Saturday, July 30, 2005

Ekspresi itu sangat personal!

Berawal disela-sela kegiatan klab desain, saya ijin untuk kebelakang untuk memenuhi panggilan alam. Karena satu-satunya pintu kebelakang terletak dekat dengan TV dan ada kekhawatiran mengganggu konsentrasi teman-teman menonton saya memilih jalan memutar lewat toko buku, dan untuk itu tidak bisa tidak saya harus melewati meja kebesaran Mbak Tarlen. Setelah memenuhi panggilan alam tentu saya harus sekali lagi "mengganggu" mbak Tarlen dengan lewat meja kerjanya dan merusak konsentrasinya. Karena nggak enak iseng aja untuk "say hi" dan berbasa-basi bertanya tentang hal yang sedang dikerjakannya saat itu. Lalu entah bagaimana obrolan melebar sampai ke lomography dan kamera lomo itu sendiri, baik dari jenis-jenisnya, hasil yang didapat dari kamera miliknya sampai keinginan untuk membentuk klub.
Pembicaraan jadi tambah ramai setelah Ratih gabung, rupanya keduanya sudah kenal lama dan menyukai lomography. Sementara saya hanya terbengong-bengong karena tidak begitu faham, saya mengerti arti lomography bagi mereka yaitu ekspresi beda dalam berkarya. Hal ini dimungkinkan karena hasil dari kamera lomo sendiri selalu tidak bisa ditebak, mungkin sang fotografer sama sekali tidak bisa menebak hasilnya saat membidik melewati viewfinder yang sangat sederhana (cuma sekedar bingkai kotak bayangin!) sangat berbeda dengan teknologi digital saat ini yang maunya WYSIWYG. Hasil tak diduga itu melanggar semua pakem-pakem fotografi yang saya kenal sampai hari ini dan hasilnya kebebasan absolut dalam berekspresi.

Agak berbeda dari saya yang memilih fotografi bukan sebagai media ekspresi tapi terapi... terapi buat kepercayaan diri! Mungkin sama juga dengan media tulis yang mulai saya sukai akhir-akhir ini, menulis adalah terapi terutama tulisan yang banyak menggunakan sudut pandang orang pertama dan menggunakan kata ganti "saya". Agak narsis ya? Tapi menurut Mas Hari hal ini diperlukan untuk melatih kita memfokuskan pikiran agar tidak meloncat-loncat, memang ada teori berfikir divergen untuk keperluan berfikir kreatif namun akan sangat mengganggu jika kita terus menerus berfikir divergen. Dengan menulis saya mulai menjelajah diri saya sendiri, fikiran, perasaan dan hal-hal yang terkadang tidak bisa diungkap seperti kegelisahan tanpa sebab atau perasaan "gloomy" yang kadang datang tiba-tiba. Dalam satu sesi psikopop, dijelaskan bagaimana kadang perasaan "BT" tanpa sebab ternyata adalah salah satu ekspresi marah. Dan marah seringkali muncul karena espektasi kita yang terlalu tinggi sementara kenyataan dilapangan sangat jauh berbeda. Hal-hal seperti ini yang selalu menjadi misteri bagi saya yang harus diungkap, dituangkan sehingga tidak mengendap di kepala dan hati. Oleh karena itu saat ini keberadaan komputer, internet dan kamera digital menjadi semacam kebutuhan bagi saya. Saya nggak pernah tahu kapan "kegelisahan" itu akan datang, dan saya nggak tahu harus dengan terapi apa "kegelisahan" itu akan hilang.
Media ekspresi bagi tiap orang berbeda-beda, mengutip perkataan Mbak Tarlen tadi, "Nggak bisa dong dibandingkan antara spagheti dengan rendang padang!" ya, masing-masing punya ciri khas dan masing-masing tergantung selera kita.
Ekspresi itu sangat bergantung pada selera dan kebutuhan masing-masing, tidak tergantung mode ataupun ruang waktu.

No comments: