Saturday, July 09, 2005

Pengaruh Film Dalam Tren

Ada yang terlupa nih! Kemarin juga pembicaraan sempat melebar ke bagaimana suatu tren bisa ditularkan, salah satunya adalah dengan agenda setting. Nah selain itu film ternyata juga merupakan senjata yang ampuh untuk mencapai tujuan tersebut. Karena film selain memiliki kelebihan audio-visual juga mempunyai alur cerita yang kuat, promosi disekitar film berupa iklan dan publisitas (termasuk didalamnya word of mouth), properti yang digunakan didalam film, dan para pemeran film itu sendiri. Bahkan sebuah film sekaliber starwars bisa meraup untung besar dalam menjual merchendise. Sebuah contoh yang kemudian ditiru oleh film-film Indonesia, katakanlah novel "Eifel I'm in Love", AADC yang sempat membuat buku "Aku" beredar kembali, novel dan komik "mengejar matahari", juga novel-novel dari film Indonesia yang lain. Dengan keberadaan VCD, buku dan merchendise-merchendise lain maka pengaruh sebuah film akan lebih sempurna.

Saya jadi teringat sebuah episode film Southpark yang berjudul Chinpokomon. Disana digambarkan suatu strategi baru Jepang dalam mengalahkan Amerika, yaitu dengan meracuni fikiran anak-anak Amerika dengan film Chinpokomon. Di film itu digambarkan betapa anak-anak Amerika menjadi sangat gandrung akan film tersebut, bahkan mereka mengalami cuci otak dengan slogan "to fight the evil power" hanya dalam Chinpokomon anak-anak tidak diperlihatkan secara gamblang siapa "the evil power" itu. Tak lama merchendise Chinpokomon keluar dan ternyata pesan-pesan terselubung disusupkan dalam mainan-mainan itu. Katakanlah game yang ternyata mengajak anak-anak Amerika untuk membom "the evil power" di Pearl Harbor (pangkalan Amerika di Hawaii yang menjadi korban serangan udara Jepang) juga action figure yang bisa bicara dan salah satu kata-katanya adalah ajakan untuk menghancurkan Amerika. Pada puncaknya ada semacam camp bagi penggemar Chinpokomon diseluruh Amerika, dan disanalah anak-anak tadi dibrainwash kemudian digiring ke pangkalan udara Jepang untuk mengendarai pesawat dan membom sasaran-sasaran di Amerika.

Image hosted by Photobucket.com

Meskipun singkat film itu bisa dijadikan gambaran bagaimana menggunakan media -dan film khususnya- untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dalam hal ini adalah menciptakan suatu tren. Oleh karena itu dalam diskusi kali ini juga Shaffiq memaparkan kemungkinan tren kedepan setelah melihat film Gie, Hotel Rwanda dan sejenisnya yang akan dan sedang tayang saat ini. Bisa jadi -dengan nada berseloroh- tren kedepan adalah demo, jadi nggak keren kalo nggak demo. Tapi yang jelas desain-desain seperti grafis dalam film Gie saat ini sudah sering digunakan dalam desain cover buku-buku terbitan Insist, desain destruktif yang mengandung spirit rebel.

No comments: