Wednesday, February 23, 2005

Antara Film Dakwah dan Dakwah Lewat Film

Jika anda termasuk orang yang cukup beruntung, cobalah untuk mengarahkan chanel televisi anda ke Sundance Channel. Pada hari ini (18/02/05) di Sundance Channel akan diputar tiga buah masterpiece dari tiga orang sutradara Muslim yaitu “Osama” karya sutradara Afganistan Siddiq Barmak, “Our Father” atau “Abouna” sebuah film dari Chad karya Mahamat-Saleh Haroun serta “Marathon” karya Amir Naderi seorang sutradara kampiun Iran.

Adalah sesuatu hal yang menarik jika tiga film ini masuk dalam daftar screening di Sundance Channel, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa Sundance Channel identik dengan Sundance Institute, sebuah lembaga yang didirikan oleh Robert Redford pada tahun 1981 di Utah, Amerika Serikat. Lembaga ini sejak didirikan telah didedikasikan bagi para sineas indipenden yang berkarya diluar Hollywood. Bahkan sekarang Sundance Institute dengan Sundance Film Festival-nya yang digelar setiap bulan Januari di kota Utah menjadi suatu barometer perfilman independen di seluruh dunia.

Ketiga film itu bergenre Feature dan mengangkat tema tentang manusia, kehidupannya serta segala permasalahan yang dihadapi. Seperti “Osama” yang menceritakan perjuangan tiga wanita untuk bertahan hidup dalam masa pemerintahan rezim Taliban, atau kisah mengenai misteri kehidupan yaitu cinta dan kematian dalam “Our Father” atau arti sebuah kemenangan dalam “Marathon”. Ketiga film itu secara cerdas menyentil kehidupan kita sehari-hari, sesuatu yang berada dibalik layar suatu peristiwa atau hal-hal kecil yang terkadang kita kurang perhatikan.


Osama
Film Osama mengambil setting masa-masa awal pemerintahan rezim Taliban pada akhir perang Afgan 2001. Pada masa itu Taliban memberlakukan hukum Islam yang keras dan cukup ketat, diantaranya adalah adanya larangan bagi wanita untuk keluar rumah tanpa didampingi suami atau muhrimnya. Disinilah masalah bergulir, tersebutlah tiga wanita Afgan yaitu Marina, ibu serta neneknya yang hidup tanpa didampingi pria seorangpun. Kehidupan menjadi sulit karena tidak ada satupun dari mereka yang bisa keluar rumah untuk mencari nafkah. Akhirnya Marina harus menyamar sebagai anak laki-laki agar dapat bekerja disebuah toko susu milik sahabat ibunya.
Namun masalah muncul ketika oleh taliban semua anak laki-laki diwajibkan untuk bersekolah di madrasah. Disini identitasnya beberapa kali nyaris terungkap seperti ketika ia harus memanjat pohon dan takut untuk turun, saat itulah seorang teman datang dan membantu. Dari teman itulah nama samaran Osama muncul, sebuah nama yang diharapkan akan memancing rasa segan teman-teman sebayanya.
Suatu saat kebohongannya terungkap, Osama tidak dapat mengelak ketika ia mendapat haid pertama disekolah. Karena itu kemudian ia ditangkap serta dibawa kepengadilan.

Our Father
Our Father bercerita tentang dua bersaudara Tahir dan Amine yang ditinggalkan oleh ayah mereka disuatu pagi, mereka tidak tahu apa yang menjadi alasan kepergian Ayah mereka. Padahal pada hari itu ayah mereka akan menjadi wasit pada pertandingan sepakbola anak-anak antar tetangga. Kemudia mereka berdua pergi untuk mencari ayah mereka di seluruh penjuru kota. Setelah mencari ketempat-tempat yang biasa ayah mereka kunjungi, mereka akhirnya kecewa karena ayah mereka tak juga mereka temukan. Alih-alih bersekolah mereka lebih memilih meneruskan mencari ayah mereka sepanjang hari itu. Pengembaraan mereka akhirnya membawa mereka kesebuah arena layar tancap, dan saat itulah mereka mengira menemukan ayah mereka dalam film yang sedang diputar, hingga membuat mereka nekat mencuri film tersebut. Singkat kata mereka kemudian ditangkap dan dikirimkan ke sebuah pesantren oleh ibu mereka.

Marathon
Film ini berkisah tentang Grechen (Sara Paul) yang terobsesi untuk memecahkan rekor bagi dirinya sendiri untuk menyelesaikan 77 teka-teki silang dalam 24 jam.
Uniknya ia justru dapat berkonsentrasi ketika ia dalam kerumunan manusia dan suara riuh, oleh karena itulah ia memilih untuk mengerjakan teka-teki silangnya selagi menumpang bis atau kereta bawah tanah New York. Film ini sangat sepi bahkan minimalis, ini merupakan karya Amir Naderi yang menangkap kota New York dari satu sudut pandang yang berbeda, serta arti kata “kemenangan” yang berbeda bagi tiap-tiap orang.

Melihat serta membandingkan tiga karya tersebut antara karya dan orang yang membuatnya, ada satu tanda tanya besar dan membuat saya teringat kembali pada diskusi saat Jiffest Goes To Pesantren tahun 2004 lalu. Pertanyaan itu adalah, “Apakah film dakwah itu?”
Sulit mencari definisi yang paling tepat dari “film dakwah” itu, apakah film yang menampilkan simbol-simbol keislaman seperti yang dimunculkan dari figur para mulah dan prajurit Taliban yang bersurban dalam Osama atau film yang bebas, yang universal tanpa simbol-simbol keislaman namun didalamnya terkandung nilai-nilai moral universal. Bisa jadi nilai-nilai moral kehidupan ini yang dicoba diangkat oleh dua sutradara terakhir yaitu Mahamat-Saleh Haroun dan Ahmad Saderi, nilai-nilai tentang misteri dari kehidupan berupa kematian dan cinta serta arti kemenangan bagi seseorang menjadi semacam penyadaran bagi kita... orang-orang yang saat ini sedang sibuk dalam alam dunianya masing-masing.

Mungkin kita akan tertawa atau mungkin kesal akan tingkah seorang gadis yang seharian bertualang di jalan-jalan kota New York hanya karena ingin memecahkan record yang berarti buat dirinya sendiri... mengerjakan 77 teka-teki silang! Namun bisa jadi disisi yang lain kita menjadi tersadar bahwa kita sedang disindir, ya tanpa sadar kita melakukan hal yang tak kalah konyolnya seperti ngebut dijalan raya padahal kita tidak sedang bertanding dengan siapapun ataupun merasa hebat saat memakai sepatu merek tertentu. Disini kita memperoleh semacam kesadaran oleh film-film yang bahkan tidak memunculkan atribut atau simbol-simbol keislaman, justru Osama yang sarat dengan simbol-simbol itu terkesan mendiskreditkan Islam. Tapi apa yang ditampilkan Osama sebenarnya suatu “sindiran” akan aturan Islam yang diterapkan secara tidak bijaksana dan kaku.
Kemudian kita kembali ke pertanyaan, “Apa film dakwah itu?” Dari sekelumit uraian diatas kita dapat mencoba menarik suatu kesimpulan, bahwa film dakwah ataupun dakwah melalui film tidak melulu harus menonjolkan atribut ataupun simbol-simbol Islam. Namun bisa juga disampaikan melalui kebenaran universal, ia akan berefek langsung ke dalam relung kesadaran setelah penonton mampu mengambil hikmah dari film tersebut.

(dimuat di CyberMQ.com di rubrik artikel 18 Februari 2005)

Saturday, February 19, 2005

Upik Dalam Buaian (tentang saya dan perempuan)

Rasanya lucu, saat usia saya yang sudah seperempat abad ini masih belum bisa memahami wanita, baik karakter maupun apa yang ia inginkan. Padahal saya punya ibu, punya dua adik perempuan dan juga teman-teman perempuan tapi tetap saja itu bukan menjadi jaminan buat saya. Kalau dipikir-pikir Sigmund Freud sang Bapak Psikoanalisis saja yang sudah melalui 32 tahun masa studi tentang wanita tetap tidak bisa memahami wanita... apalagi saya? Memang sih ada satu sebab juga yang sering saya jadikan alasan, saya terlalu dini ikut gerakan dakwah... dulu sewaktu awal-awal masa SMA saya sudah bersentuhan dengan ROHIS. Dan salah satu yang menjadi penekanan dikalangan aktivisnya adalah pacaran itu haram! Tapi saya kira tidak perlulah mencari-cari alasan toh kesalahan itu ada disini, dalam diri saya pribadi... saya terlalu pemalu khususnya terhadap wanita. Tidak pernah ada dalam sejarah saya sampai saat ini menyatakan perasaan saya terhadap seorang wanita, tapi ada kelebihannya sih... jadi saya nggak pernah ngerasain bagaimana rasanya ditolak (he..he..).
Namun seiring bertambahnya usia saya harus berfikir ulang tentang episode kehidupan saya selanjutnya, suatu saat saya akan jauh dari keluarga saya saat ini dan mulai membangun suatu keluarga baru. Dan saat itulah saya akan perlu satu anggota tim untuk melengkapi, dan tidak bisa tidak anggota tim itu adalah wanita.
Dari sini saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang wanita, tentang dunianya, fikiran dan perasaannya... dan memang seperti apa yang ditemukan Pak Freud, saya tidak menemukan apa-apa! Tapi tentu saja tidak seekstrim itu, kalau dipikir-pikir saya masih menemukan sesuatu tentang apa yang diinginkan seorang wanita.
Apa yang diinginkan seorang wanita itu sebenarnya sederhana, begitu sederhananya sampai-sampai membuat pria tidak percaya. Keinginan itu adalah wanita hanya ingin dicintai dan dengan itu ia akan merasa aman dan nyaman bersama seorang pria. Aneh ya? Kata-kata itu saya dapat dalam film La Brassiere (kalau nggak salah eja), cerita tentang dua orang desainer pria yang ditantang merancang sebuah bra tanpa tanding. Ternyata proyek itu tidak hanya membuka pengetahuan mereka terhadap suatu produk tapi juga membuka pemahaman mereka terhadap wanita.
.............
Rasanya ingin juga pada suatu malam saat saya terbangun ada seseorang terlelap disamping saya, saya pun terdiam... tertegun memandang wajah cantiknya dalam keremangan malam. Ada banyak cerita yang saya dengar tentang kecantikan seorang wanita yang justru semakin terlihat ketika ia sedang tertidur, mungkin juga ilham dongeng "Sleeping Beauty" lahirnya dari sini.
Saya sendiri punya satu pengalaman tentang itu, tanpa sengaja saya pernah melihatnya tidur kelelahan dalam mobil yang mengantar kami pulang. Saat itu hanya ada keremangan lampu jalanan Cipaganti yang jatuh menerangi wajahnya yang terlelap bagai upik dalam buaian... cantik... hanya itu yang bisa saya katakan.

Thursday, February 17, 2005

Tentang Seseorang...

Sudah terlalu malam sih tapi rasanya ingin sekali menuliskan ini...
Waktu itu malam hari di Kaliurang, kita sedang kumpul bareng mengelilingi api unggun. Hari itu makrab saya ingat sekali karena saya termasuk satu dari angkatan 97 yang datang... maklumlah baru kali inilah kita jadi "kakak". Hari –teman saya sejak SMA- ada di situ juga, namun walau begitu disini secara formal ya... saya tetap kakak kelasnya. Kami ngobrol biasa sih sebagai teman, ngobrol ngalor-ngidul tentang pengalaman masing-masing selama setahun kita nggak pernah ketemu juga tentang teman-teman Hari yang baru. Di saat itulah Hari mengenalkan saya pada seseorang... orang yang menurut saya ramah dan manis. Hanya sampai disitu sih, saya tidak bisa melangkah lebih jauh lagi karena selain memang saya tidak pernah melakukannya saat itu juga saya masih terikat dengan norma di DKM kampus. Ya saat itu saya masih aktif terjun dibidang dakwah kampus.

Tiga tahun setelah itu hampir saya tidak pernah mendengar kabar tentang dia, hingga suatu saat tanpa sengaja di tahun 2001 kami ujian TA bareng dan lulus ditahun itu juga. Saya ingat kata-kata dia terakhir saat akan ujian TA, saat-saat ketika kami menunggu untuk dipanggil dosen penguji. Waktu itu kami mengobrol soal materi branding yang saya tulis saat itu dan mimpi-mimpi saya untuk mewujudkan branding, tidak hanya sebatas teori tapi menjadi kenyataan. Saat itu ia support banget dan ia bilang agar saya berani menunjukannya didunia nyata, alasan-alasan yang ia kemukakan logis dan masuk akal. Itulah salah satu alasan mengapa saat ini branding menjadi semacam obsesi saya sampai saat ini.

Lalu tidak lama kitapun lulus bareng dan malam saat acara pelepasan wisudawan saya berpikir rasanya nggak mungkin kita bisa ketemu lagi... rasanya saat itulah saya bisa melihatnya untuk terakhir kali. Namun kemudian rasa itu tertutup oleh eforia sebagai wisudawan baru.
Lama setelah itu ternyata saya diterima untuk magang di MQS, itulah awal saya mengenal DT dan Aa Gym lebih dekat. Saat itu saya hanya sebagai penjaga counter MQS dan tanpa sengaja saya bertemu dengan Mbak Erlin -senior saya di kampus- saat saya sedang bertugas, ia bilang tentang kemungkinan saya bisa ikut sebagai visualizer ditempatnya bekerja. Dan itulah awal pertemuan kami kembali. Tidak lama saya ditarik Pak Dudung yang baru keluar dari MQS untuk berwiraswasta... dan pada saat berbarengan Aa ingin mendirikan sebuah corporation dan kemudian masuklah Mbak Erlin dan timnya untuk mendirikan agency di MQ. Banyak kejadian kebetulan yang saling kait-mengait... termasuk ia yang berada di tim itu.
Semenjak itu barulah saya benar-benar bisa mengenal dia, dia nggak banyak berubah kala terakhir kami bertemu. Namun ia menjadi jauh berbeda ketika seseorang masuk dan mengubah keadaan. Saat itupun perusahaan mulai menjadi terbagi dalam dua kelompok, ada dua kekuatan yang berpengaruh di kantor. Saya tidak ingin terjebak saya berusaha netral meskipun kecondongan saya tetap menekankan kesederhanaan bersikap, maklumlah hasil didikan Jogja. Tapi ia berubah... seolah Jogja tidak pernah hadir dalam hidupnya.

Akhirnya perbedaan memuncak, hingga pada akhirnya Aa membagi perusahaan menjadi dua dan dimulailah babak baru. Selama dalam perusahaan berbeda saya banyak mendengar kabar kurang baik tentang dia, agak sedih memang namun saya pernah mendapat keterangan dari Aris yang merupakan teman sekolahnya waktu SMA. Aris bilang ia tergantung pada orang yang ia ikuti, kalau orangnya baik maka ia bisa menjadi baik, dan itulah yang saya yakini hingga kini. Sampai disini saya masih menyangkal ada "sesuatu" dalam diri, bahkan pada saat saya sedang akrab-akrabnya dengan Dewi sampai digosipin macam-macam yang saya ingat pertama saat pulang justru bukan Dewi... tapi dia.

Saat bete juga dia bisa membantu menghilangkan perasaan itu dan bisa menularkan aura cerianya... tapi terkadang bisa juga berlaku sebaliknya he..he..he...
Bagaimanapun saat terakhir bertemu lagi dengan dia anehnya ada perasaan... sayang, seperti sayangnya kakak ke adik. Rasanya bukan “nafs”, memang sih dia cantik tapi bukan ketertarikan seperti itu. Terkadang saya malah sebel dengan sikap dan tingkah lakunya, sampai-sampai di friendster saya tulis kalau dia adalah temen yang kalau jauh bikin kangen tapi kalau deket bikin sebel. he..he..he
Karena itu saya sampai rela malam-malam ke Ultimus untuk cari buku buat dia, hanya karena saya jadi terpaksa janji dengan dia. Aneh ya? seseorang bisa begitu mempengaruhi kita dan mengubah hidup kita. Tapi apakah saya bisa mengubah arah hidup dia? Entahlah itu masih menjadi tanda tanya besar buat saya hingga kini. Namun jika seseorang yang nyata tidak bisa mengubahnya bisakah seseorang yang tak nyata mengubahnya... seperti apa yang dilakukan seorang Minke kepada saya. Minke adalah tokoh imajinatif yang diangkat oleh Pramoedya dari kisah nyata seorang Raden Mas Tirto Adisuryo, jejak-jejaknya dalam empat buku yang mengurai kebangkitannya menjadi seorang manusia dewasa dan gagah telah menginspirasi banyak orang. Jika memang benar teorinya Hernowo bahwa buku atau teks adalah makanan jiwa dan penggerak bagi pikiran kita, saya harap “Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran” adalah awal...
...dan jika saatnya tiba saya harap dia akan menemukan yang terbaik bagi dirinya siapapun itu, meskipun orang itu bukan saya...

Saturday, February 12, 2005

Let Me Begin... a little story about The Milo

Gue ama Luky nonton band lagi di CCF, yang main Georgeous Smile, Homogenic, The Milo sama satu lagi aku lupa. Yang mau aku tulis sebenarnya tentang The Milo... khususnya motor mereka Adjie. Bukan hanya karena namanya yang sama tapi apa yang bisa saya ambil dari hidupnya.
Adjie pada awalnya gitaris Cherry Bombshell, band indie Bandung yang cukup beken pada masanya. Namun si Adjie ternyata kemudian memilih keluar dari band bukan karena konflik atau ketidakcocokan, tapi karena ia hanya ingin bermain musik yang sering ia dengarkan... musik-musik gloomy. Sekeluarnya ia dari Cherry Bombshell ia pun kemudian membentuk The Milo. Kalau dipikir-pikir apa nggak sayang ya? Sudah bagus di Cherry Bombshell, ini malah keluar dan membentuk band baru dengan aliran musik "galau" yang belum tentu ada yang mau dengar. Lagi pula musik "galau" yang mereka usung ini aneh dan cenderung berat.
Tapi satu yang bisa saya fahami, keputusannya untuk keluar dan membentuk band sendiri lebih kepada keinginannya untuk bermain dalam irama sendiri. Karena bermain dengan irama sendiri membuat perasaan kita lebih ringan dan bisa menikmati. Disana akan tercipta kepuasan meski untuk itu kita akan menjadi berbeda dimata orang lain. Namun hasilnya? Saat ini kala Cherry Bombshell kurang terdengar lagi gaungnya The Milo justru melejit! Publik ternyata bisa menerima jenis musik mereka, MTV pernah mereka sambangi bahkan beberapa karyanya sempat memenangkan penghargaan.
Ternyata memang lebih baik untuk memilih menjadi diri sendiri meskipun untuk itu tantangannya sangat berat, beberapa ada yang berhasil namun ada juga yang tidak. Namun ketika kita berusaha menjadi diri sendiri dan tetap konsisten, maka akan muncul hasilnya meski itu hanyalah kepuasan batin karena kita telah melakukan apa yang ingin kita lakukan.
So, let me begin... as myself!