Friday, January 28, 2005

Yang Terbaik Bagimu

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Reff :
Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

by Ada Band feat. Gita Gutawa

Friday, January 21, 2005

Idul Adha

Hari ini hari Idul Adha menurut pemerintah, di wisma suni kita melanjutkan tradisi yang diwariskan Mas Imron. Kita ngumpul bareng, bakar sate, trus dilanjutin dengan makan bareng, akrab banget. Akhir-akhir ini semenjak hampir separuh kosan eksodus setelah lebaran dan mulai disi oleh penghuni-penghuni baru kita jarang bisa ngumpul seperti ini. Dulu sering banget, Mas Imron yang mengajari kita untuk selalu kumpul untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan, walau cuma sekedar kongkow dan ngobrol ngalor-ngidul. Tapi itu efektif untuk menumbuhkan rasa saling memiliki diantara kami (terbukti seringnya sendal jepit ngilang karena dipinjam tanpa bilang he..he..). Setidaknya antar tetangga cukup peduli, rasa yang dua hari lalu saat kami penghuni lama ngobrol dikamar Mas Puji prihatinkan.
Tapi semangat itu saya harap akan kembali tumbuh, karena walau bagaimanapun kami tinggal dalam tempat yang sama, kami tetangga, teman dan keluarga bagi jiwa-jiwa perantau yang kesepian di tanah orang.
Sekarang saya mengerti kata-kata Mas Imron dulu yang selalu mendorong kebersamaan dikosan ini. Saya masih ingat beberapa tahun lalu ketika Mas Imron masih jadi tetangga kamar saya, sering mampir hanya sekedar untuk ngobrol. Sepele memang tapi memang itu adalah salah satu cara menjalin silaturahmi dengan tetangga, dengan saling mengunjungi agar kita merasa dekat.
Lucu, saat ini setelah dua pekan tsunami dan Mas Imron belum ada kabarnya di Aceh saya jadi ingat dia, hanya karena kami makan bareng...
Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima segala amalnya.

Thursday, January 20, 2005

Personal Branding

Sejak akhir masa magang saya di PIKE Surabaya, saya mulai terobsesi dengan branding. Brand dan branding menjadi satu jawaban bagi saya atas kesimpangsiuran dalam materi-materi periklanan di kampus waktu itu. Brand adalah jawaban mengapa harus ada positioning, brand juga menjawab kenapa diferensiasi muncul. Karena semua itu butuh pelaku atau alasan hal ikhwal itu kenapa harus ada. Ya kesemuanya itu bermuara pada brand dan branding adalah prosesnya.

Saya belajar bahwa brand juga punya kepribadian, ia juga "berpakaian" dan bersikap yang sesuai dengan kepribadiannya... yah seperti oranglah! Tapi juga ada tingkatan dimana brand menjadi semacam religi, sekedar simbol dan wakil dari komunitas, bahkan buat saya brand menjadi semakin "human".
Lalu tentu saja saya berusaha menerapkan pengetahuan ini dalam profesi saya sebagai desainer, beberapa kali saya membuat logo beserta manual guide-nya. Saya kira saya sudah membuat brand, karena pada tahapan manual guide, saya menciptakan suatu lingkungan yang mewakili logo dan kepribadiannya. Saat ini saya akui bahwa saya salah! Saya tidak membuat brand, hanya logo... meski cara kerja saya aneh yaitu dengan berusaha menangkap "aura" dari klien-klien yang saya tangani, tidak berarti logo yang saya buat memiliki "jiwa" yang mewakili brand... tidak! Ia hanya visualisasi dari "aura" yang saya tangkap itu tidak lebih!

Pembangunan merek lebih rumit dari sekedar membuat logo, kita harus menciptakan satu pribadi utuh. Dan untuk lebih menjiwainya, saya kira saya harus menjadi pribadi yang utuh terlebih dahulu! Mengapa?Karena untuk mencoba brand dalam tataran yang paling sederhana dan murah adalah mencobanya pada diri sendiri. Bagaimana mungkin saya bisa menangani suatu brand kalau ternyata mem-branding-kan diri sendiri saja belum mampu. Saya sudah coba sedikit demi sedikit seperti kredibilitas dan beberapa hal remeh lainnya, namun ternyata kunci membrandingkan diri itu adalah dengan menjadi diri sendiri! Saya selalu tergoda untuk "menjadi" orang lain, mungkin itu sudah bawaan dari orang berkarakter lemah seperti saya. Tapi tidak berarti takdir itu tidak bisa dirubah, itu sudah janji Allah bagi setiap orang yang mau berusaha. Dengan tekad kuat untuk menjadi diri sendiri, saya yakin semua orang bisa berubah. Namun tidak hanya itu, brand dan branding tidak lepas dari komunikasi, karena tanpa adanya komunikasi orang tidak akan pernah tahu suatu brand-kan? Dari sinilah proses berkembang bahkan Hermawan Kartajaya membuat buku berkaitan dengan personal branding ini, dan dia dalam bukunya hanya menerapkan 9 tahapan kerangka kerja Markplus dalam rangka "menjual diri".
Apa yang dirangkum Hermawan memang benar namun saya menyederhanakan kunci dari personal branding menjadi hanya dua hal, yaitu menjadi diri sendiri dan komunikasi.

Wallahu'alam bisahawab


Wednesday, January 19, 2005

Manusia Bodoh

Dahulu terasa indah
Tak ingin lupakan
Bermesraan selalu jadi satu kenangan manis

Tiada yang salah
Hanya aku manusia bodoh
Yang biarkan semua ini permainkanku
Berulang ulang kali

Reff :
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir

Tapi sampai kapankah kuharus
Menanggungnya kutukan cinta ini
Bersemayam dalam kalbu

Tak ayal tingkah lakumu
Buatku putus asa
Kadang akal sehat ini
Belum cukup membendungnya

Hanya kepedihan
Yang selalu datang menertawakanku
Engkau belahan jiwa
Tega menari indah di atas tangisanku

Bridge :
Semua kisah pasti ada akhir
Yang harus dilalui
Begitu juga akhir kisah ini
Yakinku indah

ada band



-----------------------------------
Waktu gue nyari lagu ini buat dipasang di blog, ternyata gue bukan yang pertama (he..he...) Tapi bagaimanapun isi lagu ini "agak deket" dengan kondisi gue saat ini (^_^#), rasa "dikhianati" dengan orang yang selama ini mati-matian kita bela dan perjuangan. Meski kita bisa melatih diri untuk ikhlas... tapi yang bener aja sih! Geuleuh gitu loh!

Wednesday, January 12, 2005

Kalau nggak dipecat, ngapain keluar?

Ayah saya sakit, kalau kata versi adik saya sih nggak parah. Tapi bagaimanapun sakitnya ayah saya itu mengharuskannya menginap beberapa hari di rumah sakit. Yah mau gimana lagi? Meskipun darah tinggi Papah jarang sekali menjaga makanannya... Tapi sejak kejadian itu saya mulai mempertanyakan komitmen saya untuk perusahaan, sampai sejauh mana?

Bukan rahasia lagi, bagi saya tempat saya bekerja sekarang nggak lebih dari panggung Srimulat. Mengapa? Karena apa yang terjadi disini sehari-hari kalau dipikir-pikir selalu aneh dan kocak... Yah seperti kebijakan yang selalu berubah (sesuai dengan kehendak dan mood pemilik) padahal perusahaan ini sudah terhitung "terkemuka" sampai tempat makan mewah yang dibangun dan ternyata setelah berdiri nggak ada modal untuk menjalankannya (coba apa nggak lucu, lebih baik kan bikin yang biasa-biasa aja samapi cukup terkumpul modal untuk memperbaiki tempat he...he...he...). Marah? Itu dulu sekarang saya lebih suka menanggapinya dengan tertawa, ya kenapa harus pusing toh kita marah sekalipun Board of Director tetep adem ayem...
Namun justru disini letak masalahnya... kami disini dituntut memiliki komitmen yang tinggi bagi perusahaan (sama-lah dengan perusahaan yang lain) dan kami semua suka hati untuk menunjukkan komitmen itu, ya! Karena kami disini tidak hanya bekerja tapi juga berjuang!

Namun lama kelamaan seolah Allah membuka mata saya, sedikit demi sedikit terlihat apa yang terjadi sebenarnya, jelas sekali perusahaan ini milik keluarga dan tentu saja yang dibela ujung-ujungnya kepentingan keluarga. Saya masih tidak kehilangan respek pada pemilik, walau bagaimanapun saya masih melihat -setidaknya- 80 persen kebaikan yang beliau miliki. Lalu untuk apa begitu pusing memikirkan 20 persen sisanya?
Tapi tentu saja hal ini tidak membuat saya buta atau menjadi terlalu lugu untuk dibohongi, saya tahu sesuatu itu salah. Ketika saya sakit dan harus dirawat dirumah sakit, dan setelahnya ternyata biaya yang harusnya sebagian perusahaan tanggung ternyata tidak ditepati, pengembangan skill yang harus saya penuhi sendiri, sampai pemotongan gaji yang nggak jelas kemana larinya adalah jelas kezaliman. Hal inilah -dalam pandangan saya- menimbulkan ketidakberkahan dalam usaha dan bukannya keterlambatan karyawan atau pakaian yang tidak layak bagi lingkungan disini.

Sampai disini saya kembali mempertanyakan komitmen... tapi jelas komitmen tidak bisa dilihat dari ada tidaknya kita disini, tapi bisa ditanyakan ke dalam hati. Hatilah yang menjawab ketika saya tidak terlalu begitu peduli pada apa yang dilakukan perusahaan, tapi hati saya tidak dapat menolak apa yang terjadi pada rekan-rekan setim saya. Merekalah yang lebih layak diperjuangkan, karena mereka telah menunjukan lebih dari sekedar rekan kerja tapi sahabat sejati. Jadi masih ada banyak yang bisa dilakukan selain menunjukan ada tidaknya komitmen dengan keluar, lagipula masalah saya timbul bukan hanya karena penghargaan yang tidak sepadan tapi lebih pada kekurangmampuan me-manage diri utamanya yang berkaitan dengan pendapatan. Jadi inget judul buku terbitan Mizan "Kalau nggak dipecat, ngapain keluar?"

Monday, January 03, 2005

Mengejar Matahari



Hari minggu kemarin saya dan teman iseng-iseng menyewa film "Mengejar Matahari", sebenarnya film ini sudah lama tapi saya sengaja menunggu vcd-nya keluar. Cerita film ini berputar disekitar persahabatan empat orang Ardi, Apin, Damar dan Nino yang telah bersahabat sejak kecil di sebuah rusun kumuh Jakarta. Judulnya sendiri diambil dari permainan mereka saat kecil dan sudah menjadi ritual bagi mereka disetiap sore hari. Mereka akan berlari mengelilingi komplek dan akan berhenti di sebuah titik. Titik itu yang oleh Ardi dikatakan sebagai "matahari kedua" bagi mereka.
Cerita bergulir hingga terjadi dua peristiwa yang akan merubah kehidupan mereka selanjutnya, diawali dengan kedatangan Rara gadis manis saudara Nino di kompleks mereka. Kemudian disusul kedatangan Obet, musuh mereka sejak kecil. Rara menyebabkan Ardi dan Damar sampai berkelahi karena memperebutkannya, sedangkan Obet menebar ketakutan dan kemarahan kepada mereka. Hingga puncaknya Obet membunuh Apin, ketiga sahabat itu pun geram. Mereka berniat untuk membalas dendam, namun diantara mereka Damar-lah yang paling nekat. Ia kemudian membeli pistol dan menembak Obet...
Kehidupan terus bergulir, Damar akibat peristiwa itu dipenjara , Ardi meneruskan jejak ayahnya dan menjadi taruna Akpol sementara Nino mengambil S2 di Amerika. Ardi dan Nino tanpa sengaja bertemu kembali suatu ketika. Saat pertemuan itu terbayang kembali kenangan akan persahabatan mereka yang kini tercerai berai.

Adegan ditutup dengan ritual mengejar matahari antara Ardi dan Nino yang diikuti oleh bayangan samar Apin dan Damar. Saat adegan itu, Ardi mengucapkan kata-kata yang menggambarkan persahabatan mereka :
"...Orang datang dan pergi, tapi sahabat sejati akan selalu di hati..."