Mulanya dari secangkir capuccino yang disajikan sangat..sangat.. terlambat di ReMo, Mas Iqbal membongkar saya layer perlayer. Dari capuccino yang terlambat itu Mas Iqbal heran kenapa saya membiarkan saja keterlambatan itu tanpa banyak ribut atau menuntut. Sesuatu yang aneh menurut saya jika kita harus ribut hanya karena secangkir capuccino, bukankah akan lebih baik kalau kita menghindari meributkan hal-hal yang kecil... don't sweat a small stuff lah! Biarlah sesuatu hal terjadi, yang penting kan saya sudah berusaha untuk selalu bertanya dengan sopan ketika pelayan ReMo lewat. Kalau dia lupa sudahlah! Saya bisa maklum kalau mereka kaget, karena tidak biasanya ReMo seramai ini ketika PsikoPOP menggelar acaranya disini. Tapi tau pendapat Mas Iqbal? Dia membalik semua yang saya yakini selama ini, saya nggak pernah berfikir justru dengan sikap seperti itu sebenarnya saya sedang mencari aman, saya menghindari reaksi yang mungkin timbul jika saya melakukan cara-cara tidak sopan atau tidak biasa dalam mencoba mendapatakan hak saya. Mengapa? Karena saya menghindari berhadapan dengan situasi yang tidak dapat saya duga sebelumnya (ini seratus persen benar!).
Saya coba trackback semenjak dialog itu, dalam merancang satu pertemuan mungkin malam sebelumnya saya sudah memikirkan (atau tepatnya membayangkan) beberapa kemungkinan yang akan terjadi berikut respon yang akan digunakan. Saya suka membaca dan menyaksikan banyak film terutama tentang drama dan kemanusiaan... bukan semata-semata (dalam istilah saya) saya seorang humanis... tapi juga mencoba mencari referensi sebanyak-banyaknya dari literatur sebelum saya menghadapi kejadian yang sama atau mirip. Mungkin saya pintar... tapi kepintaran itu ada karena banyaknya literatur dan bukan karena saya bisa memikirkan reaksi yang tepat pada satu peristiwa. Mungkin ini bedanya saya dengan Kang Hendra, perbedaan pada improvisasi! Saya begitu saklek pada literatur hingga temen-temen K'rasa bilang saya textbook.
Karena saya tidak bisa memperhitungkan apa yang akan terjadi jika saya melakukan tindakan x maka saya memilih untuk tenang dan menahan diri. Suatu tindakan untuk mengamati dan mengkalkulasi apabila saya melakukan x, apakah hasil yang didapat adalah Y? atau jangan-jangan Z? jika cukup yakin dalam mengkalkulasi maka saya akan bertindak cepat sesuai dengan perhitungan.
Namun ada kalanya saya begitu muak pada kalkulasi dan membuang semua perhitungan-perhitungan dan berjalan hanya dengan insting. Srudak-sruduk memang... tapi biasanya ada progres meskipun kadang tampak tidak sopan... setidaknya it's work! seperti sniff and scurry dalam who moves my cheese, mereka begitu kurang perhitungan tapi merekalah yang survive dalam labirin.
Kesannya jelek ya? Tapi justru kata mas Iqbal kalau saya lebih memilih diam dan tidak berani mengambil sikap justru saya menjadi jahat, karena saya menghalangi dia untuk berkembang. Bukankah kata Einstein dunia ini rusak justru bukan karena perbuatan orang-orang jahat, tetapi oleh orang-orang baik yang melihat perbuatan itu tapi diam saja? Masih banyak hal yang kita dialogan malam itu, sampai jam sebelas malam! Sementara Talkshow "She Loves Me"nya menurut saya berjalan biasa-biasa saja... tapi ngobrol dengan Mas Iqbal teman sekaligus guru dan psikolog buat bener-bener membuat saya nggak rugi sudah datang malam minggu ini, meskipun dalam kondisi yang -kata Mas Iqbal- seperti pertapa di tengah keramaian.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment