah. Disini identitasnya beberapa kali nyaris terungkap seperti ketika ia harus memanjat pohon dan takut untuk turun, saat itulah seorang teman datang dan membantu. Dari teman itulah nama samaran Osama muncul, sebuah nama yang diharapkan akan memancing rasa segan teman-teman sebayanya.
Suatu saat kebohongannya terungkap, Osama tidak dapat mengelak ketika ia mendapat haid pertama disekolah. Karena itu kemudian ia ditangkap serta dibawa kepengadilan.
Our Father
Our Father bercerita tentang dua bersaudara Tahir dan Amine yang ditinggalkan oleh ayah mereka disuatu pagi, mereka tidak tahu apa yang menjadi alasan kepergian Ayah mereka. Padahal pada hari itu ayah mereka akan menjadi wasit pada pertandingan sepakbola anak-anak antar tetangga. Kemudia mereka berdua pergi untuk mencari ayah mereka di seluruh penjuru kota. Setelah mencari ketempat-tempat yang biasa ayah mereka kunjungi, mereka akhirnya kecewa karena ayah mereka tak juga mereka temukan. Alih-alih bersekolah mereka lebih memilih meneruskan mencari ayah mereka sepanjang hari itu. Pengembaraan mereka akhirnya membawa mereka kesebuah arena layar tancap, dan saat itulah mereka mengira menemukan ayah mereka dalam film yang sedang diputar, hingga membuat mereka nekat mencuri film tersebut. Singkat kata mereka kemudian ditangkap dan dikirimkan ke sebuah pesantren oleh ibu mereka.
Marathon
Film ini berkisah tentang Grechen (Sara Paul) yang terobsesi untuk memecahkan rekor bagi dirinya sendiri untuk menyelesaikan 77 teka-teki silang dalam 24 jam.
Uniknya ia justru dapat berkonsentrasi ketika ia dalam kerumunan manusia dan suara riuh, oleh karena itulah ia memilih untuk mengerjakan teka-teki silangnya selagi menumpang bis atau kereta bawah tanah New York. Film ini sangat sepi bahkan minimalis, ini merupakan karya Amir Naderi yang menangkap kota New York dari satu sudut pandang yang berbeda, serta arti kata “kemenangan” yang berbeda bagi tiap-tiap orang.
Melihat serta membandingkan tiga karya tersebut antara karya dan orang yang membuatnya, ada satu tanda tanya besar dan membuat saya teringat kembali pada diskusi saat Jiffest Goes To Pesantren tahun 2004 lalu. Pertanyaan itu adalah, “Apakah film dakwah itu?”
Sulit mencari definisi yang paling tepat dari “film dakwah” itu, apakah film yang menampilkan simbol-simbol keislaman seperti yang dimunculkan dari figur para mulah dan prajurit Taliban yang bersurban dalam Osama atau film yang bebas, yang universal tanpa simbol-simbol keislaman namun didalamnya terkandung nilai-nilai moral universal. Bisa jadi nilai-nilai moral kehidupan ini yang dicoba diangkat oleh dua sutradara terakhir yaitu Mahamat-Saleh Haroun dan Ahmad Saderi, nilai-nilai tentang misteri dari kehidupan berupa kematian dan cinta serta arti kemenangan bagi seseorang menjadi semacam penyadaran bagi kita... orang-orang yang saat ini sedang sibuk dalam alam dunianya masing-masing.
Mungkin kita akan tertawa atau mungkin kesal akan tingkah seorang gadis yang seharian bertualang di jalan-jalan kota New York hanya karena ingin memecahkan record yang berarti buat dirinya sendiri... mengerjakan 77 teka-teki silang! Namun bisa jadi disisi yang lain kita menjadi tersadar bahwa kita sedang disindir, ya tanpa sadar kita melakukan hal yang tak kalah konyolnya seperti ngebut dijalan raya padahal kita tidak sedang bertanding dengan siapapun ataupun merasa hebat saat memakai sepatu merek tertentu. Disini kita memperoleh semacam kesadaran oleh film-film yang bahkan tidak memunculkan atribut atau simbol-simbol keislaman, justru Osama yang sarat dengan simbol-simbol itu terkesan mendiskreditkan Islam. Tapi apa yang ditampilkan Osama sebenarnya suatu “sindiran” akan aturan Islam yang diterapkan secara tidak bijaksana dan kaku.
Kemudian kita kembali ke pertanyaan, “Apa film dakwah itu?” Dari sekelumit uraian diatas kita dapat mencoba menarik suatu kesimpulan, bahwa film dakwah ataupun dakwah melalui film tidak melulu harus menonjolkan atribut ataupun simbol-simbol Islam. Namun bisa juga disampaikan melalui kebenaran universal, ia akan berefek langsung ke dalam relung kesadaran setelah penonton mampu mengambil hikmah dari film tersebut.
(dimuat di CyberMQ.com di rubrik artikel 18 Februari 2005)

