Tuesday, November 21, 2006

gaya desain web minimalis


blitz megaplex

Lagi suka sama gaya desain web yang kayak gini, putih, bersih, informatif... tapi sentuhan warna ngejrengnya juga lumayan menarik... kayak gini:

maxis 3G

gw banget hehehe... anehnya beberapa situs 3G yang gw temui juga menggunakan gaya desain yang hampir sama. Mungkin minimalis identik dengan modern kali ya...

Toko digital musiknya Pak Budi



wah pagi-pagi kang indra ngasih gosip terbaru soal project barunya pak budi, toko musik digital. Yeah pak budi emang suka ngegabungin antara hobi dengan bisnis... lebih enjoy mungkin. Pas di coba ke situsnya mah lumayan juga, meskipun nggak gila-gilaan main flash tapi tone-nya itu loh! Udah anak muda banget, ngingetin sama gaya seni rupa yang dijalan-jalan itu. Apaan tuh.. oh ya grafiti.
Secara gw juga kemudian berusaha buat browsing dan menemukan situs lokal yang juga jualan musik digital... dan ternyata ada. Bedanya kalo Pak Budi sepertinya pure banget selain buat bisnis juga mencoba mencari bibit baru, bahkan di situsnya ada logo Fast Foward Record dan Aksara Record. Mencoba menggandeng musisi indie nih Pak Budi?

Untuk sementara toko offline-nya hanya ada di dua tempat, di Paris van Java Sukajadi, Bandung dan Grand Indonesia Thamrin Jakarta. Atau kalau mau sekedar liat-liat situsnya bisa browsing langsung ke digital beat store

Saturday, September 16, 2006

Pensil

Tulisan dari seorang teman, Adit... benar-benar menginspirasi, saya share agar bisa menginspirasi yang lain :)
-------------------------------------------------------------------------------------
Siang itu saya sedang membongkar kotak buku yang belum
saya susun di rak di tempat baru saya, tak lama
terdengar bunyi sms masuk, ternyata dari seorang teman
yang teramat baik dan cantik, sms nya simpel

"dhit bagaimana caranya supaya manusia bisa bahagia ?"

terus terang saya agak susah menjawab pertanyaan
simpel ini, karena saya pun sedang melakukan pencarian
yang sama, rasanya tiap manusia yang ada di dunia ini
selalu mencari hal yang sama yakni kebahagiaan, kita
mencari uang, jabatan, karir, pendidikan berharap
suatu hari nanti hal itu semua dapat membahagiakan
kita, namun banyak masalah hidup yang akhirnya membuat
kita berfikir apakah benar hal-hal itu membuat kita
bahagia ?

saya terinspirasi dengan tulisan coelho yang menurut
saya sangat bijaksana, kemudian saya balaslah sms
singkat teman cantik ini dan mencoba merangkai kembali
pesan coelhountuk dia

"kamu adalah pensil"

tak lama ada sms lagi "maksudnya ?"

"nanti saya jelaskan di email"

kemudian saya mulai menulis maksud sms saya kemaren

"kamu adalah pensil karena ada 5 hal dari pensil yang
istimewa :

1. Pensil tidak pernah bergerak sendiri, pensil
bergerak karena ada tangan yang menggerakan pensil
sesuai keinginannya, manusia harus yakin bahwa apapun
yang dilakukannya di dunia tidak lepas dari ikatan
takdir antara dia dan Tuhannya, ketika manusia yakin
bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari dirinya dan
DIA lah yang menggerakan hati tiap manusia, maka kita
belajar menjadi ikhlas dan bersyukur bahwa yang
terjadi sekarang adalah ketentuan-ketentuan Maha
sempurna yang tidak mungkin salah dan cacat barang
sedikitpun.

2. Pensil kadang tumpul karena terlalu sering
digunakan, maka tak salah kalau sesekali orang yang
memiliki pensil menggunakan peruncing, untuk
membuatnya kembali tajam, berarti pensil diiris
kulitnya dengan baja, diputar dengan pisau kecil
peruncing berulang kali, tapi kemudian dia akan
menjadi tajam kembali. Manusia kadang memang ditempa
dengan kesulitan dan kegundahan hati, tapi jangan
khawatir karena tandanya Tuhan sedang mempertajam diri
kita sehingga kita tidak cengeng, kita tidak mudah
menyerah tapi menjadi tegar dan mengembangkan seluruh
daya upaya kita untuk menyelesaikan masalah, masalah
tidak datang untuk ditangisi, disesali atau
dikhawatirkan tapi masalah datang untuk diselesaikan,
ditantang dan suatu hari nanti kita akan menjadi lebih
"tajam"

3. Pensil bisa menulis salah, mungkin keluar dari
garis, mungkin salah menulis, tapi tak usah ragu maka
hapus saja dimana kita pernah menulis salah, kita
harus berani mengoreksi kesalahan yang kita buat
kemarin untuk kemudian berusaha sekuat tenaga untuk
tidak mengulanginya lagi, setidaknya kita telah berani
menulis dan berani mengoreksi setiap tulisan kita yang
salah, pensil yang tidak pernah salah menulis adalah
pensil yang tidak pernah menuliskan apapun sepanjang
hidupnya

4. Sehebat apapun tampilan luar pensil maka yang
paling penting adalah grafit yang ada didalam pensil,
boleh saja tampilan luar pensil kita sangat baik,
namun kalau grafitnya tidak baik, maka pensil
kehilangan maknanya, sehebat apapun tampilan luarnya
maka dia tidak bisa dipakai menulis, tapi grafit tidak
terlihat dia tersembunyi, tapi grafitlah "jiwa" dari
pensil, tanpanya pensil hanyalah kayu biasa yang
kehilangan maknanya

5. Pensil pasti akan menuliskan jejaknya didalam
kertas putih, tiap huruf yang dibuat, tiap kata yang
dirangkai pasti akan meninggalkan jejak, sama dengan
apa yang kita kerjakan dalam hidup, apapun yang kita
kerjakan pasti akan menyisakan memory buat kita ingat
atau buat orang lain ingat, hal ini membuat kita lebih
menghargai tiap kesempatan, melakukan yang terbaik
dalam hidup sehingga kita meninggalkan jejak yang baik
dalam hidup kita, berusaha membuat tiap detik bermakna
dan memiliki tempat tersendiri dalam kenangan kita,
berbuat yang terbaik karena kita hanya HIDUP SATU KALI

yang terakhir saya ingin mengutip kalimat dari
penyanyi PINK yang katanya suka asal-asalan itu

hari terindah dalam hidup saya adalah ketika saya
sadar bahwa saya tidak sempurna "


ketika saya selesai mengetik email, maka saya berfikir
ternyata ini bukan hanya email untuk dia, tapi email
ini terutama saya tujukan kepada diri saya sendiri :)

Wednesday, August 02, 2006

Foto bareng pangsit timlo


ketemu sama pangsit timlo pas mau pulang ke bandung... kebetulan sebelum gw sudah ada orang-orang yang berfoto bareng. Kebetulan ajeng ngambil kamera dan si pangsit pas ngeliat gw dan kamera langsung aja ngedeket. "wah darimana nih?" katanya ramah...
Cuma satu jepretan aja... tapi hasilnya sudah cukup baik, murid yang pintar hehehe...

Friday, July 21, 2006

Oude Photo van NV MQ Multimedia


kenangan pas perpisahan Pak Oeoe (orang keuangan)... gw jadi nggak bisa nyanyi lagu naif lagi setelah pak uu resign.

"aku mau pulang...
dan membawa uang
segudang...segudang...
u.. u.. u.. u.. uaaaaaang"

Thursday, July 20, 2006

Eksperimen dari tutorial


iseng nemu tutorial di Info komputer lama, lumayan juga...
triknya ternyata sederhana, hanya main filter2 blur... masking, delete, gradasi serta transform.
Lama nggak belajar nih, dah rada tumpul...

Friday, July 14, 2006

news

Hari ini kang Indra bawa berita, entah benar atau tidak... yang jelas gw harus menunggu... menunggu saat yang tepat. Waktu yang cukup panjang kata kang Indra untuk bertukar fikiran. Entah mungkin itu juga yang membuat reaksinya berbeda ketika ada kang indra disebutkan, kalau benar mungkin gw termasuk orang yang paling bersyukur... tapi paling tidak saat ini, nggak boleh lagi merasa pasti. Karena semua dikembalikan ke Allah.

Thursday, July 13, 2006

Sekapur sirih (yang sudah basi)

Beberapa waktu ini gw merasa blog yang di FS dan MP sudah nggak terlalu privasi lagi. Menulis di FS dan MP memang lebih menyenagkan daripada di blogger, teman-teman bisa langsung comment. Disamping itu juga FS selalu memberi semacam pemberitahuan kepada teman-teman dalam jaringan kita. Ya kalau menulis kegiatan sehari-hari ok-ok aja karena komentar teman-teman bagus-bagus dan memperkaya tulisan kita... gw suka, karena ada rasa kita diperhatikan. Tapi terkadang ada sesuatu yang nggak ingin diketahui oleh banyak orang dan gw rasa mungkin disinilah tempatnya. Buat eksplorasi desain, foto dan memajang kerjaan gw sudah memilih MP buat etalase itu, kalau buat sharing cerita sehari-hari atau pemikiran yang nggak akan menimbulkan sesuatu dengan teman yang ada di FS ya gw masukin FS aja...

Seperti hari ini, saat gw nggak tau kenapa dee nanya ke kang hendra tentang gw yang seolah menghilang. Dee ada di fs... gw nggak merasa comfort buat menulis hal ini di fs. Gw sudah berusaha melupakan dee dan berusaha menswitch ke mode friend lagi. Memang itu butuh waktu, tapi sampai saat ini gw berhasil... sampai Kang Hendra bilang hal ini tadi siang. Ada perasaan hangat...
Ah gw nggak boleh ngikutin perasaan ini lagi, gw bertekad memulai dengan lembaran baru meski nggak tau dengan siapa. Meski gw nggak tau apa istimewanya dee tapi entah kenapa seolah dia menjadi sosok yang nggak terganti.
Gw sudah memulai hari baru, meski yang ini juga belum pasti... saat ini gw lebih ingin memperbanyak teman.

Haruskah ku mati

Bagaimana mestinya…
Membuatmu jatuh hati kepadaku
T’lah kutulis kan sejuta puisi
Meyakinkanmu membalas cintaku

Haruskah ku mati karena mu
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah kurelakan hidupku
Hanya demi cinta yg mungkin bisa membunuh ku
Hentikan denyut nadi jantung ku
Tanpa kautau betapa suci hatiku
Untuk memiliki mu

Adakah keikhasan
Dalam palung jiwamu mengetukku
Ajarkan mu bahasa perasaan
Hingga hatimu tak lagi membeku

Haruskah ku mati karena mu
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah kurelakan hidupku
Hanya demi cinta yg mungkin bisa membunuh ku
Hentikan denyut nadi jantung ku
Tanpa kau tau betapa suci hatiku
Untuk memiliki mu

Tiadakah ruang di hatimu untukku
Yang mungkin bisa ‘tuk kusinggahi
Hanya sekedar penyejuk disaat ku layu
Ku t’lah menantimu hingga akhir masa

Monday, June 19, 2006

Quotes

"Every saint has a past. Every sinner has a future."
(diambil dari commonroom.info)

Wednesday, June 07, 2006

Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu



aku ingin mencintaimu dengan sederhana;

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)

------------------------------------------------------------------------------------

Rupanya karangan Sapardi, baru tahu setelah sekian lama menyukai ungkapan "aku ingin mencintaimu dengan sederhana" tanpa pernah tahu siapa pencetusnya.

Sunday, June 04, 2006

Adek ketjil bernjanji riang


Adek ketjil bernjanji riang, adoeh senangnja (^_^)
(padahal ik djoega sama-sama ketjil hihihi...)

Sunday, May 28, 2006

Menyaksikan bencana dari kejauhan

Pagi-pagi nonton tv sambi menyeruput kopi cream dan makan pisang goreng hangat... berita masih tentang gempa di jogja. Tapi saya rasa pagi ini jauh lebih tenang bukan... bukan karena kondisi di Jogja baik-baik saja, kabar terakhir hampir tiga ribu orang tewas. Tapi dari kemarin coba kontak teman dan saudara mereka semua Alhamdulillah selamat. "lampu bergoyang-goyang, buku-buku jatuh, dispenser ambruk, rumah-rumah runtuh tapi Alhamdulillah kami selamat" selarik kalimat itu kira-kira dari Hari yang kebetulan tinggal di Bantul. Kebanyakan rumah yang ambruk menurut Hari adalah rumah yang semi permanen dan rumah-rumah tua, belum lagi kata mas putut rumah-rumah jogja yang hanya pondasi dan 4 tiang penyangga (juga 2 tiang soko guru ditengah) membuatnya gampang ambruk. Belum lagi kualitas tembok yang hanya sedikit semen dan kebanyakan kapur dan pasir membuatnya sangat rapuh, entahlah selama di jogja saya nggak pernah iseng mengetuk-ngetuk tembok rumah orang untuk memeriksa kualitasnya. Ndak elok hehehe...
Sebagian orang justru menuduh Kraton memindahkan bencana ke selatan dari yang seharusnya dari merapi di utara, mistis? Jawa memeng mistis, tapi kalau memang bisa begitu sultan tentu memindahkannya jauh-jauh dari rakyatnya. Teringat lagi dengan Mbah Marijan -juru kunci merapi- yang keukuh tidak mau mengungsi, apakah dia mendapat vision bahwa bencana bukanlah datang dari utara tapi dari arah lain. Entahlah jawa dan budayanya masih menjadi misteri besar buat saya, penuh simbol dan mistisme.
Kembali ke saya dengan secangkir kopi cream hangat dan pisang goreng, merasa jauh lebih rileks karena saya tahu teman dan keluarga saya di jogja baik-baik saja... apakah begitu? apakah kita semua begitu? ketika tidak ada bencana menimpa kita, saudara atau keluarga maka kita akan merasa bencana itu menjauh? Entahlah tapi jogja adalah bagian hidup saya, melihatnya berduka tetap membuat saya sedih. Meski kini saya melihatnya dari kejauhan... dari monitor televisi sambil menyeruput kopi cream hangat dan pisang goreng dengan lebih rileks.

Sunday, May 21, 2006

Passion Pipiet Senja dan Novel Islam

Baru kemarin gw sempat dibuat kesal dengan seorang editor senior, dalam beberapa hari ini gw menjadi "mengenal" seorang penulis senior yang passion dalam berkarya dan daya hidupnya luar biasa. Pipiet Senja, mungkin buat sebagian besar penikmat novel-novel islam nama ini sudah tidak asing lagi. Tadinya saya pikir juga tidak istimewa karena saya pikir seperti Helvy ataupun Asma Nadia dalam usia mereka menjadi produktif menulis adalah biasa. Sampai sekitar 2 hari lalu saya temui beliau ternyata sudah berumur 50-an! Untuk usia segitu beliau sangat produktif menulis dan bahasanya... sangat up to date sekali dengan kondisi dan pergaulan masa kini, artinya her minds are always wide open! Bisa menerima dan mau belajar terus menerus, kebetulan dikosan Taryan beli memoarnya dan seringkali tergeletak dikamar tanpa ada satupun minat di hati saya untuk membacanya. Sampai tadi malam... tadi malam setelah saya tahu usia sebenarnya dari beliau saya langsung membuka dan membacanya... saya terharu ketika tahu usia, semangat dan kenyataan beliau mengidap thallasemia.
Satu yang saya ingat baik-baik nasihat beliau untuk penulis muda (yang untuk siapapun juga berlaku), "Teruslah menulis dan tidak usah menunggu tulisan kita diterima atau tidak" ... suatu pelajaran untuk terus berkarya tanpa perlu berfikir akan penghargaan yang akan kita terima. Luar biasa! pelajaran yang sangat berharga untuk saya...

Oh iya saya jadi keingetan menemukan kenyataan yang miris... kenapa novel islam tidak seheboh novel-novel lain. Pertama karena sikap orang Islam itu sendiri... orang islam itu hidupnya lempeng. Tidak banyak guncangan yang terjadi, setiap ada masalah selalu dikembalikan ke Allah, no hard feeling karena dibalik setiap kesulitan ada kemudahan. Jadinya ya isinya hampir bisa dipastikan happy ending... lagi pula tujuan akhir setiap muslim kan Allah. Sementara buat sebagian besar masyarakat cerita yang menarik itu seperti aturan berita, "Bad news is a good news"... orang suka membaca cerita manusia lain menderita, dan bagaimana mereka di tolong atau berjuang untuk bertahan adalah salah satu penyelesaian yang wajar, semakin susah pertolongan datang semakin menarik. Miris kan?
Kedua, mungkin karena label islam itu sendiri. Di toko buku semacam gramedia atau gunung agung novel islam seringkali dipisah dan tidak berbaur dengan chicklit atau novel lain. Agak sedikit merugikan sih dari segi dakwah, entah dari segi bisnis... soalnya saya pernah baca di Amerika, Christian Rock (semacam nasyid mungkin) justru dari segi bisnis dan penjualan kasetnya tidak kalah dari artis sekuler (beberapa malah lebih, contoh saja Third Days menghasilkan US $ 143.750 rata-rata kasar semalam dibanding Kanye West yang cuma US $ 94.444). Malahan fans CR memiliki tandingan Woodstock yaitu Creation Fest yang bisa menyedot 100.000 orang believers (begitu sebutan fans CR).
Wallahu'alam

Saturday, May 13, 2006

Books Days Out 5

Ke Booksdaysout pagi ini, terlalu pagi malah... Tidar masih tutup sih jadi ya mampir dulu ke tobucil daripada bengong di Cihapit.
Seperti biasa buku-bukunya banyak dan bikin mupeng, sebagian luar negeri dan Indonesia juga banyak. Ada buku-buku yang hanya di jual goceng! itu juga novel luar, ya jangan tanya judul bukunya tapi kalau niat pengen ngelancarin reading boleh juga dikoleksi. Ketemu dengan Mbak Tarlen, Mbak Iit dengan suami dan bunga (anaknya), juga mbak Rani... sempat nanya soal pelatihan penulisan review film ke Mbak Rani. Dan ternyata pesertanya sudah 12 orang dari 10 orang yang diminta... yaaaa telat sih taunya hehehe...
Mas Anwar dan keluarga juga ada, kayaknya mereka bener2 keluarga yang suka buku deh. Jadi keingetan dialog istri mas Anwar dengan anaknya pas milih-milih buku, bahasanya baku sekali. Tapi asiknya si mbak tidak hanya bilang mau yang mana terus di belikan, tapi si mbak ngajak dialog dulu... "Nah ini kan ada buku tentang anak hewan, yang ini juga bagus... kalau ibu boleh sarankan sebaiknya beli juga buku-buku lain. Tentang dinosaurus kan sudah banyak..." begitu kira-kira (kalau kalimat bakunya kira-kira seperti itulah hehehe). Tapi akhirnya si anaklah yang menang, sesaat kemudian dia sedang asik membaca buku tentang dinosaurus di sebuah kursi dekat kasir. Kayaknya asik banget ya? Meski ibu dan anak, nggak semata-mata pengen ini debelikan atau dilarang. Tapi si anak di ajak untuk berdiskusi dulu mengenai pilihannya, meskipun si anak keukeuh dengan pilihannya setidaknya si anak memilih sudah dengan alasan-alasan yang bisa diterima. Jadi tidak terbiasa dengan kata-kata pokoknya...
Sedangkan gw memilih sebuah buku tentang budaya sunda, seri sundalana edisi 3. Bukan apa2 sih, tapi disana ada 2 tulisan Raden Dewi Sartika pendiri sakola kautamaan istri. gw jadi penasaran ketika ada 2 teman yang berdialog soal kenapa RA Kartini namanya jauh lebih terdengar di banding R. Dewi Sartika... kesimpulan mereka adalah karena RA Kartini menulis. Ternyata memang benar Dewi Sartika jarang menulis, tapi beliau menulis 2 buku (satu buku transkrip pidatonya dalam acara ulang tahun sakola kautamaan istri, sementara satu lagi terdapat dalam buku kumpulan tulisan dalam bahasa belanda). Jadi setidaknya alasan RA Kartini semata-mata menulis gugur dengan sendirinya, yang membedakan hanyalah kepada siapa mereka menulis. Yups, RA kartini menulis kepada nyonya Abendanon yang suaminya merupakan mentri Onderwijs (sejenis pendidkan dan kebudayaan) saat itu. Lagipula saat itu juga sedang ramai-ramainya politik etik di Belanda... dan RA Kartini menjadi contoh wanita pribumi yang berfikiran maju saat itu. Sementara itu Dewi Sartika? Beliau sih hanya bekerja tanpa banyak cakap mendirikan Sakola Kautamaan Istri dan cabang-cabangnya menyebar ke seluruh Priangan. RA Kartini berjuang di pemikiran sementara Dewi Sartika lebih ke hal praktis, dua wanita hebat ini saling melengkapi dalam perjuangannya meningkatkan harkat kaum wanita Indonesia. Mungkin saja mereka berdua pernah bertemu dan bertukar pikiran walaupun hanya lewat surat.... mungkin saja.

Saturday, May 06, 2006

Sidodadi



Bermula dari situs Gombalabel, Pak Edi jadi keingetan dan berjanji ke kita dikantor buat membawakan Roti Sidodadi dalam wujudnya yang asli. Voila! esoknya pagi-pagi sekali gw melihat satu bungkus plastik merah dengan 2 bungkus Roti Sidodadi di atas meja... Langsung aja Abang, Kang Indra dan teman-teman "membahas" Roti Sidodadi. Katanya sih roti ini sudah ada dan terkenal sedari baheula. Rasa dan harganya memang top abis kata Abang terutama roti tawarnya, kata Abang sih rata-rata harganya delapan ribuan satu bungkusnya (sebungkusnya gede loh!). Dibungkus dengan plastik HDPE warna putih dengan desain yang jadoel poenja Roti Sidodadi bisa didapetin di Jalan Otto Iskandardinata 255 Bandung.

Tengteng Impor



"Masa' pak Eka pulang dari Singapur cuma bawa tengteng?" Begitu pikir saya ketika satu piring penuh penganan khas disodorkan Kang Depi di dapur kantor. Tapi kalau di lihat baik-baik memang itu sejenis dengan tengteng panganan jajan pasar yang sampai saat ini pun masih bisa di temui di pasar tradisional. Hanya yang menarik tengteng dari singapur ini bermerek Cheong Wo dan berhiaskan aksara hangul korea. Dikemas dalam bungkus yang handy dan dalam corak dan warna yang menarik. Tidak seperti tengteng yang bungkusnya hanya plastik tipis polos dan tampil kurang menarik, tengteng impor ini memberi sentuhan serius pada desain kemasannya.

Meski ada warna yang mencolok tetapi desain dominan transparan dan menonjolkan warna penganan itu sendiri. Warna natural dari tengteng impor ini seperti jaminan bahwa makanan ini bebas zat pewarna serta bahan-bahan buatan yang membuatnya jadi makanan yang aman dikonsumsi. Kalau produsen tengteng lokal sih lebih suka memberi warna pada makanannya sehingga tampak warnanya menjadi hijau atau merah cerah yang rasanya nggak mungkin menggunakan bahan pewarna makanan yang aman dikonsumsi mengingat harganya yang murah. Andai saya bisa membaca aksara korea dan tahu bahasanya (selain Annyong haseo dan Yoboseyo tentu saja hehehe) mungkin saya bisa membaca ingridents dan mungkin promise yang diberikan dalam kemasan tengteng impor.

Oh iya selain bermain pada kemasan, tengtengnya pun lebih bervariasi... ada beberapa varian lain yang memiliki bentuk partikel dan tekstur yang unik, sebagian malah dicampur dengan kacang (entah hazelnut atau apalah).
Satu lagi, studi tentang desain sebagai solusi.

Sunday, April 30, 2006

Djakarta, 29 April...



Sebenarnya pengen foto-foto dengan bajay kalo pas ke Jakarta, cuma seharian itu jadwal padat sampai malam menjelang. Padahal di sekitar Roxy square ada terdapat banyak komunitas b-jay. Ya tapi nggak apa-apalah setidaknya foto ini cukup ok, di foto sama Adi dan di retouch lagi.

Pak Saleh Kumis



Seharian habis ikutan seminar penulisan IT di Roxy square, kita pulang menjelang malam langsung cari makan karena dari siang kita belum makan (roti nggak diitung karena kita orang Indonesia hehehe). Dari Slipi muter-muter nyari makanan akhirnya kita balik-baliknya ke Sop kaki kambingnya Pak Saleh Kumis. Gw lupa tepatnya disebelah mana letak kiosnya, yang jelas dia ada setelah poolnya X-trans dan terletak di belakang rel kereta api dan memang tidak jauh dari stasiun kereta.
Harganya memang rada mahal sih tapi ya ampuuun! itu seporsi sop kaki kambing betul-betul bejibun, semangkok besar penuh sop yang rasanya enak banget! Bumbunya rada spicy yang bisa-bisa membuat kita lebih mirip orang habis marathon dibanding habis makan. Dua kali sudah kita makan disini dan tetap aja gw suka, ya tapi mungkin jangan sering-sering kali ya... bisi jiga abang hehehe.
Kebetulan hari itu juga sedang pertandingan final antara MU dan Chelsea, great match... tapi berhubung terlalu eungap gw akhirnya keluar sebentar dan taking some pictures.

Monday, April 17, 2006

Baa..!


azka (2 month) close up!

azka


foto keponakan gw, azka sama babenya...

Saturday, March 25, 2006

dee



I got this picture in my birthday, yang dee inginkan sebenarnya simple... cuma ingin ukuran optimum untuk di muat di FS. Berhubung di komputer dee nggak ada photoshop ya terpaksa gw bawa pulang. Dan kalo di bawa pulang? you know lah, pasti gw gatel buat retouch hehehe...



Awalnya foto-fotonya berwarna, dari beberapa foto ini dipilih untuk case study. Tantangan pertama adalah memutuskan foto ini hitam putih, jika diibaratkan bunga maka gw memilih menonjolkan shape dan ekspresinya maka warna-warna yang mengganggu harus dibuang. Selain itu memang wajah dee akan lebih cantik jika tampil sederhana dan tidak terlihat terlalu banyak riasan yang mengganggu. Kemudian mengatur kontras agar tampak perfect sebagai foto hitam putih, sedikit glow ditambahkan untuk menggambarkan sisi feminin dee yang kebetulan wanita yang mandiri. Lalu frame yang ekspresif memperkuat kesan klasik dari foto ini. Sebagai alternatif satu crop yang ekstrim mengambil close up dari sisi dan membentuk kotak, agar nampak seperti medium format. Simpel yah? Foto aslinya dari Ilalang memang sudah bagus hanya perlu sedikit retouch dan I'm glad she like my work...

Tuesday, March 21, 2006

FLOWER OF LIFE


Feel the goodness in all forms of life
Love all things; let go of strife
Open your petals; let love flow in
Widen the gap; let love grow within
Erase the scars of the past
Rest in the assurance that only love lasts

Own your self-worth in spite of what others may say
Find again the peace in your day

Live your potential; let the world know
Into yourself let a new energy flow
Find out you have so much to give
Embrace love; laugh and life

Be joyous and free
Be all that you are and ever could be!

A Poem by Eileen Finch Cain

Tuesday, March 14, 2006

Hasil quiz...



Masa sih?

Saturday, March 11, 2006

Cintapuccino

Ketika dee minta dicariin Cintapucino-nya Icha Rachmanti gw ngakak, ih seleranya ngepop banget! Rada beda ama gw yang sampai kemarin sama sekali belum pernah ngebuka buku-buku dengan label chicklit ataupun teenlit, nggak level gitu loh! Rasanya paling nggak kita bacanya literatur2 Indie ataupun rada beratan dikit... ya Fira basuki ataupun Supernova lah minimal. Karena sesuatu hal buku itu nggak bisa gw kasihin hari itu juga jadilah ia menginap semalam di kosan gw, dan sambil iseng ya gw buka dan baca aja. Dari awalnya sendiri gw mulai salut karena ternyata Icha merintis chicklit asli Indonesia (Chicklit atau chick literatur yang di Indonesia kebanyakan import padahal permasalahan wanita di Indonesia tentunya berbeda dengan wanita di negara asal chicklit import itu). Dari sanalah gw ngerasa ada satu semangat idealis yang ingin ditularkan Icha sama dengan semangat orang-orang indie, dan saat membaca lembar demi lembar... terus terang bahasanya mengalir lincah bisalah disetarakan dengan buku-bukunya Fira.
Masalah yang diangkat juga sangat manusia, tentang pencarian "sosok" dalam hidup seorang wanita. Dalam alurnya gw seperti merasa tertampar ketika baca buku ini... kayaknya gw banget! Selain itu juga gw mulai bisa memahami kata-kata Mas Iqbal tentang bagaimana membumikan cinta sehingga kita bisa benar-benar mencintai Tuhan justru dari buku ini (terlalu sufistik untuk dibahas disini, entar aja deh kalo gw udah bisa membahasakannya dengan lebih ngepop). Karena terlalu asik tanpa sadar gw menamatkan buku ini malam itu juga! Tanda kalo gw bener-bener suka sama buku ini.
Btw dari buku ini gw salut ternyata selera baca dee bagus juga, gw salah selama ini.

Tuesday, February 21, 2006

Mulanya dari secangkir capuccino...

Mulanya dari secangkir capuccino yang disajikan sangat..sangat.. terlambat di ReMo, Mas Iqbal membongkar saya layer perlayer. Dari capuccino yang terlambat itu Mas Iqbal heran kenapa saya membiarkan saja keterlambatan itu tanpa banyak ribut atau menuntut. Sesuatu yang aneh menurut saya jika kita harus ribut hanya karena secangkir capuccino, bukankah akan lebih baik kalau kita menghindari meributkan hal-hal yang kecil... don't sweat a small stuff lah! Biarlah sesuatu hal terjadi, yang penting kan saya sudah berusaha untuk selalu bertanya dengan sopan ketika pelayan ReMo lewat. Kalau dia lupa sudahlah! Saya bisa maklum kalau mereka kaget, karena tidak biasanya ReMo seramai ini ketika PsikoPOP menggelar acaranya disini. Tapi tau pendapat Mas Iqbal? Dia membalik semua yang saya yakini selama ini, saya nggak pernah berfikir justru dengan sikap seperti itu sebenarnya saya sedang mencari aman, saya menghindari reaksi yang mungkin timbul jika saya melakukan cara-cara tidak sopan atau tidak biasa dalam mencoba mendapatakan hak saya. Mengapa? Karena saya menghindari berhadapan dengan situasi yang tidak dapat saya duga sebelumnya (ini seratus persen benar!).

Saya coba trackback semenjak dialog itu, dalam merancang satu pertemuan mungkin malam sebelumnya saya sudah memikirkan (atau tepatnya membayangkan) beberapa kemungkinan yang akan terjadi berikut respon yang akan digunakan. Saya suka membaca dan menyaksikan banyak film terutama tentang drama dan kemanusiaan... bukan semata-semata (dalam istilah saya) saya seorang humanis... tapi juga mencoba mencari referensi sebanyak-banyaknya dari literatur sebelum saya menghadapi kejadian yang sama atau mirip. Mungkin saya pintar... tapi kepintaran itu ada karena banyaknya literatur dan bukan karena saya bisa memikirkan reaksi yang tepat pada satu peristiwa. Mungkin ini bedanya saya dengan Kang Hendra, perbedaan pada improvisasi! Saya begitu saklek pada literatur hingga temen-temen K'rasa bilang saya textbook.

Karena saya tidak bisa memperhitungkan apa yang akan terjadi jika saya melakukan tindakan x maka saya memilih untuk tenang dan menahan diri. Suatu tindakan untuk mengamati dan mengkalkulasi apabila saya melakukan x, apakah hasil yang didapat adalah Y? atau jangan-jangan Z? jika cukup yakin dalam mengkalkulasi maka saya akan bertindak cepat sesuai dengan perhitungan.
Namun ada kalanya saya begitu muak pada kalkulasi dan membuang semua perhitungan-perhitungan dan berjalan hanya dengan insting. Srudak-sruduk memang... tapi biasanya ada progres meskipun kadang tampak tidak sopan... setidaknya it's work! seperti sniff and scurry dalam who moves my cheese, mereka begitu kurang perhitungan tapi merekalah yang survive dalam labirin.

Kesannya jelek ya? Tapi justru kata mas Iqbal kalau saya lebih memilih diam dan tidak berani mengambil sikap justru saya menjadi jahat, karena saya menghalangi dia untuk berkembang. Bukankah kata Einstein dunia ini rusak justru bukan karena perbuatan orang-orang jahat, tetapi oleh orang-orang baik yang melihat perbuatan itu tapi diam saja? Masih banyak hal yang kita dialogan malam itu, sampai jam sebelas malam! Sementara Talkshow "She Loves Me"nya menurut saya berjalan biasa-biasa saja... tapi ngobrol dengan Mas Iqbal teman sekaligus guru dan psikolog buat bener-bener membuat saya nggak rugi sudah datang malam minggu ini, meskipun dalam kondisi yang -kata Mas Iqbal- seperti pertapa di tengah keramaian.

Sunday, February 19, 2006

Rindu Rasul


Dua foto close up diambil dalam jarak dekat saat acara doa bersama di gasibu, ketika Hadad Alwi melantunkan doa-doa yang mengungkap kerinduannya pada Rasulullah...
Foto-foto ini menangkap ekspresi Aa dan teteh yang sangat jarang ditampilkan di media massa, Alhamdulillah saya bisa dapatkan hari ini.

Tuesday, February 14, 2006

elves...


Imbang namanya, sepanjang weekend kemarin gw retouch fotonya untuk seorang teman. Ada tujuh tepatnya foto yang di retouch tapi dari semuanya foto ini yang jadi favorit. Imaji yang timbul mengingatkan saya pada adegan Frodo Bagins and his companion bertemu bangsa elves yang tinggal di hutan, cahaya yang hangat dan soft, sedikit blur dan garis-garis cahaya. Rencananya foto ini dan enam lainnya akan diberikan hari ini, saat hari kasih sayang... how romantic...

Anak-anak ITB


Anak-anak ITB, rasanya seperti mimpi kuliah di ITB... universitas yang katanya hanya untuk anak-anak pintar (dan gila! karena ada DKV hehehe)makanya saya buat dalam imaji yang seperti realitas semu. Lalu siluet orang-orang yang mewakili anak-anak ITB dengan aktivitasnya di bawah bayang-bayang ganesha sang simbol pengetahuan.

Eskapisme


Minggu sore di Sekeloa, sambil nunggu teman di kosan yang mendadak harus "melapor" ke belakang. Di lorong-lorong yang sempit, anak-anak sudah kehilangan banyak tempat bermain. Ketika bangun tidur didepan rumah sudah menanti tembok yang tinggi begitu juga disamping dan dibelakang rumah mereka. Rumah-rumah yang bersesak-sesakan membuat suasana semakin sumpek, andai saja ada suatu tempat nun jauh disana bagi anak-anak dapat bermain riang dan lepas, dalam hamparan taman luas bak taman bagi dimpsi, lala dan pooh. Anak-anak butuh eskapisme, menuju dunia itu... dan kendaraan yang tampak di depan sang anak, seperti satu jalan untuk membawanya pergi.

Sunday, January 29, 2006

quotes of the day

"Ambitions are like friends --
if you have a lot, you'll always have something to do."
friendster

Tuesday, January 24, 2006

Co-branding

Sudah rahasia umum brand mana yang saya incar untuk me-leverage equitas semenjak blog ini bocor, dan anehnya itu tidak membuat saya jadi down tapi justru sebaliknya. Saya jadi banyak belajar dari peristiwa itu, bahkan boleh dikata brand tersebut saat ini menjadi guru virtual yang mengajarkan banyak hal walau sementara brand itu sendiri tidak tahu. Kejadian itu menjadi semacam titik balik buat saya untuk berkembang, bahkan itu hanyalah satu dari serangkaian peristiwa-peristiwa yang mengarah ke perkembangan diri. Seperti hari ini, saya belajar banyak hal dari negosiasi. Kebetulan saat ini kami dalam meeting-meeting intens dalam rangka co-branding. Disini dalam langkah-langkah awal kita sudah salah langkah, bukan dalam arti fisik saja tapi justru kesalahan pertama pada mindset. Kita berfikir sebagai perusahaan jasa content yang akan bekerjasama dengan satu operator seluler untuk membidik pasar komunitas, seharusnya kita berfikir tidak demikian karena toh komunitas itu milik kita dan sudah seharusnya image yang timbul adalah "mereka butuh kita" dan bukan sebaliknya. Disini masalah mindset menjadi hal yang saya garis bawahi, beberapa kali saat meeting saya jadi kurang percaya diri dan merasa posisi brand itu lebih tinggi. Tetapi kalau mau jujur ternyata ya nggak juga, kita setara saat ini, masalah yang kita tangani sama-sama berat walaupun beda bidang. Akhirnya saya mulai tekankan berulang kali (meminjam istilah anak-anak Tianshi)dalam selftalk, bahwa kita setara dan tidak ada yang lebih rendah. Setelah itu rasa gugup hilang dan mulai saya bisa tampil seperti biasa, urusan mindset selesai namun dalam negosiasi ada satu lagi yang harus diperhatikan.... bargaining! Artinya elo mau ngasih apa ke gue? dan gue akan ngasih apa ke elo? menjadi hal kedua yang tak kalah penting, apakah yang kita terima akan seimbang atau timpang. Nah kata kang Hendra nih pilihan saya sudah bagus karena value for money dan bisa berfungsi sebagai kartu diskon tapi dari pihak saya, apa advantage yang akan saya tawarkan agar co-branding bisa berjalan. Namun anehnya saat pulang ke Bandung dan iseng ngecek Vypress chatt di PC, Pak Edhie memposting satu tulisan mengenai pria ideal. Dalam tulisannya Pak Edhie bilang kalau ternyata pria ideal dimata wanita yang siap dinikahi itu cukup sedehana, cuma mampu membuat dia nyaman, membanggakan secara batin (bukan visual, ketampanan misalnya), dan ngemong. Wanita akan lebih tunduk dengan pria yg tegas, mampu mengambil keputusan, percaya diri, sangat konsisten, dan gampang meminta maaf jika bersalah. Inilah yang seharusnya advantage yang ditawarkan dan bukan melulu materi, cukup sikap bathin dan rasa rendah hati untuk selalu membuat diri sempurna dengan balutan kejujuran.

Apakah saya memberikan benefit seperti itu? Entahlah kalau saya yang menilai pasti ya baik-baik saja, tapi beberapa teman wanita bilang kalau kadang-kadang saya bisa dewasa dalam bersikap (ehm...) terus 2 adik saya yang perempuan lebih suka curhat ke saya dibanding ke kakak, mungkin karena saya benar-benar sayang ke mereka (ya namanya juga adik ^_^ ) tapi mungkin point paling kurang dari saya adalah rasa percaya diri dan sikap (seolah-olah) inkonsisten, mungkin ini disebabkan sikap hati-hati saya agar tidak menyakiti perasaan orang lain... kalau bisa bagaimana caranya membuat sebanyak-banyaknya orang bahagia. Namun saya sadar bahwa sikap seperti ini salah... karena selain terlihat tidak konsisten juga seperti apa yang dikatakan Bill Cosby, "Saya tidak tahu bagaimana resep sukses, yang saya tahu resep gagal yaitu jika kita berusaha untuk menyenangkan semua orang". Mungkin ini advantage yang bisa diperbaiki dan ditawarkan, namun pada intinya saya harus mengubah mindset saya dan yakin bahwa saya punya kemampuan dan bisa.

Saturday, January 21, 2006

sudah buka mang?

Image hosting by Photobucket
sudah buka mang?

Ternyata ciwalk lebih menarik buat difoto saat pagi hari, pas magic hours warna-warnanya akan keluar semua. Kebetulan warna dominan gedung-gedung ciwalk cerah dan akan tampak lebih bagus kalau matahari sinarnya mengandung lebih banyak kuning, jadinya karakter warna yang didapat lebih warm. Ternyata ciwalk meskipun kecil semakin diulik semakin asik!

Tuesday, January 17, 2006

Jakarta sore ini

Image hosted by Photobucket.com
Jakarta sore ini dari gedung cyber, pengen motret di busway euy... kampungan pisan ya :D