Saturday, May 13, 2006

Books Days Out 5

Ke Booksdaysout pagi ini, terlalu pagi malah... Tidar masih tutup sih jadi ya mampir dulu ke tobucil daripada bengong di Cihapit.
Seperti biasa buku-bukunya banyak dan bikin mupeng, sebagian luar negeri dan Indonesia juga banyak. Ada buku-buku yang hanya di jual goceng! itu juga novel luar, ya jangan tanya judul bukunya tapi kalau niat pengen ngelancarin reading boleh juga dikoleksi. Ketemu dengan Mbak Tarlen, Mbak Iit dengan suami dan bunga (anaknya), juga mbak Rani... sempat nanya soal pelatihan penulisan review film ke Mbak Rani. Dan ternyata pesertanya sudah 12 orang dari 10 orang yang diminta... yaaaa telat sih taunya hehehe...
Mas Anwar dan keluarga juga ada, kayaknya mereka bener2 keluarga yang suka buku deh. Jadi keingetan dialog istri mas Anwar dengan anaknya pas milih-milih buku, bahasanya baku sekali. Tapi asiknya si mbak tidak hanya bilang mau yang mana terus di belikan, tapi si mbak ngajak dialog dulu... "Nah ini kan ada buku tentang anak hewan, yang ini juga bagus... kalau ibu boleh sarankan sebaiknya beli juga buku-buku lain. Tentang dinosaurus kan sudah banyak..." begitu kira-kira (kalau kalimat bakunya kira-kira seperti itulah hehehe). Tapi akhirnya si anaklah yang menang, sesaat kemudian dia sedang asik membaca buku tentang dinosaurus di sebuah kursi dekat kasir. Kayaknya asik banget ya? Meski ibu dan anak, nggak semata-mata pengen ini debelikan atau dilarang. Tapi si anak di ajak untuk berdiskusi dulu mengenai pilihannya, meskipun si anak keukeuh dengan pilihannya setidaknya si anak memilih sudah dengan alasan-alasan yang bisa diterima. Jadi tidak terbiasa dengan kata-kata pokoknya...
Sedangkan gw memilih sebuah buku tentang budaya sunda, seri sundalana edisi 3. Bukan apa2 sih, tapi disana ada 2 tulisan Raden Dewi Sartika pendiri sakola kautamaan istri. gw jadi penasaran ketika ada 2 teman yang berdialog soal kenapa RA Kartini namanya jauh lebih terdengar di banding R. Dewi Sartika... kesimpulan mereka adalah karena RA Kartini menulis. Ternyata memang benar Dewi Sartika jarang menulis, tapi beliau menulis 2 buku (satu buku transkrip pidatonya dalam acara ulang tahun sakola kautamaan istri, sementara satu lagi terdapat dalam buku kumpulan tulisan dalam bahasa belanda). Jadi setidaknya alasan RA Kartini semata-mata menulis gugur dengan sendirinya, yang membedakan hanyalah kepada siapa mereka menulis. Yups, RA kartini menulis kepada nyonya Abendanon yang suaminya merupakan mentri Onderwijs (sejenis pendidkan dan kebudayaan) saat itu. Lagipula saat itu juga sedang ramai-ramainya politik etik di Belanda... dan RA Kartini menjadi contoh wanita pribumi yang berfikiran maju saat itu. Sementara itu Dewi Sartika? Beliau sih hanya bekerja tanpa banyak cakap mendirikan Sakola Kautamaan Istri dan cabang-cabangnya menyebar ke seluruh Priangan. RA Kartini berjuang di pemikiran sementara Dewi Sartika lebih ke hal praktis, dua wanita hebat ini saling melengkapi dalam perjuangannya meningkatkan harkat kaum wanita Indonesia. Mungkin saja mereka berdua pernah bertemu dan bertukar pikiran walaupun hanya lewat surat.... mungkin saja.

No comments: