Sudah terlalu malam sih tapi rasanya ingin sekali menuliskan ini...
Waktu itu malam hari di Kaliurang, kita sedang kumpul bareng mengelilingi api unggun. Hari itu makrab saya ingat sekali karena saya termasuk satu dari angkatan 97 yang datang... maklumlah baru kali inilah kita jadi "kakak". Hari –teman saya sejak SMA- ada di situ juga, namun walau begitu disini secara formal ya... saya tetap kakak kelasnya. Kami ngobrol biasa sih sebagai teman, ngobrol ngalor-ngidul tentang pengalaman masing-masing selama setahun kita nggak pernah ketemu juga tentang teman-teman Hari yang baru. Di saat itulah Hari mengenalkan saya pada seseorang... orang yang menurut saya ramah dan manis. Hanya sampai disitu sih, saya tidak bisa melangkah lebih jauh lagi karena selain memang saya tidak pernah melakukannya saat itu juga saya masih terikat dengan norma di DKM kampus. Ya saat itu saya masih aktif terjun dibidang dakwah kampus.
Tiga tahun setelah itu hampir saya tidak pernah mendengar kabar tentang dia, hingga suatu saat tanpa sengaja di tahun 2001 kami ujian TA bareng dan lulus ditahun itu juga. Saya ingat kata-kata dia terakhir saat akan ujian TA, saat-saat ketika kami menunggu untuk dipanggil dosen penguji. Waktu itu kami mengobrol soal materi branding yang saya tulis saat itu dan mimpi-mimpi saya untuk mewujudkan branding, tidak hanya sebatas teori tapi menjadi kenyataan. Saat itu ia support banget dan ia bilang agar saya berani menunjukannya didunia nyata, alasan-alasan yang ia kemukakan logis dan masuk akal. Itulah salah satu alasan mengapa saat ini branding menjadi semacam obsesi saya sampai saat ini.
Lalu tidak lama kitapun lulus bareng dan malam saat acara pelepasan wisudawan saya berpikir rasanya nggak mungkin kita bisa ketemu lagi... rasanya saat itulah saya bisa melihatnya untuk terakhir kali. Namun kemudian rasa itu tertutup oleh eforia sebagai wisudawan baru.
Lama setelah itu ternyata saya diterima untuk magang di MQS, itulah awal saya mengenal DT dan Aa Gym lebih dekat. Saat itu saya hanya sebagai penjaga counter MQS dan tanpa sengaja saya bertemu dengan Mbak Erlin -senior saya di kampus- saat saya sedang bertugas, ia bilang tentang kemungkinan saya bisa ikut sebagai visualizer ditempatnya bekerja. Dan itulah awal pertemuan kami kembali. Tidak lama saya ditarik Pak Dudung yang baru keluar dari MQS untuk berwiraswasta... dan pada saat berbarengan Aa ingin mendirikan sebuah corporation dan kemudian masuklah Mbak Erlin dan timnya untuk mendirikan agency di MQ. Banyak kejadian kebetulan yang saling kait-mengait... termasuk ia yang berada di tim itu.
Semenjak itu barulah saya benar-benar bisa mengenal dia, dia nggak banyak berubah kala terakhir kami bertemu. Namun ia menjadi jauh berbeda ketika seseorang masuk dan mengubah keadaan. Saat itupun perusahaan mulai menjadi terbagi dalam dua kelompok, ada dua kekuatan yang berpengaruh di kantor. Saya tidak ingin terjebak saya berusaha netral meskipun kecondongan saya tetap menekankan kesederhanaan bersikap, maklumlah hasil didikan Jogja. Tapi ia berubah... seolah Jogja tidak pernah hadir dalam hidupnya.
Akhirnya perbedaan memuncak, hingga pada akhirnya Aa membagi perusahaan menjadi dua dan dimulailah babak baru. Selama dalam perusahaan berbeda saya banyak mendengar kabar kurang baik tentang dia, agak sedih memang namun saya pernah mendapat keterangan dari Aris yang merupakan teman sekolahnya waktu SMA. Aris bilang ia tergantung pada orang yang ia ikuti, kalau orangnya baik maka ia bisa menjadi baik, dan itulah yang saya yakini hingga kini. Sampai disini saya masih menyangkal ada "sesuatu" dalam diri, bahkan pada saat saya sedang akrab-akrabnya dengan Dewi sampai digosipin macam-macam yang saya ingat pertama saat pulang justru bukan Dewi... tapi dia.
Saat bete juga dia bisa membantu menghilangkan perasaan itu dan bisa menularkan aura cerianya... tapi terkadang bisa juga berlaku sebaliknya he..he..he...
Bagaimanapun saat terakhir bertemu lagi dengan dia anehnya ada perasaan... sayang, seperti sayangnya kakak ke adik. Rasanya bukan “nafs”, memang sih dia cantik tapi bukan ketertarikan seperti itu. Terkadang saya malah sebel dengan sikap dan tingkah lakunya, sampai-sampai di friendster saya tulis kalau dia adalah temen yang kalau jauh bikin kangen tapi kalau deket bikin sebel. he..he..he
Karena itu saya sampai rela malam-malam ke Ultimus untuk cari buku buat dia, hanya karena saya jadi terpaksa janji dengan dia. Aneh ya? seseorang bisa begitu mempengaruhi kita dan mengubah hidup kita. Tapi apakah saya bisa mengubah arah hidup dia? Entahlah itu masih menjadi tanda tanya besar buat saya hingga kini. Namun jika seseorang yang nyata tidak bisa mengubahnya bisakah seseorang yang tak nyata mengubahnya... seperti apa yang dilakukan seorang Minke kepada saya. Minke adalah tokoh imajinatif yang diangkat oleh Pramoedya dari kisah nyata seorang Raden Mas Tirto Adisuryo, jejak-jejaknya dalam empat buku yang mengurai kebangkitannya menjadi seorang manusia dewasa dan gagah telah menginspirasi banyak orang. Jika memang benar teorinya Hernowo bahwa buku atau teks adalah makanan jiwa dan penggerak bagi pikiran kita, saya harap “Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran” adalah awal...
...dan jika saatnya tiba saya harap dia akan menemukan yang terbaik bagi dirinya siapapun itu, meskipun orang itu bukan saya...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment