Sunday, May 21, 2006

Passion Pipiet Senja dan Novel Islam

Baru kemarin gw sempat dibuat kesal dengan seorang editor senior, dalam beberapa hari ini gw menjadi "mengenal" seorang penulis senior yang passion dalam berkarya dan daya hidupnya luar biasa. Pipiet Senja, mungkin buat sebagian besar penikmat novel-novel islam nama ini sudah tidak asing lagi. Tadinya saya pikir juga tidak istimewa karena saya pikir seperti Helvy ataupun Asma Nadia dalam usia mereka menjadi produktif menulis adalah biasa. Sampai sekitar 2 hari lalu saya temui beliau ternyata sudah berumur 50-an! Untuk usia segitu beliau sangat produktif menulis dan bahasanya... sangat up to date sekali dengan kondisi dan pergaulan masa kini, artinya her minds are always wide open! Bisa menerima dan mau belajar terus menerus, kebetulan dikosan Taryan beli memoarnya dan seringkali tergeletak dikamar tanpa ada satupun minat di hati saya untuk membacanya. Sampai tadi malam... tadi malam setelah saya tahu usia sebenarnya dari beliau saya langsung membuka dan membacanya... saya terharu ketika tahu usia, semangat dan kenyataan beliau mengidap thallasemia.
Satu yang saya ingat baik-baik nasihat beliau untuk penulis muda (yang untuk siapapun juga berlaku), "Teruslah menulis dan tidak usah menunggu tulisan kita diterima atau tidak" ... suatu pelajaran untuk terus berkarya tanpa perlu berfikir akan penghargaan yang akan kita terima. Luar biasa! pelajaran yang sangat berharga untuk saya...

Oh iya saya jadi keingetan menemukan kenyataan yang miris... kenapa novel islam tidak seheboh novel-novel lain. Pertama karena sikap orang Islam itu sendiri... orang islam itu hidupnya lempeng. Tidak banyak guncangan yang terjadi, setiap ada masalah selalu dikembalikan ke Allah, no hard feeling karena dibalik setiap kesulitan ada kemudahan. Jadinya ya isinya hampir bisa dipastikan happy ending... lagi pula tujuan akhir setiap muslim kan Allah. Sementara buat sebagian besar masyarakat cerita yang menarik itu seperti aturan berita, "Bad news is a good news"... orang suka membaca cerita manusia lain menderita, dan bagaimana mereka di tolong atau berjuang untuk bertahan adalah salah satu penyelesaian yang wajar, semakin susah pertolongan datang semakin menarik. Miris kan?
Kedua, mungkin karena label islam itu sendiri. Di toko buku semacam gramedia atau gunung agung novel islam seringkali dipisah dan tidak berbaur dengan chicklit atau novel lain. Agak sedikit merugikan sih dari segi dakwah, entah dari segi bisnis... soalnya saya pernah baca di Amerika, Christian Rock (semacam nasyid mungkin) justru dari segi bisnis dan penjualan kasetnya tidak kalah dari artis sekuler (beberapa malah lebih, contoh saja Third Days menghasilkan US $ 143.750 rata-rata kasar semalam dibanding Kanye West yang cuma US $ 94.444). Malahan fans CR memiliki tandingan Woodstock yaitu Creation Fest yang bisa menyedot 100.000 orang believers (begitu sebutan fans CR).
Wallahu'alam

No comments: