Sudah rahasia umum brand mana yang saya incar untuk me-leverage equitas semenjak blog ini bocor, dan anehnya itu tidak membuat saya jadi down tapi justru sebaliknya. Saya jadi banyak belajar dari peristiwa itu, bahkan boleh dikata brand tersebut saat ini menjadi guru virtual yang mengajarkan banyak hal walau sementara brand itu sendiri tidak tahu. Kejadian itu menjadi semacam titik balik buat saya untuk berkembang, bahkan itu hanyalah satu dari serangkaian peristiwa-peristiwa yang mengarah ke perkembangan diri. Seperti hari ini, saya belajar banyak hal dari negosiasi. Kebetulan saat ini kami dalam meeting-meeting intens dalam rangka co-branding. Disini dalam langkah-langkah awal kita sudah salah langkah, bukan dalam arti fisik saja tapi justru kesalahan pertama pada mindset. Kita berfikir sebagai perusahaan jasa content yang akan bekerjasama dengan satu operator seluler untuk membidik pasar komunitas, seharusnya kita berfikir tidak demikian karena toh komunitas itu milik kita dan sudah seharusnya image yang timbul adalah "mereka butuh kita" dan bukan sebaliknya. Disini masalah mindset menjadi hal yang saya garis bawahi, beberapa kali saat meeting saya jadi kurang percaya diri dan merasa posisi brand itu lebih tinggi. Tetapi kalau mau jujur ternyata ya nggak juga, kita setara saat ini, masalah yang kita tangani sama-sama berat walaupun beda bidang. Akhirnya saya mulai tekankan berulang kali (meminjam istilah anak-anak Tianshi)dalam selftalk, bahwa kita setara dan tidak ada yang lebih rendah. Setelah itu rasa gugup hilang dan mulai saya bisa tampil seperti biasa, urusan mindset selesai namun dalam negosiasi ada satu lagi yang harus diperhatikan.... bargaining! Artinya elo mau ngasih apa ke gue? dan gue akan ngasih apa ke elo? menjadi hal kedua yang tak kalah penting, apakah yang kita terima akan seimbang atau timpang. Nah kata kang Hendra nih pilihan saya sudah bagus karena value for money dan bisa berfungsi sebagai kartu diskon tapi dari pihak saya, apa advantage yang akan saya tawarkan agar co-branding bisa berjalan. Namun anehnya saat pulang ke Bandung dan iseng ngecek Vypress chatt di PC, Pak Edhie memposting satu tulisan mengenai pria ideal. Dalam tulisannya Pak Edhie bilang kalau ternyata pria ideal dimata wanita yang siap dinikahi itu cukup sedehana, cuma mampu membuat dia nyaman, membanggakan secara batin (bukan visual, ketampanan misalnya), dan ngemong. Wanita akan lebih tunduk dengan pria yg tegas, mampu mengambil keputusan, percaya diri, sangat konsisten, dan gampang meminta maaf jika bersalah. Inilah yang seharusnya advantage yang ditawarkan dan bukan melulu materi, cukup sikap bathin dan rasa rendah hati untuk selalu membuat diri sempurna dengan balutan kejujuran.
Apakah saya memberikan benefit seperti itu? Entahlah kalau saya yang menilai pasti ya baik-baik saja, tapi beberapa teman wanita bilang kalau kadang-kadang saya bisa dewasa dalam bersikap (ehm...) terus 2 adik saya yang perempuan lebih suka curhat ke saya dibanding ke kakak, mungkin karena saya benar-benar sayang ke mereka (ya namanya juga adik ^_^ ) tapi mungkin point paling kurang dari saya adalah rasa percaya diri dan sikap (seolah-olah) inkonsisten, mungkin ini disebabkan sikap hati-hati saya agar tidak menyakiti perasaan orang lain... kalau bisa bagaimana caranya membuat sebanyak-banyaknya orang bahagia. Namun saya sadar bahwa sikap seperti ini salah... karena selain terlihat tidak konsisten juga seperti apa yang dikatakan Bill Cosby, "Saya tidak tahu bagaimana resep sukses, yang saya tahu resep gagal yaitu jika kita berusaha untuk menyenangkan semua orang". Mungkin ini advantage yang bisa diperbaiki dan ditawarkan, namun pada intinya saya harus mengubah mindset saya dan yakin bahwa saya punya kemampuan dan bisa.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment