
"Masa' pak Eka pulang dari Singapur cuma bawa tengteng?" Begitu pikir saya ketika satu piring penuh penganan khas disodorkan Kang Depi di dapur kantor. Tapi kalau di lihat baik-baik memang itu sejenis dengan tengteng panganan jajan pasar yang sampai saat ini pun masih bisa di temui di pasar tradisional. Hanya yang menarik tengteng dari singapur ini bermerek Cheong Wo dan berhiaskan aksara hangul korea. Dikemas dalam bungkus yang handy dan dalam corak dan warna yang menarik. Tidak seperti tengteng yang bungkusnya hanya plastik tipis polos dan tampil kurang menarik, tengteng impor ini memberi sentuhan serius pada desain kemasannya.
Meski ada warna yang mencolok tetapi desain dominan transparan dan menonjolkan warna penganan itu sendiri. Warna natural dari tengteng impor ini seperti jaminan bahwa makanan ini bebas zat pewarna serta bahan-bahan buatan yang membuatnya jadi makanan yang aman dikonsumsi. Kalau produsen tengteng lokal sih lebih suka memberi warna pada makanannya sehingga tampak warnanya menjadi hijau atau merah cerah yang rasanya nggak mungkin menggunakan bahan pewarna makanan yang aman dikonsumsi mengingat harganya yang murah. Andai saya bisa membaca aksara korea dan tahu bahasanya (selain Annyong haseo dan Yoboseyo tentu saja hehehe) mungkin saya bisa membaca ingridents dan mungkin promise yang diberikan dalam kemasan tengteng impor.
Oh iya selain bermain pada kemasan, tengtengnya pun lebih bervariasi... ada beberapa varian lain yang memiliki bentuk partikel dan tekstur yang unik, sebagian malah dicampur dengan kacang (entah hazelnut atau apalah).
Satu lagi, studi tentang desain sebagai solusi.


No comments:
Post a Comment