Sunday, May 28, 2006

Menyaksikan bencana dari kejauhan

Pagi-pagi nonton tv sambi menyeruput kopi cream dan makan pisang goreng hangat... berita masih tentang gempa di jogja. Tapi saya rasa pagi ini jauh lebih tenang bukan... bukan karena kondisi di Jogja baik-baik saja, kabar terakhir hampir tiga ribu orang tewas. Tapi dari kemarin coba kontak teman dan saudara mereka semua Alhamdulillah selamat. "lampu bergoyang-goyang, buku-buku jatuh, dispenser ambruk, rumah-rumah runtuh tapi Alhamdulillah kami selamat" selarik kalimat itu kira-kira dari Hari yang kebetulan tinggal di Bantul. Kebanyakan rumah yang ambruk menurut Hari adalah rumah yang semi permanen dan rumah-rumah tua, belum lagi kata mas putut rumah-rumah jogja yang hanya pondasi dan 4 tiang penyangga (juga 2 tiang soko guru ditengah) membuatnya gampang ambruk. Belum lagi kualitas tembok yang hanya sedikit semen dan kebanyakan kapur dan pasir membuatnya sangat rapuh, entahlah selama di jogja saya nggak pernah iseng mengetuk-ngetuk tembok rumah orang untuk memeriksa kualitasnya. Ndak elok hehehe...
Sebagian orang justru menuduh Kraton memindahkan bencana ke selatan dari yang seharusnya dari merapi di utara, mistis? Jawa memeng mistis, tapi kalau memang bisa begitu sultan tentu memindahkannya jauh-jauh dari rakyatnya. Teringat lagi dengan Mbah Marijan -juru kunci merapi- yang keukuh tidak mau mengungsi, apakah dia mendapat vision bahwa bencana bukanlah datang dari utara tapi dari arah lain. Entahlah jawa dan budayanya masih menjadi misteri besar buat saya, penuh simbol dan mistisme.
Kembali ke saya dengan secangkir kopi cream hangat dan pisang goreng, merasa jauh lebih rileks karena saya tahu teman dan keluarga saya di jogja baik-baik saja... apakah begitu? apakah kita semua begitu? ketika tidak ada bencana menimpa kita, saudara atau keluarga maka kita akan merasa bencana itu menjauh? Entahlah tapi jogja adalah bagian hidup saya, melihatnya berduka tetap membuat saya sedih. Meski kini saya melihatnya dari kejauhan... dari monitor televisi sambil menyeruput kopi cream hangat dan pisang goreng dengan lebih rileks.

Sunday, May 21, 2006

Passion Pipiet Senja dan Novel Islam

Baru kemarin gw sempat dibuat kesal dengan seorang editor senior, dalam beberapa hari ini gw menjadi "mengenal" seorang penulis senior yang passion dalam berkarya dan daya hidupnya luar biasa. Pipiet Senja, mungkin buat sebagian besar penikmat novel-novel islam nama ini sudah tidak asing lagi. Tadinya saya pikir juga tidak istimewa karena saya pikir seperti Helvy ataupun Asma Nadia dalam usia mereka menjadi produktif menulis adalah biasa. Sampai sekitar 2 hari lalu saya temui beliau ternyata sudah berumur 50-an! Untuk usia segitu beliau sangat produktif menulis dan bahasanya... sangat up to date sekali dengan kondisi dan pergaulan masa kini, artinya her minds are always wide open! Bisa menerima dan mau belajar terus menerus, kebetulan dikosan Taryan beli memoarnya dan seringkali tergeletak dikamar tanpa ada satupun minat di hati saya untuk membacanya. Sampai tadi malam... tadi malam setelah saya tahu usia sebenarnya dari beliau saya langsung membuka dan membacanya... saya terharu ketika tahu usia, semangat dan kenyataan beliau mengidap thallasemia.
Satu yang saya ingat baik-baik nasihat beliau untuk penulis muda (yang untuk siapapun juga berlaku), "Teruslah menulis dan tidak usah menunggu tulisan kita diterima atau tidak" ... suatu pelajaran untuk terus berkarya tanpa perlu berfikir akan penghargaan yang akan kita terima. Luar biasa! pelajaran yang sangat berharga untuk saya...

Oh iya saya jadi keingetan menemukan kenyataan yang miris... kenapa novel islam tidak seheboh novel-novel lain. Pertama karena sikap orang Islam itu sendiri... orang islam itu hidupnya lempeng. Tidak banyak guncangan yang terjadi, setiap ada masalah selalu dikembalikan ke Allah, no hard feeling karena dibalik setiap kesulitan ada kemudahan. Jadinya ya isinya hampir bisa dipastikan happy ending... lagi pula tujuan akhir setiap muslim kan Allah. Sementara buat sebagian besar masyarakat cerita yang menarik itu seperti aturan berita, "Bad news is a good news"... orang suka membaca cerita manusia lain menderita, dan bagaimana mereka di tolong atau berjuang untuk bertahan adalah salah satu penyelesaian yang wajar, semakin susah pertolongan datang semakin menarik. Miris kan?
Kedua, mungkin karena label islam itu sendiri. Di toko buku semacam gramedia atau gunung agung novel islam seringkali dipisah dan tidak berbaur dengan chicklit atau novel lain. Agak sedikit merugikan sih dari segi dakwah, entah dari segi bisnis... soalnya saya pernah baca di Amerika, Christian Rock (semacam nasyid mungkin) justru dari segi bisnis dan penjualan kasetnya tidak kalah dari artis sekuler (beberapa malah lebih, contoh saja Third Days menghasilkan US $ 143.750 rata-rata kasar semalam dibanding Kanye West yang cuma US $ 94.444). Malahan fans CR memiliki tandingan Woodstock yaitu Creation Fest yang bisa menyedot 100.000 orang believers (begitu sebutan fans CR).
Wallahu'alam

Saturday, May 13, 2006

Books Days Out 5

Ke Booksdaysout pagi ini, terlalu pagi malah... Tidar masih tutup sih jadi ya mampir dulu ke tobucil daripada bengong di Cihapit.
Seperti biasa buku-bukunya banyak dan bikin mupeng, sebagian luar negeri dan Indonesia juga banyak. Ada buku-buku yang hanya di jual goceng! itu juga novel luar, ya jangan tanya judul bukunya tapi kalau niat pengen ngelancarin reading boleh juga dikoleksi. Ketemu dengan Mbak Tarlen, Mbak Iit dengan suami dan bunga (anaknya), juga mbak Rani... sempat nanya soal pelatihan penulisan review film ke Mbak Rani. Dan ternyata pesertanya sudah 12 orang dari 10 orang yang diminta... yaaaa telat sih taunya hehehe...
Mas Anwar dan keluarga juga ada, kayaknya mereka bener2 keluarga yang suka buku deh. Jadi keingetan dialog istri mas Anwar dengan anaknya pas milih-milih buku, bahasanya baku sekali. Tapi asiknya si mbak tidak hanya bilang mau yang mana terus di belikan, tapi si mbak ngajak dialog dulu... "Nah ini kan ada buku tentang anak hewan, yang ini juga bagus... kalau ibu boleh sarankan sebaiknya beli juga buku-buku lain. Tentang dinosaurus kan sudah banyak..." begitu kira-kira (kalau kalimat bakunya kira-kira seperti itulah hehehe). Tapi akhirnya si anaklah yang menang, sesaat kemudian dia sedang asik membaca buku tentang dinosaurus di sebuah kursi dekat kasir. Kayaknya asik banget ya? Meski ibu dan anak, nggak semata-mata pengen ini debelikan atau dilarang. Tapi si anak di ajak untuk berdiskusi dulu mengenai pilihannya, meskipun si anak keukeuh dengan pilihannya setidaknya si anak memilih sudah dengan alasan-alasan yang bisa diterima. Jadi tidak terbiasa dengan kata-kata pokoknya...
Sedangkan gw memilih sebuah buku tentang budaya sunda, seri sundalana edisi 3. Bukan apa2 sih, tapi disana ada 2 tulisan Raden Dewi Sartika pendiri sakola kautamaan istri. gw jadi penasaran ketika ada 2 teman yang berdialog soal kenapa RA Kartini namanya jauh lebih terdengar di banding R. Dewi Sartika... kesimpulan mereka adalah karena RA Kartini menulis. Ternyata memang benar Dewi Sartika jarang menulis, tapi beliau menulis 2 buku (satu buku transkrip pidatonya dalam acara ulang tahun sakola kautamaan istri, sementara satu lagi terdapat dalam buku kumpulan tulisan dalam bahasa belanda). Jadi setidaknya alasan RA Kartini semata-mata menulis gugur dengan sendirinya, yang membedakan hanyalah kepada siapa mereka menulis. Yups, RA kartini menulis kepada nyonya Abendanon yang suaminya merupakan mentri Onderwijs (sejenis pendidkan dan kebudayaan) saat itu. Lagipula saat itu juga sedang ramai-ramainya politik etik di Belanda... dan RA Kartini menjadi contoh wanita pribumi yang berfikiran maju saat itu. Sementara itu Dewi Sartika? Beliau sih hanya bekerja tanpa banyak cakap mendirikan Sakola Kautamaan Istri dan cabang-cabangnya menyebar ke seluruh Priangan. RA Kartini berjuang di pemikiran sementara Dewi Sartika lebih ke hal praktis, dua wanita hebat ini saling melengkapi dalam perjuangannya meningkatkan harkat kaum wanita Indonesia. Mungkin saja mereka berdua pernah bertemu dan bertukar pikiran walaupun hanya lewat surat.... mungkin saja.

Saturday, May 06, 2006

Sidodadi



Bermula dari situs Gombalabel, Pak Edi jadi keingetan dan berjanji ke kita dikantor buat membawakan Roti Sidodadi dalam wujudnya yang asli. Voila! esoknya pagi-pagi sekali gw melihat satu bungkus plastik merah dengan 2 bungkus Roti Sidodadi di atas meja... Langsung aja Abang, Kang Indra dan teman-teman "membahas" Roti Sidodadi. Katanya sih roti ini sudah ada dan terkenal sedari baheula. Rasa dan harganya memang top abis kata Abang terutama roti tawarnya, kata Abang sih rata-rata harganya delapan ribuan satu bungkusnya (sebungkusnya gede loh!). Dibungkus dengan plastik HDPE warna putih dengan desain yang jadoel poenja Roti Sidodadi bisa didapetin di Jalan Otto Iskandardinata 255 Bandung.

Tengteng Impor



"Masa' pak Eka pulang dari Singapur cuma bawa tengteng?" Begitu pikir saya ketika satu piring penuh penganan khas disodorkan Kang Depi di dapur kantor. Tapi kalau di lihat baik-baik memang itu sejenis dengan tengteng panganan jajan pasar yang sampai saat ini pun masih bisa di temui di pasar tradisional. Hanya yang menarik tengteng dari singapur ini bermerek Cheong Wo dan berhiaskan aksara hangul korea. Dikemas dalam bungkus yang handy dan dalam corak dan warna yang menarik. Tidak seperti tengteng yang bungkusnya hanya plastik tipis polos dan tampil kurang menarik, tengteng impor ini memberi sentuhan serius pada desain kemasannya.

Meski ada warna yang mencolok tetapi desain dominan transparan dan menonjolkan warna penganan itu sendiri. Warna natural dari tengteng impor ini seperti jaminan bahwa makanan ini bebas zat pewarna serta bahan-bahan buatan yang membuatnya jadi makanan yang aman dikonsumsi. Kalau produsen tengteng lokal sih lebih suka memberi warna pada makanannya sehingga tampak warnanya menjadi hijau atau merah cerah yang rasanya nggak mungkin menggunakan bahan pewarna makanan yang aman dikonsumsi mengingat harganya yang murah. Andai saya bisa membaca aksara korea dan tahu bahasanya (selain Annyong haseo dan Yoboseyo tentu saja hehehe) mungkin saya bisa membaca ingridents dan mungkin promise yang diberikan dalam kemasan tengteng impor.

Oh iya selain bermain pada kemasan, tengtengnya pun lebih bervariasi... ada beberapa varian lain yang memiliki bentuk partikel dan tekstur yang unik, sebagian malah dicampur dengan kacang (entah hazelnut atau apalah).
Satu lagi, studi tentang desain sebagai solusi.