Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
Itulah kesempatan.
Ketika engkau bertemu dengan seseorang yang
membuatmu tertarik,
Itu bukan pilihan, itu kesempatan.
Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan
Itu pun adalah kesempatan
Bila engkau memutuskan untuk mencintai orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya,
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.
Ketika engkau memilih bersama dengan seseorang
Walau apapun yang terjadi
Itu adalah pilihan
Bahkan ketika kau menyadari
Bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik,
pandai, dan kaya daripada pasanganmu
Dan engkau tetap memilih untuk mencintainya,
Itulah pilihan
Perasaan cinta, simpatik, tertarik
Datang bagai kesempatan pada kita
Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.
------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini dikirimkan oleh seorang teman, karena saya anggap menarik maka ditampilkan di blog. Agak mengena juga saat awal-awal baca, mungkin karena hal seperti ini begitu dekat dengan keseharian kita. Terkadang kita menyia-nyiakan begitu banyak kesempatan karena kita sudah merasa memiliki pilihan, tanpa sadar sebuah pilihan itu ternyata juga hanyalah satu kesempatan.
Atau mungkin juga kita takut menghadapi kemungkinan yang ada di depan, karena seperti layaknya kesempatan adalah pintu menuju masa depan dan dunia yang berbeda. Sehingga kita mencoba mencari jalan yang aman-aman saja dan bisa kita perkirakan saat ini, namun siapa yang bisa memprediksi masa depan? Mr. Sayling Wen berkata kita tidak bisa memprediksi masa depan hanya bisa bersiap-siap menghadapai segala kemungkinan yang mungkin akan ada di depan.
Lalu? Justru saat ini saya baru sadar apa maksud dari hadist tentang 4 kriteria memilih calon pendamping, "Pilihlah wanita karena 4 perkara yaitu hartanya, kecantikannya, keturunannya atau agamanya. Namun pilihlah agamanya..." (saya agak lupa redaksionalnya, tapi intinya seperti itu). Tiga yang pertama adalah semacam jaminan untuk menghadapi masa depan, namun tiga hal itu tidak akan abadi. Justru kriteria yang terakhir yang punya potensi untuk lebih abadi, karena lebih menunjuk kepada sikap dan pandangan hidup atau dengan kata lain mentalitas. Mentalitas-lah yang membuat orang mampu menghadapi masa depan yang tidak dapat diduga. Jika orang kaya jatuh miskin, mentalitas entrepreneur-lah akan membuat dia bangkit kembali.
Kembali kepada kesempatan dan masa depan yang tidak dapat diduga, buang jauh-jauh ketakutan-ketakutan yang menghantui fikiran. Pertimbangkan resiko seperlunya dan berjalanlah!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment