Tuesday, August 30, 2005

Perang!

Image hosted by Photobucket.com
Lebih baik berperang dan kalah, daripada mati penasaran...

Saturday, August 27, 2005

Hari pertama...

Hari pertama bimbingan pranikah, yang lagi-lagi isinya motivasi dan motivasi. Saya mendapatkan sebuah kenyataan di kalangan muslim kontemporer dan keindahan dari Islam. Hal ini bisa saya dapatkan dari uraian-uraian pemateri yang pada akhirnya juga mengungkap kenyataan yang ada di kalangan muslim saat ini. Contohnya saja Ust. Darlis Fajar yang mngungkap pergeseran makna taaruf dari perkenalan biasa menjadi pacaran, ataupun ada kasus tentang 3 orang akhwat yang mengadu ke salah satu pemateri karena tiga-tiganya dijanjikan akan dikitbah oleh seorang ikhwan yang sama. Playboy? bisa jadi, cuma kostumnya aja beda :) Disini bisa terlihat betapa sesungguhnya aturan Islam yang indah diambil simbol-simbolnya, dikaburkan maknanya dan kemudian dipopulerkan ke masyarakat. Kita bisa melihat disini sudah mulai masuk proses komodifikasi seperti yang juga terjadi pada simbol-simbol kiri (seperti ikon Che Guevara). Kalau saya pribadi sih kalo jalan bareng dengan seorang wanita akan lebih nyaman bilang "pacaran" daripada "ta'aruf"... yah setidaknya nggak bohong lah :)

Tapi disinilah hubungan tanpa status yang jelas kembali mewujud dalam istilah yang baru, dan si pelaku terkadang merasa aman berlindung di balik istilah tersebut. Contohnya saja ada ikhwan yang menjanjikan kitbah untuk empat tahun kedepan, coba dipikir... untuk apa? Mungkin buat laki-laki dalam masa empat tahun itu ia bebas melakukan apa saja, bahkan mungkin dia akan bertemu perempuan lain dan berubah pikiran. Tapi bagaimana perempuannya? Apalagi yang tipikal keislamannya cukup baik, setahu saya perempuan akan benar-benar menunggu dalam masa itu. Jadi apabila dibatalkan tentunya akan terasa sakit banget buat si perempuan. Memang itu sifat laki-laki kali ya? Sama seperti tingkah laku para "pejantan" lain, coba perhatikan kucing. Kalau datang di suatu tempat pasti akan di endus-endus dan kemudian dikencingi sebagai tanda wilayah miliknya. Padahal siapa yang punya? di kosan Riyanto sampai misuh-misuh karena roda motornya bau pesing hehehe...
Dominasi itu karakter pria, ia cenderung ingin mengklaim sesuatu itu miliknya dan diakui walau terkadang tidak melalui prosedur yang benar. Seperti contoh di atas, ikhwan tadi ingin "memiliki" dan diakui hak miliknya (artinya= jangan diganggu itu punya gue!) tapi ia sendiri tidak mau terikat penuh. Mungkin janji itu hanya sebatas "pengaman" bagi hak dia tanpa memikirkan hak orang lain, jadi jika ia ingin berpindah kelain hati ia bisa segera melepas "pengaman" itu tanpa merasa berat... toh hanya buat jaga-jaga kalau nggak dapat yang lain!

Disini kelebihan Islam yang mengatur agar yang seperti itu tidak terjadi, ada koridor yang mengatur sampai batas taaruf yang diperbolehkan. Ambil saja makna katanya yang artinya berkenalan, boleh aja berkenalan dan berteman dengan siapapun... namun kalau ingin hubungan yang lebih serius jalurnya pernikahan dan gerbangnya kitbah. Lalu bagaimana prosedur kitbah? Ya setidaknya datang bersilaturahmi ke rumah orang tuanya bertemu dan meminta kesediaan si perempuan. Jika sudah bersedia tentu ada rentang waktu antara kitbah dan nikah, ya bisa sehari sampai beberapa bulan (tentu saja disarankan untuk tidak terlalu lama). Nah pada masa ini kedua orang tadi harus saling menjaga, jadi nggak sembarangan! Terlihat kan kedua belah pihak diakomodir secara baik? Yang pria bisa meneruskan kebiasaannya mengklaim sesuatu "miliknya" tapi si wanita nggak di "ambangin".

Yang lain tentunya ada, cuma sayangnya hanya sedikit yang saya ingat, kebanyakan hanya kata-kata berkesan seperti ceritanya Teh Mimin yang menjelaskan pengalaman saya yaitu "Kalau kita sudah punya keinginan dan niat baik jangan takut, maju saja karena Allah pasti akan turun tangan untuk membantu kita", yang menjadi hambatan bagi kita untuk berbuat biasanya ada di awal... rasanya berat banget. Tapi kalau kita sudah mulai satu langkah saja maka sisanya akan menjadi mudah. Wallahu'alam bishawab.

Wednesday, August 24, 2005

Sekarang giliran gue?

Akhir-akhir ini terlalu banyak kebetulan yang terjadi, seolah-olah saya sedang diarahkan kepada sesuatu... menikah! Ya, setelah pernikahan kakak bulan Juni lalu pandangan orang tua selanjutnya tertuju ke saya sebagai anak laki-laki kedua. Tidak terlalu cepat? Rasanya nggak, selisih usia kakak dengan saya hanya terpaut satu tahun. Oleh karena itu menjadi satu hal yang biasa buat saya kalau saya selalu mengalami apa yang didapat kakak saya satu tahun sebelumnya. Contoh masuk sekolah pertama (buat anak-anak peristiwa besar loh!), masuk smp, sma, kuliah bahkan sampai ke lungsuran buku dan pakaian-pakaian kakak... yah kami bukan keluarga yang tergolong berlebih jadi hal yang seperti ini sering terjadi. Ada untungnya juga jadi seperti ini, saya bisa mengamati dan mengantisipasi segala permasalahan yang mungkin akan terjadi (soalnya sudah ada contohnya hehehe...). Mungkin ini juga yang jadi sebab saya menjadi manusia pembelajar tipe ke tiga, yang belajar dari mencontoh orang lain... Wallahu'alam.

Kembali ke masalah awal, saat ini setelah pernikahan kakak perusahaan diambil alih dari corporate ke anak perusahaan lain. Dan ternyata hal ini membawa konsekuensi kepada kenaikan gaji yang signifikan, kepindahan yang harus dari kosan karena akan direnovasi, teman-teman yang ujug-ujug menyarankan menikah (padahal terkadang nggak nyambung dengan topik obrolan kami) dan terakhir didaftarkan perusahaan untuk ikut bimbingan pranikah tanggal 27 besok. Padahal yang lebih perlu seperti Pak Lee masih ada... kok saya yang dipilih! Mungkin mudah saja semua hal itu dianggap sebagai pertanda suatu keharusan, tapi pertanyaannya dengan siapa? Teman-teman wanita mungkin banyak tapi nggak ada satupun yang benar-benar dekat, beberapa kebetulan lagi-lagi terjadi. Seperti telepon dari Mbak Erlin ke kantor yang nggak tau sebabnya tiba-tiba membicarakan tentang dia, dia yang katanya dititipkan orang tuanya ke Mbak Erlin untuk dijaga... dan "mungkin" kata Mbak Erlin sekarang giliran saya untuk menjaganya. Juga kabar dari Pak Karim yang aneh disuatu pagi yang mengisukan saya akan menikah (bingung kan? padahal baru aja niat kok sudah ada yang mengkonfirmasi) dan kata Pak Karim lagi kabar itu datangnya dari dia. Serba kebetulan memang, meskipun sebagai muslim saya sangat percaya dan pasrah pada takdir, sebagai orang Jawa saya juga agak percaya pada pratanda. Apalagi sebuah kebetulan lagi terjadi, kantornya yang sebelumnya dipindahkan ke Jakarta tahun ini kembali lagi ke Bandung.
Bimbang... karena meskipun saya percaya pada takdir dan pratanda tapi saya tetap tidak bisa melangkahi takdir. Oleh karena itu saya minta kepada Allah dalam doa-doa saya untuk mendekatkan dan memudahkan apabila memang itu yang menjadi keputusan-Nya dan memohon kelapangan hati apabila bukan ia yang menjadi ketentuan-Nya. (meski ditambah juga kalimat ...sesungguhnya Engkau Maha Tahu apa yang aku inginkan ya Allah... hehehe doanya gitu banget ya!)

Sekarang jadi bingung lagi, sudah lama kosan itu dianggap "keramat" karena jika ada dua orang sekamar maka salah satu akan keluar karena sudah menikah. Contoh Kang Ali dan temannya, nggak berapa lama temannya dapat jodoh dan menikah, terus saya datang dan nggak lama Kang Ali dapat jodoh dan menikah, terus Yoyon dapat Mbak Erlin terus nikah. Nah kan tinggal saya tuh yang belum juga, dan sekarang ada teman dari Jogja sedang tes di Pikiran Rakyat. Katanya besok wawancara terakhir dan kalau keterima ya resmi sudah jadi orang Bandung... artinya tu kamar ada pendatang baru... artinya... apa sekarang giliran gue?!!! Dan jika iya apa dengan dia... si upik dalam buaian.
Meskipun saya pernah menulis saya menginginkan yang terbaik buat dia, namun ada perasaan nggak rela (hehehe namanya juga manusia biasa...)

I do, I do, I do, Ido I do love you
I do, I do, I do, Ido I do need you
I do, I do, I do, Ido I do think about you
Theres nothing more that i want but you

Sunday, August 21, 2005

Festival jajanan bandung

Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
Hari ini festival jajanan bandung di Gasibu, ada sekitar 200-an pedagang jajanan khas disegala penjuru Bandung dikumpulkan pada hari minggu ini. Kecap cap Bango yang punya gawe', para pedagang itu diseleksi dengan parameter pengguna kecap cap bango... sponsor banget ya? Tapi walau begitu lumayan banget buat saya untuk tahu dan mengenal beberapa jajanan khas yang ada di Bandung ini seperti Sate Kardjan, Bubur Ayam Mang Oyok, Cendol Elizabeth dan Es Goyobod (yang dua terakhir gw bingung... dimana kecap cap bango-nya hehehe).

Karena perut dan uang terbatas saya sama Puji jadi harus milih-milih banget apa yang paling pengen dimakan. Muter-muter sampai bingung tapi nggak bisa milih asli bingung! Yang terkenal enak... habis, yang aneh... antrinya panjang, yang sepi... habis dan yang paling parah pas mau makan ternyata harus pake kupon yang bisa dibeli distand informasi, dan antriannya.... duh panjaaaaang banget! Bela-belain ngantri cuma buat beli kupon 5ribuan 4 biji, habis dapet bingung juga, udah nggak selera makan karena capek desak-desakan. Ujung-ujungnya kita balik ke bubur ayam kopo... ke si Teteh yang nawarin ke kita pas awal-awal banget (yang kita tolak dengan ucapan sok halus "terimakasih" karena kita nggak mau jauh2 cuma makan bubur ayam). Ternyata enak juga dan taunya pedagangnya "ikhwan" dia juga bisa nebak kita dari DT padahal kita udah nyamar loh, suerrr!

Sempat juga ketemu dengan Neng Mpi sama teh Umaya dan temennya, mereka lagi makan di kupat tahu... (naon gituh gw lupa!) tapi mereka juga kaget kalo makan ternyata harus pakai kupon, soalnya mereka tadi bayarnya cash. Saat itulah saya baru tau kalau ternyata tempat kita makan tadi orang-orangnya soleh plus jujur pisan... soalnya mereka hanya mau nerima kupon yang jadi aturan main disini.
Pulangnya kita sempat beli es goyobod yang rasanya kalah jauh dari tempat aslinya, mungkin ngeramunya buru-buru jadi nggak se-OK kalau beli ditempat. Maklum banyak peminat dan acara ini dipanteng sampai jam lima sore' jadi persediaan dan kecepatan kudu lebih.
Well hari ini asik tapi cape' banget dan terus terang saya masih lapar hehehe...

Saturday, August 20, 2005

Spot yang lebih jujur di Ciwalk

Image hosted by Photobucket.com
Pernah ke Ciwalk? Ciwalk atau Cihampelas Walk adalah mall dengan konsep baru di Bandung, open air mall kalau nggak salah. Jadi Ciwalk adalah mall yang didesain khusus agar memiliki ruang-ruang yang terbuka sehingga pengunjung akan merasa tidak berada didalam sebuah mall tapi seperti berada dikompleks pertokoan yang ditata lengkap dengan taman-tamannya. Sounds good? belum! Kalau kita kesana Ciwalk tidak benar-benar terbuka, kita masih berada dalam sebuah lingkungan yang sangat berbeda dengan keadaan sebenarnya, atmosfer buatan sebagai ciri khas mall masih terasa. Terus terang saya merasa bukan berada di Indonesia saat jalan di Ciwalk, ambil contoh nama jalan yang digunakan selalu menggunakan imbuhan belakang street dan bukan jl. didepannya (eg. young street etc) bahkan ada satu restoran bergaya Italia yang menyediakan satu tempat parkir khusus bagi pengguna Harley.

Kerasa rada Fake ya? Kalau ingin menikmati satu spot yang lebih jujur tentang Bandung -masih di area Ciwalk- cobalah keluar ke area parkir terutama dikala sore menjelang malam. Disana kita akan bisa melihat dua ikon bandung dari dua masa yang berbeda yaitu jalan layang Cikapayang dengan tiang penyangganya yang khas dan satu lagi adalah kolam pemandian Tjihampelas. Cikapayang yang mewakili Bandung modern dibangun dan selesai saat peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika yang lalu, sementara pemandian Tjihampelas adalah satu dari beberapa pemandian yang dibangun pada masa kolonial yang masih ada.
Pada masa keemasannya -menurut buku Bandoeng Tempo Doeloe- pemandian Tjihampelas masih suka dikunjungi oleh ular dan kodok dari sekitar pemandian. Sungai didekatnya pun masih ada, walau kini disisinya dibatasi oleh perumahan penduduk yang padat dan juga tidak bisa dikatakan mewah. Namun justru saat malam telah turun lampu-lampu dari perumahan ini membuat pemandangan jadi lebih indah, lepas mata memandang lampu-lampu ini bertaburan sementara langit biru tua diatasnya ditambah dengan udara dingin Bandung dan suara air sungai mengalir.

Rasanya sulit diungkap dengan kata-kata, saat itu hanya rasa yang bicara... tadi juga ada seseorang yang duduk disana dengan secangkir kopi, cuek aja seolah nggak ada orang lain didunia ini...
Mungkin bagus juga untuk duduk disana dengan segelas moccacino ditemani satu dua teman akrab, ngobrol sambil menunggu sunset dan hari berganti malam.

Agustusan di MQ

Tim MQ Multimedia... berjuang dan kalah, yang penting gaya!
Image hosted by Photobucket.com
Aa Gym dalam pertandingan Futsal
Image hosted by Photobucket.com

Hari ini termasuk sejarah bagi MQ Multimedia, yang ikut kebersamaan banyak banget hampir full team! (biasanya juga beberapa gelintir... udah itu cuma datang dan chatting di kantor hehehe)
Semua antusias ikut perlombaan dan hampir semuanya kalah! Mulai dari DragonFight, lomba pecah balon, estafet pingpong cuma lomba bakiak yang kita bisa jadi juara 3(hampir bisa menang hanya kesandung konblok disaat-saat akhir).

Setelah itu kita rame-rame pakai bandana hitam dan semuanya tumplek mendukung Pak Edi yang ikutan tarik tambang. Pakaian hitam-hitam duduk disamping Tim Pak Edi yang sedang berlaga sambil meneriakkan yel-yel yang bikin Bang Zakaria Goro gondok... "Hei Zakaria Goro... Zakaria Goro Heeee..." (hihihi apa hubungannya coba).

Agak siangan Aa Gym datang ke lapangan dan langsung didaulat untuk main futsal, Futsalnya nggak biasa tapi semua peserta wajib pakai topeng kerucut yang hanya disisakan lubang kecil untuk melihat. Kebayang gimana kacaunya pertandingan, ada yang nendang dulu baru topengnya dipake lagi, sementara Aa sendiri topengnya dipendekin terus biar lubangnya besar. Nggak inget berapa-berapa skornya tapi yang penting asik aja :)
Bagaimanapun menang atau kalah kita tetap happy (^___^)V

Friday, August 19, 2005

Sputnik n' earth*

Hari ini jadi keingetan cerita "Sputnik n Earth"-nya Manik Laluna, Sputnik yang hanya bisa memandang Earth dari kejauhan. Begitu dekat tapi rasanya begitu jauh, hanya transmisi radio sesekali dari Earth yang menghubungkan mereka, dan ketika itu terjadi... it's can change everything.
Hari ini ketika earth sedang berada dekat, sputnik berputar-putar sibuk disekitar earth. Dan ketika sebuah transmisi pendek akhirnya datang dari earth, sputnik terdiam... membalas pendek, kemudian berpura-pura sibuk lagi berputar-putar pada orbitnya...

©Sputnik N' Earth karakter rekaan Manik Laluna

Sunday, August 14, 2005

Perayaan sensasi visual

Kali ini Klab Desain tidak dikunjungi seramai biasanya, mungkin kesimpangsiuran berita di milis adalah salah satu penyebabnya. Tapi bagaimanapun pembicaraan malam itu masih tetap hangat karena selain Host-nya hadir, Om Gustaff sempat juga nimbrung untuk ngobrol bareng. Obrolannya sendiri terbagi dalam dua topik, yang pertama adalah tentang RFID yang kamis kemarin sempat diisukan akan dipresentasikan oleh Rob salah seorang peserta Art Camp dari Belanda, namun pada akhirnya batal karena yang bersangkutan sakit. RFID atau Radio Frequency Identification adalah semacam data yang tersimpan dalam sebuah chip kecil yang ia akan memancarkan sejenis gelombang yang akan ditangkap oleh readernya. Benda kecil ini saat ini sudah mulai digunakan untuk keperluan komersial seperti alat pembayaran saat akan naik subway di Korea (bukan pengganti mata uang tapi ada sistem penagihan ke orang yang bersangkutan), atau kartu untuk survei konsumen saat memasuki area pameran, bahkan hingga tingkat yang paling ekstrim di Jepang yaitu Billboard yang bisa menyapa pemegang RFID disekitar billboard. Namun selain sisi positif tentu saja ada pro dan kontra diseputar teknologi ini, karena tidak semua orang suka privasinya terganggu ekstrimnya semua orang punya sesuatu untuk dirahasiakan. Sehingga pada akhirnya ada tindakan-tindakan tertentu untuk merusak atau menggangu sinyal radio RFID seperti penggunaan "Jammer". Namun siap atau tidak, suka atau benci teknologi ini tetap akan datang dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Selanjutnya yang kedua, Om Benben membawa kita kepada tulisannya di milis tentang Local Clothing. Sebenarnya tulisan itu merupakan hasil diskusi saat acara C on C di CCF antara Dendi Darman (347), Chandra (Jeune magz) dan Bang Ucok (seniman dan dosen ITB). Isi selengkapnya bisa dibaca di milis namun saya hanya akan membahas sebagian saja yang menarik buat saya yaitu tentang "perayaan sensasi pencitraan". Istilah ini dicetuskan Bang Ucok saat mengomentari desain-desain distro, yang dimaksudkan adalah saat ini desain-desain distro hanya menekankan aspek visualnya saja tanpa memahami akar budayanya. Beberapa contoh yang ditampilkan seperti gambar tipikal distro yang dipadu dengan tulisan "Globalisation kills the roots of our tribes", tulisannya sendiri tidak mendukung desainnya justru mendangkalkannya, sebagian peserta malah berseloroh justru itulah contohnya :)

Saya bertanya-tanya apakah ini memang konsekuensi generasi MTV ketika generasi saat ini dicekoki dengan segala sesuatu yang bersifat instan. Atau ini merupakan suatu hasil akhir dari kapitalisme yang akhirnya membuat semua hal menjadi komersial tanpa banyak memikirkan efek sampingnya. Lihat saja ikon Che Guevara yang banyak dikenakan anak muda sekarang, gambar Che seolah tanpa makna padahal ia adalah ikon perjuangan rakyat Bolivia (atau Kuba?) berbeda dari artis-artis F4. Seingat saya hal seperti ini diistilahkan dengan komodifikasi, ketika simbol-simbol diambil, dilemahkan dan dilempar kembali ke masyarakat. Bisa dikatakan hampir mirip dengan cara kerja serum atau vaksin.

Beberapa waktu lalu saya juga sempat hadir dalam sebuah acara komunitas indie, selain band performance acaranya adalah pemutaran video klip buatan peserta workshop. Saat diputar saya amati klipnya semuanya absurd hampir tidak ada kaitan antara lagu dengan tampilan visualnya, dari beberapa selentingan yang saya dengar... mereka (klip makernya) mengatakan bahwa saat ini sudah bukan zamannya lagi klip harus sesuai dengan lagunya, jadi gambar bisa apa saja bahkan sama sekali tidak ada kaitannya. Mungkin ini mempertegas pendapat Bang Ucok, suatu perayaan sensasi visual yang tanpa makna... begitu juga kata Dendi 347, saya nggak mikir apa-apa... apa yang saya pikir langsung saya tuangkan...
lagi-lagi apakah ini karena zaman semakin instan dan prosesor semakin cepat... duh pusing! Mending baca aja tulisannya Om Benben di milis

Friday, August 12, 2005

Afternoon tea

Image hosted by Photobucket.com

Kalau kantor dekat dengan cafe lalu mati lampu, inilah jadinya :)

Wednesday, August 10, 2005

Satu pekerjaan selesai...

Image hosted by Photobucket.com
Akhirnya selesai juga desain buat website Hotel Geulis, klien suka... itu rasanya sudah cukup. Sebenarnya nggak ada yang aneh dari desain webnya cuma pengerjaanya aja yang menggunakan software-software sederhana, bisa dikatakan kelas dua-lah, seperti untuk animasi menggunakan Swish bukannya Flash terus untuk layout web-nya hanya pakai software WebPageManager yang sangat..sangat sederhana dibandingkan dengan Dreamweaver.
Namun pada prinsipnya kita mencoba memaksimalkan karya dengan apa yang ada, memang untuk beberapa hal software-software unggulan seperti Dreamweaver dan Soundforge harus digunakan karena fungsi-fungsi yang nggak tergantikan. Contohnya untuk mengubah scroll agar berwarna sama dengan warna dominan harus ada tag yang di otak-atik (itu sih kerjaannya Adi hehehe...)
Anyway satu kerjaan sudah selesai, sementara pekerjaan lain masih banyak menumpuk.
Sambil pulang dari Geulis -dan setelah keliling-keliling nyari klien bareng Kang Edi- ditengah-tengah macetnya jalan Cipaganti dan panasnya udara kota Bandung siang ini kita mampir dulu di halaman masjid Cipaganti, cuma untuk menikmati es cendol yang mangkal disana. Dingin dan segar, dan kita dengan cueknya minum dipinggiran jalan walau banyak mata penumpang angkot yang menatap sirik ke kita :)

Monday, August 01, 2005

Batagor Riri

Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
Akhirnya bisa juga ke batagor Riri di Burangrang, banyak yang bilang kalau nyari batagor yang enak di Bandung ya disini. Nggak direncanain sebelumnya sih, hanya karena Om Indra, Tante dan Hana datang berkunjung ke Bandung dan menginap di dekat batagor Riri aja makanya nyoba juga kesana.
Dari situs batagor.com saya baru tahu ternyata Batagor Riri adalah "penemu" batagor pertama di Bandung (sekitar tahun 1985-an) dan memang sebagai layaknya pioner pelanggannya sangat banyak dari mulai orang biasa sampai artis dan pejabat. Kemarin pas makan pun Oscar Matuloh yang kurator foto Antara juga ada, sempet nyuri-nyuri motret tapi karena jauh ya nggak dapet. Kalau minta foto bareng malah saya yang bakalan malu, lha wong bukan artis hehehe...