Gue ama Luky nonton band lagi di CCF, yang main Georgeous Smile, Homogenic, The Milo sama satu lagi aku lupa. Yang mau aku tulis sebenarnya tentang The Milo... khususnya motor mereka Adjie. Bukan hanya karena namanya yang sama tapi apa yang bisa saya ambil dari hidupnya.
Adjie pada awalnya gitaris Cherry Bombshell, band indie Bandung yang cukup beken pada masanya. Namun si Adjie ternyata kemudian memilih keluar dari band bukan karena konflik atau ketidakcocokan, tapi karena ia hanya ingin bermain musik yang sering ia dengarkan... musik-musik gloomy. Sekeluarnya ia dari Cherry Bombshell ia pun kemudian membentuk The Milo. Kalau dipikir-pikir apa nggak sayang ya? Sudah bagus di Cherry Bombshell, ini malah keluar dan membentuk band baru dengan aliran musik "galau" yang belum tentu ada yang mau dengar. Lagi pula musik "galau" yang mereka usung ini aneh dan cenderung berat.
Tapi satu yang bisa saya fahami, keputusannya untuk keluar dan membentuk band sendiri lebih kepada keinginannya untuk bermain dalam irama sendiri. Karena bermain dengan irama sendiri membuat perasaan kita lebih ringan dan bisa menikmati. Disana akan tercipta kepuasan meski untuk itu kita akan menjadi berbeda dimata orang lain. Namun hasilnya? Saat ini kala Cherry Bombshell kurang terdengar lagi gaungnya The Milo justru melejit! Publik ternyata bisa menerima jenis musik mereka, MTV pernah mereka sambangi bahkan beberapa karyanya sempat memenangkan penghargaan.
Ternyata memang lebih baik untuk memilih menjadi diri sendiri meskipun untuk itu tantangannya sangat berat, beberapa ada yang berhasil namun ada juga yang tidak. Namun ketika kita berusaha menjadi diri sendiri dan tetap konsisten, maka akan muncul hasilnya meski itu hanyalah kepuasan batin karena kita telah melakukan apa yang ingin kita lakukan.
So, let me begin... as myself!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment