Wednesday, August 24, 2005

Sekarang giliran gue?

Akhir-akhir ini terlalu banyak kebetulan yang terjadi, seolah-olah saya sedang diarahkan kepada sesuatu... menikah! Ya, setelah pernikahan kakak bulan Juni lalu pandangan orang tua selanjutnya tertuju ke saya sebagai anak laki-laki kedua. Tidak terlalu cepat? Rasanya nggak, selisih usia kakak dengan saya hanya terpaut satu tahun. Oleh karena itu menjadi satu hal yang biasa buat saya kalau saya selalu mengalami apa yang didapat kakak saya satu tahun sebelumnya. Contoh masuk sekolah pertama (buat anak-anak peristiwa besar loh!), masuk smp, sma, kuliah bahkan sampai ke lungsuran buku dan pakaian-pakaian kakak... yah kami bukan keluarga yang tergolong berlebih jadi hal yang seperti ini sering terjadi. Ada untungnya juga jadi seperti ini, saya bisa mengamati dan mengantisipasi segala permasalahan yang mungkin akan terjadi (soalnya sudah ada contohnya hehehe...). Mungkin ini juga yang jadi sebab saya menjadi manusia pembelajar tipe ke tiga, yang belajar dari mencontoh orang lain... Wallahu'alam.

Kembali ke masalah awal, saat ini setelah pernikahan kakak perusahaan diambil alih dari corporate ke anak perusahaan lain. Dan ternyata hal ini membawa konsekuensi kepada kenaikan gaji yang signifikan, kepindahan yang harus dari kosan karena akan direnovasi, teman-teman yang ujug-ujug menyarankan menikah (padahal terkadang nggak nyambung dengan topik obrolan kami) dan terakhir didaftarkan perusahaan untuk ikut bimbingan pranikah tanggal 27 besok. Padahal yang lebih perlu seperti Pak Lee masih ada... kok saya yang dipilih! Mungkin mudah saja semua hal itu dianggap sebagai pertanda suatu keharusan, tapi pertanyaannya dengan siapa? Teman-teman wanita mungkin banyak tapi nggak ada satupun yang benar-benar dekat, beberapa kebetulan lagi-lagi terjadi. Seperti telepon dari Mbak Erlin ke kantor yang nggak tau sebabnya tiba-tiba membicarakan tentang dia, dia yang katanya dititipkan orang tuanya ke Mbak Erlin untuk dijaga... dan "mungkin" kata Mbak Erlin sekarang giliran saya untuk menjaganya. Juga kabar dari Pak Karim yang aneh disuatu pagi yang mengisukan saya akan menikah (bingung kan? padahal baru aja niat kok sudah ada yang mengkonfirmasi) dan kata Pak Karim lagi kabar itu datangnya dari dia. Serba kebetulan memang, meskipun sebagai muslim saya sangat percaya dan pasrah pada takdir, sebagai orang Jawa saya juga agak percaya pada pratanda. Apalagi sebuah kebetulan lagi terjadi, kantornya yang sebelumnya dipindahkan ke Jakarta tahun ini kembali lagi ke Bandung.
Bimbang... karena meskipun saya percaya pada takdir dan pratanda tapi saya tetap tidak bisa melangkahi takdir. Oleh karena itu saya minta kepada Allah dalam doa-doa saya untuk mendekatkan dan memudahkan apabila memang itu yang menjadi keputusan-Nya dan memohon kelapangan hati apabila bukan ia yang menjadi ketentuan-Nya. (meski ditambah juga kalimat ...sesungguhnya Engkau Maha Tahu apa yang aku inginkan ya Allah... hehehe doanya gitu banget ya!)

Sekarang jadi bingung lagi, sudah lama kosan itu dianggap "keramat" karena jika ada dua orang sekamar maka salah satu akan keluar karena sudah menikah. Contoh Kang Ali dan temannya, nggak berapa lama temannya dapat jodoh dan menikah, terus saya datang dan nggak lama Kang Ali dapat jodoh dan menikah, terus Yoyon dapat Mbak Erlin terus nikah. Nah kan tinggal saya tuh yang belum juga, dan sekarang ada teman dari Jogja sedang tes di Pikiran Rakyat. Katanya besok wawancara terakhir dan kalau keterima ya resmi sudah jadi orang Bandung... artinya tu kamar ada pendatang baru... artinya... apa sekarang giliran gue?!!! Dan jika iya apa dengan dia... si upik dalam buaian.
Meskipun saya pernah menulis saya menginginkan yang terbaik buat dia, namun ada perasaan nggak rela (hehehe namanya juga manusia biasa...)

I do, I do, I do, Ido I do love you
I do, I do, I do, Ido I do need you
I do, I do, I do, Ido I do think about you
Theres nothing more that i want but you

No comments: