Tuesday, February 21, 2006

Mulanya dari secangkir capuccino...

Mulanya dari secangkir capuccino yang disajikan sangat..sangat.. terlambat di ReMo, Mas Iqbal membongkar saya layer perlayer. Dari capuccino yang terlambat itu Mas Iqbal heran kenapa saya membiarkan saja keterlambatan itu tanpa banyak ribut atau menuntut. Sesuatu yang aneh menurut saya jika kita harus ribut hanya karena secangkir capuccino, bukankah akan lebih baik kalau kita menghindari meributkan hal-hal yang kecil... don't sweat a small stuff lah! Biarlah sesuatu hal terjadi, yang penting kan saya sudah berusaha untuk selalu bertanya dengan sopan ketika pelayan ReMo lewat. Kalau dia lupa sudahlah! Saya bisa maklum kalau mereka kaget, karena tidak biasanya ReMo seramai ini ketika PsikoPOP menggelar acaranya disini. Tapi tau pendapat Mas Iqbal? Dia membalik semua yang saya yakini selama ini, saya nggak pernah berfikir justru dengan sikap seperti itu sebenarnya saya sedang mencari aman, saya menghindari reaksi yang mungkin timbul jika saya melakukan cara-cara tidak sopan atau tidak biasa dalam mencoba mendapatakan hak saya. Mengapa? Karena saya menghindari berhadapan dengan situasi yang tidak dapat saya duga sebelumnya (ini seratus persen benar!).

Saya coba trackback semenjak dialog itu, dalam merancang satu pertemuan mungkin malam sebelumnya saya sudah memikirkan (atau tepatnya membayangkan) beberapa kemungkinan yang akan terjadi berikut respon yang akan digunakan. Saya suka membaca dan menyaksikan banyak film terutama tentang drama dan kemanusiaan... bukan semata-semata (dalam istilah saya) saya seorang humanis... tapi juga mencoba mencari referensi sebanyak-banyaknya dari literatur sebelum saya menghadapi kejadian yang sama atau mirip. Mungkin saya pintar... tapi kepintaran itu ada karena banyaknya literatur dan bukan karena saya bisa memikirkan reaksi yang tepat pada satu peristiwa. Mungkin ini bedanya saya dengan Kang Hendra, perbedaan pada improvisasi! Saya begitu saklek pada literatur hingga temen-temen K'rasa bilang saya textbook.

Karena saya tidak bisa memperhitungkan apa yang akan terjadi jika saya melakukan tindakan x maka saya memilih untuk tenang dan menahan diri. Suatu tindakan untuk mengamati dan mengkalkulasi apabila saya melakukan x, apakah hasil yang didapat adalah Y? atau jangan-jangan Z? jika cukup yakin dalam mengkalkulasi maka saya akan bertindak cepat sesuai dengan perhitungan.
Namun ada kalanya saya begitu muak pada kalkulasi dan membuang semua perhitungan-perhitungan dan berjalan hanya dengan insting. Srudak-sruduk memang... tapi biasanya ada progres meskipun kadang tampak tidak sopan... setidaknya it's work! seperti sniff and scurry dalam who moves my cheese, mereka begitu kurang perhitungan tapi merekalah yang survive dalam labirin.

Kesannya jelek ya? Tapi justru kata mas Iqbal kalau saya lebih memilih diam dan tidak berani mengambil sikap justru saya menjadi jahat, karena saya menghalangi dia untuk berkembang. Bukankah kata Einstein dunia ini rusak justru bukan karena perbuatan orang-orang jahat, tetapi oleh orang-orang baik yang melihat perbuatan itu tapi diam saja? Masih banyak hal yang kita dialogan malam itu, sampai jam sebelas malam! Sementara Talkshow "She Loves Me"nya menurut saya berjalan biasa-biasa saja... tapi ngobrol dengan Mas Iqbal teman sekaligus guru dan psikolog buat bener-bener membuat saya nggak rugi sudah datang malam minggu ini, meskipun dalam kondisi yang -kata Mas Iqbal- seperti pertapa di tengah keramaian.

Sunday, February 19, 2006

Rindu Rasul


Dua foto close up diambil dalam jarak dekat saat acara doa bersama di gasibu, ketika Hadad Alwi melantunkan doa-doa yang mengungkap kerinduannya pada Rasulullah...
Foto-foto ini menangkap ekspresi Aa dan teteh yang sangat jarang ditampilkan di media massa, Alhamdulillah saya bisa dapatkan hari ini.

Tuesday, February 14, 2006

elves...


Imbang namanya, sepanjang weekend kemarin gw retouch fotonya untuk seorang teman. Ada tujuh tepatnya foto yang di retouch tapi dari semuanya foto ini yang jadi favorit. Imaji yang timbul mengingatkan saya pada adegan Frodo Bagins and his companion bertemu bangsa elves yang tinggal di hutan, cahaya yang hangat dan soft, sedikit blur dan garis-garis cahaya. Rencananya foto ini dan enam lainnya akan diberikan hari ini, saat hari kasih sayang... how romantic...

Anak-anak ITB


Anak-anak ITB, rasanya seperti mimpi kuliah di ITB... universitas yang katanya hanya untuk anak-anak pintar (dan gila! karena ada DKV hehehe)makanya saya buat dalam imaji yang seperti realitas semu. Lalu siluet orang-orang yang mewakili anak-anak ITB dengan aktivitasnya di bawah bayang-bayang ganesha sang simbol pengetahuan.

Eskapisme


Minggu sore di Sekeloa, sambil nunggu teman di kosan yang mendadak harus "melapor" ke belakang. Di lorong-lorong yang sempit, anak-anak sudah kehilangan banyak tempat bermain. Ketika bangun tidur didepan rumah sudah menanti tembok yang tinggi begitu juga disamping dan dibelakang rumah mereka. Rumah-rumah yang bersesak-sesakan membuat suasana semakin sumpek, andai saja ada suatu tempat nun jauh disana bagi anak-anak dapat bermain riang dan lepas, dalam hamparan taman luas bak taman bagi dimpsi, lala dan pooh. Anak-anak butuh eskapisme, menuju dunia itu... dan kendaraan yang tampak di depan sang anak, seperti satu jalan untuk membawanya pergi.