
Hari ini saya jadi semakin tahu arti pentingnya setetes darah bagi manusia lain. Ini gara-gara ada adik salah satu orang kantor yang mengalami pendarahan saat bersalin, karena darah Abang O dan yang dibutuhkan kebetulan sama, maka Abang segera pergi ke kantor PMI. Saya kebetulan ikut, sekedar menemani dan untuk memotret... ya paling nggak buat stok foto redaksi.
Pak Levy sudah menunggu di kantor PMI di jalan Aceh, dan nampak sumringah ketika kami tiba (mungkin terbayang stok darah yang banyak ketika melihat badan Abang yang tidak langsing hehehe...). Sepeminum teh kemudian Abang pun sudah antri untuk diperiksa golongan darahnya dan tak lama antri juga untuk diambil darahnya. Disela-sela itulah saya dan Pak Levy berbicara banyak tentang susahnya mencari darah untuk adiknya, salah satu sebabnya ternyata adalah semua RS di Bandung mengambil darah di kantor PMI ini. Bahkan hingga RS di Ujung Berung pun jika mengambil darah harus kesini, belum lagi kalau persediaan darah sedang kosong. Harus dicari dulu, kemudian diseleksi dan terakhir harus diolah lagi agar steril. Jika pendonor datang jam 8 pagi untuk diambil darahnya, maka paling tidak jam satu siang baru darah tersebut bisa diambil. Kelambanan ini yang terkadang menjadi sebab pasien demam berdarah tidak tertolong jika wabah sedang berjangkit. Miris memang, entah kenapa RS-RS besar di Bandung tidak memiliki fasilitas pengolahan darah sehingga semua harus mengambil kesini. Apakah karena biaya investasi yang tinggi? Wallahu'alam tapi sejak hari ini pak Levy bertekad untuk teratur mendonorkan darahnya.
Dan saya sendiri? Ironis memang, ketika saya sudah tahu betapa pentingnya donor darah, tempat dan prosedurnya, kesaksian teman-teman yang mengatakan hanya sebentar dan tidak sakit... saya masih tetap takut dengan jarum! Padahal jarum ditancapkan hanya untuk lima menit, sementara jarum infus pernah menancap dipergelangan selama 4 hari, 24 jam nonstop! Jadi ketika ada permintaan darah golongan A datang sore ini untuk seorang santri MQ Guest House yang mengalami pendarahan di gusi... saya memilih untuk jadi orang yang terakhir :)
*PS:Ketakutan-ketakutan seperti ini yang selalu menghantui, padahal ini hanya ada difikiran saja. Jika kita berani mencoba dan memikirkan resiko seperlunya saya rasa kita akan bisa. Itu hikmah yang saya dapat hari ini :)


No comments:
Post a Comment